Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Puncak Puthuk Giri Banyuwangi: Jejak Spiritual Ibu Sunan Giri yang Sarat Sejarah dan Tragedi

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Di balik rimbunnya vegetasi dan sunyinya perbukitan di kawasan Giri, Banyuwangi, berdiri sebuah situs spiritual yang tak pernah sepi peziarah. Puncak Puthuk Giri menjadi rumah bagi Makam Buyut Sayu Atika, sosok yang diyakini sebagai Dewi Sekardadu, ibu dari Sunan Giri, salah satu tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Berada jauh dari hiruk-pikuk kota, lokasi ini justru menawarkan ketenangan yang menjadi daya tarik utama. Ribuan peziarah dari berbagai daerah datang silih berganti, menapaki jalur pendakian demi memanjatkan doa dan mencari keberkahan di pusara yang sarat nilai historis dan spiritual tersebut.

BACA JUGA : Dekopinda Dituntut Perkuat Kolaborasi, Wujudkan Koperasi Modern dan Berdaya Saing

Destinasi Religi yang Terus Hidup

Bagi masyarakat Banyuwangi, makam Buyut Sayu Atika bukan sekadar situs ziarah biasa. Tempat ini telah berkembang menjadi destinasi wisata religi unggulan yang mempertemukan dimensi sejarah, spiritualitas, dan budaya lokal.

Akses menuju lokasi relatif mudah. Salah satu jalur favorit peziarah dimulai dari belakang Masjid Baitul Ma’wa di kawasan Jalan Raden Wijaya, Lingkungan Payaman, Kelurahan Giri. Meski harus menempuh perjalanan menanjak, suasana sejuk dan asri menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang dicari para pengunjung.

Sosok Dewi Sekardadu dalam Lintasan Sejarah

Juru pelihara makam, Jum’ali, menuturkan bahwa Buyut Sayu Atika diyakini sebagai Dewi Sekardadu, putri Raja Blambangan, Prabu Minak Sembuyu.

“Beliau adalah ibunda dari Sunan Giri, hasil pernikahan dengan Syekh Maulana Ishak. Dari rahim beliau lahir salah satu tokoh besar penyebar Islam di tanah Jawa,” ujarnya, Jum'at (17/4/2026).

Kisah Dewi Sekardadu tak lepas dari dinamika besar Kerajaan Blambangan di masa lampau. Diceritakan, wilayah tersebut pernah dilanda wabah misterius mematikan. Dalam kondisi krisis, sang raja menggelar sayembara: siapa pun yang mampu menyembuhkan wabah dan putrinya akan dinikahkan dengan sang dewi.

Syekh Maulana Ishak tampil sebagai sosok yang berhasil mengatasi wabah tersebut. Ia pun menikahi Dewi Sekardadu, menandai awal perubahan besar dalam lanskap kepercayaan di Blambangan.

Konflik, Pengasingan, dan Tragedi

Namun, kehadiran Maulana Ishak memicu ketegangan dengan pihak kerajaan. Ia dituding membawa ajaran baru yang dianggap mengancam tatanan lama berbasis Hindu. Konflik ideologis pun tak terhindarkan.

Demi meredam gejolak, Maulana Ishak memilih meninggalkan Blambangan, saat istrinya tengah mengandung. Situasi semakin memburuk ketika Prabu Minak Sembuyu murka dan mengusir Dewi Sekardadu.

Tragedi mencapai puncaknya, saat bayi yang baru dilahirkan diperintahkan untuk dibuang ke laut dalam sebuah peti kayu. Sang ibu, diliputi naluri dan cinta yang tak terbendung, berusaha menyelamatkan bayinya dengan menerjang ombak.

Namun, takdir berkata lain. Dewi Sekardadu gugur dalam upaya tersebut, tenggelam bersama duka yang tak terperi. Sementara bayi itu kelak ditemukan dan dibesarkan hingga dikenal sebagai Sunan Giri.

Memori Kolektif yang Terjaga

Kisah tragis penuh pengorbanan ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Puncak Puthuk Giri bukan hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang refleksi atas sejarah panjang, konflik peradaban, dan keteguhan iman.

Hingga kini, aura sakral di kawasan tersebut tetap terjaga. Di tengah keheningan bukit, para peziarah datang bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga menapaktilasi jejak seorang ibu yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islam di tanah Jawa. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Hari Kesadaran Nasional, Wabup Banyuwangi Minta ASN Lebih Adaptif dan Inovatif
Next Article
Audrey Bianca Angkat Desa Adat Osing Kemiren ke Panggung Global Miss World 2026

Related to this topic:

Be the first to write a comment.