Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Bupati Ipuk Ungkap Kunci Sukses Pariwisata Banyuwangi di Hadapan Wali Kota Padang Panjang dan Bupati Malang

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Kabupaten Banyuwangi kembali menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan pariwisata berbasis budaya. Di hadapan Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis dan Bupati Malang M. Sanusi, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memaparkan strategi kunci yang mendorong lonjakan kinerja daerahnya.

Kunjungan dua kepala daerah tersebut ke Banyuwangi, Kamis (9/4/2026), bukan sekadar seremonial. Agenda utamanya adalah menggali praktik terbaik (best practices) pengembangan pariwisata yang dinilai berhasil mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga identitas budaya lokal.

BACA JUGA : Komunikasi Sosial Anggota Satgas TMMD, Bersama Guru dan Murid Bantu Bersihkan Halaman Sekolah Minggu Vihara Vimalakirti

Hendri Arnis menegaskan, perubahan Banyuwangi dalam 15 tahun terakhir sangat signifikan. Ia mengaku terkesan dengan transformasi yang terjadi sejak kunjungan pertamanya pada 2011.

“Perubahannya sangat luar biasa. Kami ingin mempelajari faktor utama yang mendorong kemajuan Banyuwangi, khususnya di sektor pariwisata,” ujarnya.

Menurutnya, kekuatan utama Banyuwangi terletak pada kemampuannya mengawinkan promosi digital dengan penguatan budaya lokal. Berbagai event yang dihadirkan dinilai tidak hanya atraktif, tetapi juga memiliki identitas yang kuat.

“Kami mengikuti dari media sosial. Event budaya di Banyuwangi dikemas modern tanpa kehilangan akar tradisinya,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Bupati Malang, M. Sanusi. Ia menilai Banyuwangi berhasil memanfaatkan potensi daerah secara optimal, termasuk dalam aspek pembiayaan pembangunan.

“Kami ingin belajar, bagaimana Banyuwangi mengelola berbagai alternatif pembiayaan untuk mendorong kemajuan daerah,” kata Sanusi.

Dalam paparannya, Ipuk menegaskan bahwa keterbatasan fiskal justru menjadi pemicu inovasi. Dengan wilayah luas dan jumlah penduduk mencapai 1,7 juta jiwa, Banyuwangi dituntut cermat menentukan prioritas pembangunan.

“Kami menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Bukan sekadar menarik wisatawan, tapi harus berdampak langsung pada warga,” tegas Ipuk.

Ia menjelaskan, pendekatan yang digunakan adalah konsep 3A (Aksesibilitas, Atraksi, Amenitas). Ketiga aspek ini dipastikan berjalan beriringan agar ekosistem pariwisata tumbuh berkelanjutan.

Namun, diferensiasi utama Banyuwangi bukan hanya pada konsep tersebut, melainkan pada pelibatan masyarakat.

“Kami bersyukur warga Banyuwangi sangat bangga dengan budayanya. Ini menjadi kekuatan utama, karena ide pemerintah nyambung dengan masyarakat,” ujarnya.

Alih-alih ditinggalkan, tradisi lokal justru diangkat menjadi tulang punggung pariwisata melalui Banyuwangi Festival. Event ini menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dikemas dengan manajemen modern.

“Tradisi yang sudah hidup turun-temurun kami kurasi dan kemas lebih menarik. Banyak event justru lahir dari inisiatif warga,” kata Ipuk.

Pendekatan ini terbukti efektif. Selain meningkatkan daya tarik wisata, juga memperkuat sense of ownership masyarakat terhadap pembangunan daerah.

Strategi tersebut berdampak langsung pada indikator makro daerah. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi pada 2025 tercatat 5,65 persen, naik dari 4,68 persen pada 2024. Di sisi lain, angka kemiskinan juga menunjukkan tren penurunan, dari 6,54 persen (2024) menjadi 6,13 persen (2025).

Capaian ini mempertegas bahwa pengembangan pariwisata berbasis budaya bukan sekadar branding, melainkan instrumen efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Kunjungan Wali Kota Padang Panjang dan Bupati Malang menjadi indikasi kuat, bahwa model Banyuwangi mulai dilirik untuk direplikasi di daerah lain.

Dengan kombinasi inovasi kebijakan, penguatan budaya lokal, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat, Banyuwangi menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi lokomotif pembangunan yang berkelanjutan.

Di tengah persaingan antar daerah, strategi ini menjadi pembeda sekaligus bukti bahwa identitas lokal bukan hambatan, melainkan aset utama untuk maju. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
INKA Banyuwangi Kirim 60 Gerbong Datar ke Palembang, Perkuat Logistik Batu Bara Sumatera
Next Article
Raffi Ahmad hingga Ariel NOAH Eksplor Banyuwangi, Efek Promosi Wisata Diprediksi Melejit

Related to this topic:

Be the first to write a comment.