Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Dosen Sosiologi Unram Dampingi Guru SMAN 1 Pujut, Dorong Pembelajaran Sensitif Gender dan Berkeadilan

LOMBOK TENGAH||bratapos.com — Tim dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) turun langsung mendampingi guru Sosiologi SMAN 1 Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, melalui program Pengabdian Pada Masyarakat (PPM).

Kegiatan yang diketuai Drs. H. Masyhuri, M.Si., tersebut diarahkan untuk memperkuat kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran Sosiologi yang sensitif terhadap isu gender sekaligus mendorong kesadaran tentang kesetaraan sosial.

BACA JUGA : Bangun Budaya Taat Hukum Sejak Dini, Dosen PPKn FKIP Unram Dampingi Guru di Lombok Utara

Langkah tersebut dinilai penting karena realitas sosial di Kecamatan Pujut masih dipengaruhi oleh nilai-nilai tradisional dan budaya patriarki. Kondisi itu dapat berkelindan dengan persoalan pembagian peran sosial, stereotip gender hingga kerentanan perkawinan anak.

Dalam konteks tersebut, sekolah tidak hanya dituntut menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam membangun kemampuan siswa membaca dan memahami berbagai persoalan sosial secara kritis.

“Melalui pembelajaran Sosiologi, guru memiliki peran strategis untuk menanamkan nilai kesadaran gender dan kesetaraan sosial. Hal ini penting agar sekolah tidak sekadar menjadi ruang akademik, tetapi juga menjadi ruang transformasi sosial yang inklusif dan berkeadilan,” ujar Masyhuri.

Mengangkat Persoalan Sosial dari Lingkungan Sekitar

Dalam pendampingan tersebut, tim pengabdian memaparkan sejumlah temuan riset mengenai kondisi sosial di Kecamatan Pujut. Di antaranya berkaitan dengan hambatan akses pendidikan akibat norma adat, terbatasnya ruang partisipasi ekonomi perempuan di sektor pertanian lahan kering, serta kerentanan perkawinan anak.

Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran karena ketidakadilan gender dan ketidaksetaraan sosial tidak berdiri sendiri. Keduanya dapat dipengaruhi oleh konstruksi budaya dan norma sosial yang berkembang di masyarakat.

Karena itu, guru didorong untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu mengajak peserta didik memahami realitas sosial di lingkungan mereka secara objektif dan kritis.

Pendampingan dilakukan secara sistematis melalui beberapa tahapan, mulai dari analisis kebutuhan mitra, diskusi konseptual hingga penyusunan perangkat pembelajaran bersama guru sasaran.

Tak Sekadar Teori, Guru Hasilkan Modul Ajar Responsif Gender

Hasil evaluasi menunjukkan adanya penguatan pemahaman konseptual guru Sosiologi SMAN 1 Pujut terkait isu gender dan kesetaraan sosial.

Guru mendapatkan penguatan mengenai perbedaan antara jenis kelamin (sex) sebagai aspek biologis dan gender sebagai konstruksi sosial-budaya. Pemahaman tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun lingkungan belajar yang adil dan bebas dari diskriminasi.

Yang menarik, program ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Tim pengabdian bersama guru juga menghasilkan produk konkret berupa modul ajar Sosiologi, khususnya pada materi nilai dan norma sosial, yang telah mengintegrasikan perspektif kesadaran gender dan kesetaraan sosial.

Perspektif tersebut diterapkan dalam tujuan pembelajaran, pertanyaan pemantik berbasis studi kasus lokal, lembar kerja peserta didik (LKPD), hingga instrumen asesmen yang responsif gender.

Sekolah Didorong Menjadi Ruang Transformasi Sosial

Pihak SMAN 1 Pujut menyambut positif program pendampingan yang dilakukan tim pengabdian Unram.

Pendampingan tersebut dinilai membantu guru menghadirkan pembelajaran Sosiologi yang lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan realitas sosial yang dihadapi peserta didik sehari-hari di Lombok Tengah.

Program ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran Sosiologi dapat ditempatkan lebih jauh dari sekadar penguasaan konsep di ruang kelas. Melalui materi yang dikaitkan dengan realitas sosial, sekolah dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di sekitarnya, memahami akar masalah, serta membangun kesadaran tentang pentingnya kesetaraan dan kehidupan sosial yang inklusif.

Dengan pendekatan tersebut, penguatan kapasitas guru bukan hanya berdampak pada proses pembelajaran, tetapi juga membuka ruang bagi pendidikan untuk ikut merespons berbagai tantangan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
PPKn Berdampak, Dosen Unram Dorong Siswa Madrasah Jadikan Peduli Lingkungan sebagai Sikap Warga Negara
Next Article
Masuki Babak Baru, Kasus Penganiayaan Anak Kandung, Ayah dan Kakek di Ponorogo Disidang Hari Ini

Related to this topic:

Be the first to write a comment.