Senggigi, Lombok Barat||bratapos.com – Dalam rangka menyambut datangnya bulan Safar 1448 Hijriah, Pengurus Masjid Nurul Iman Senggigi bersama masyarakat kembali menggelar tradisi memasak dan membagikan Bubur Beak, sebuah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Sasak sebagai bagian dari syiar Islam yang sarat makna kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Jum'at malam (31/7/26).
Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai kalangan bergotong royong menyiapkan bahan, memasak, hingga membagikan Bubur Beak kepada jamaah dan warga yang hadir. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi media dakwah untuk mengingatkan pentingnya persatuan dan kepedulian sosial.
BACA JUGA :
Bupati Deli Serdang Ikuti Raker dan RDP Komisi II DPR RI Bahas Penataan PPPK dan Honorer
Dalam tausiahnya,"TGH. M. TAISIR AL- AZHAR, L.C, S.Ag.MA." menjelaskan bahwa masyarakat tidak boleh meyakini bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan. Menurut beliau, dalam ajaran Islam seluruh bulan adalah ciptaan Allah SWT yang sama-sama mulia, sehingga tidak ada satu pun bulan yang menjadi sumber kesialan atau musibah.
Beliau juga menguraikan makna filosofis Bubur Beak yang hidup dalam tradisi masyarakat Sasak. Kata "beak" dipahami sebagai simbol keberanian. Keberanian yang dimaksud bukan sekadar keberanian secara fisik, melainkan keberanian dalam mempertahankan keimanan, menegakkan kebenaran, berbuat jujur, menghadapi berbagai ujian kehidupan, serta berani meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah SWT.
"Makna Bubur Beak bukan terletak pada makanannya semata, tetapi pada nilai yang dikandungnya. Bagi masyarakat Sasak, Bubur Beak menjadi simbol agar setiap muslim memiliki keberanian dalam menjalani kehidupan dengan tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, berani berkata benar, dan berani menjaga persatuan," jelas TGH. Taisir, Lc.MA..
Beliau menegaskan bahwa tradisi Bubur Beak bukanlah ritual untuk menolak bala atau menghindari kesialan. Tradisi ini merupakan budaya yang dapat terus dilestarikan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Nilai utamanya adalah memperbanyak doa, mempererat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan semangat berbagi, serta menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Menurut beliau, keberanian yang menjadi simbol Bubur Beak juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berani menolong sesama, berani menjaga amanah, berani melawan hawa nafsu, serta berani menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.
Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekeluargaan tersebut diakhiri dengan doa bersama dan pembagian Bubur Beak kepada seluruh jamaah. Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal dapat berjalan selaras dengan ajaran Islam apabila dipahami secara benar dan dijadikan sebagai sarana memperkuat keimanan, persaudaraan, serta kepedulian sosial.
Melalui kegiatan ini, masyarakat dsn.Senggigi berharap tradisi Bubur Beak tetap lestari sebagai warisan budaya Sasak yang mengandung pesan moral tentang keberanian, persatuan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Allah SWT, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal tradisinya, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Prev Article
Diduga Kemahalan Pavingisasi Dusun Wonosari Desa Klantingsari Kecamatan Tarik
Next Article
Oknum Advokat Dilaporkan ke Polrestabes Surabaya atas Dugaan Penipuan Rp520 Juta, Kuasa Hukum: Jangan Nodai Profesi Advokat