Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Opini: Ketika Dokumenter Menjadi Medan Pertarungan Narasi

Oleh Witnyo. S. Psi

 

BACA JUGA : A Moment of Togetherness Ahead of Eid al-Adha 1447 H at Mr.ABBAS Senggigi's Residence

Gresik | bratapos.com - Di era media sosial hari ini, sebuah film dokumenter tidak lagi sekadar karya visual, tetapi telah berubah menjadi alat pertarungan opini publik. Polemik mengenai film dokumenter Pesta Babi membuktikan bahwa masyarakat Indonesia semakin sensitif terhadap isu Papua, nasionalisme, dan kebebasan berekspresi.

 

Sebagian pihak menilai film tersebut sebagai bentuk kritik sosial yang sah dalam negara demokrasi. Namun sebagian lain melihat adanya framing yang dianggap menyudutkan pemerintah, aparat, dan program pembangunan nasional. Perdebatan ini akhirnya tidak lagi membahas substansi secara tenang, melainkan berubah menjadi saling serang opini di ruang digital.

 

Dari sudut pandang psikologi sosial, kondisi seperti ini menunjukkan masyarakat sedang berada dalam fase polarisasi. Media sosial membuat setiap orang mudah membentuk kubu sendiri, lalu memperkuat keyakinannya melalui informasi yang sejalan dengan pikirannya. Akibatnya, diskusi publik lebih dipenuhi emosi dibanding dialog sehat.

 

Bahasa-bahasa keras seperti “propaganda”, “penjajah”, atau “anti negara” memang cepat menarik perhatian publik. Namun jika terus dipakai tanpa ruang klarifikasi dan keseimbangan informasi, masyarakat bisa kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih. Yang muncul hanyalah rasa marah, curiga, dan saling membenci.

 

Dokumenter seharusnya menjadi ruang refleksi dan pencarian fakta, bukan alat untuk memperbesar luka sosial. Begitu pula kritik terhadap sebuah karya seharusnya dilakukan dengan argumen yang sehat, bukan hanya serangan emosional. Karena ketika semua pihak hanya ingin menang sendiri, maka yang kalah adalah persatuan masyarakat itu sendiri.

 

Indonesia membutuhkan komunikasi publik yang lebih dewasa. Kritik boleh keras, tetapi tetap berbasis data. Kebebasan berekspresi harus dijaga, namun tanggung jawab sosial juga tidak boleh hilang. Sebab dalam isu sensitif seperti Papua, satu narasi yang tidak terkendali dapat memicu dampak panjang di tengah masyarakat.

 

Tulisan ini dibantu dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu penyusunan bahasa dan struktur penulisan.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Momen Kelulusan Berubah Viral Gara-Gara Ayah Terlalu Muda
Next Article
Dicover BPJS, Layanan Kemoterapi RSUD Blambangan Banyuwangi Resmi Beroperasi Juni 2026

Related to this topic:

Be the first to write a comment.