BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Puncak Kirab Budaya bertajuk Tapanrejo Wonder Carnival 2026 dalam rangka memperingati Hari Jadi Desa (Harjades) sekaligus Bersih Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, berlangsung semarak, Sabtu (19/9/2026) petang.
Sebanyak 16 truk sound system berdaya besar (sound horeg) yang dilengkapi tata cahaya (lighting) turut ambil bagian dalam kirab. Kendaraan tersebut merupakan perwakilan dari sejumlah dusun di Desa Tapanrejo yang digawangi para pemuda.
BACA JUGA :
Dana BK Provinsi Jatim Diduga Bermasalah, Proyek Jalan Usaha Tani di Pejangkungan Disorot
Kehadiran belasan sound system tersebut menjadi salah satu daya tarik utama. Ribuan masyarakat memadati sejumlah titik sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan perpaduan musik, lighting, kostum, ornamen, dan atraksi seni yang ditampilkan para peserta.
Rute kirab dimulai dari Pasar Tapanrejo dan berakhir di kawasan Kedungdandang Timur (Raung). Seluruh peserta menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer dengan membawa konsep dan kreativitas masing-masing.
Tidak sekadar mengandalkan kekuatan audio, setiap kendaraan juga dihias dengan tata cahaya yang ditempatkan mengelilingi perangkat sound system. Sorotan lampu yang bergerak mengikuti irama musik, menghadirkan pertunjukan audio-visual yang menjadi magnet bagi masyarakat di sepanjang rute.
Ketua Panitia sekaligus Sekretaris Desa (Sekdes) Tapanrejo, Audi Yuandrianto alias Udit, mengatakan pelaksanaan Tapanrejo Wonder Carnival 2026 tetap mengacu pada ketentuan yang telah disepakati terkait penggunaan sound system.
Menurutnya, pengaturan tersebut mencakup jumlah perangkat, batas volume suara, waktu pelaksanaan, hingga kewajiban menurunkan atau mematikan suara ketika peserta melewati kawasan tertentu.
“Penggunaan sound system maksimal enam subwoofer (sub) dengan batas volume suara maksimal 85 desibel (dB),” jelas Audi.
Selain itu, rangkaian kegiatan ditargetkan selesai paling lambat pukul 22.00 WIB. Peserta juga diwajibkan menurunkan volume atau mematikan suara ketika rombongan melintasi kawasan sensitif, seperti masjid atau musala, fasilitas kesehatan, serta lingkungan sekolah.
"Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya panitia, agar kemeriahan kirab budaya tetap berjalan seiring dengan ketertiban dan kenyamanan masyarakat," ujarnya.
Tahun ini, Tapanrejo Wonder Carnival 2026 mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika melalui beragam kostum adat Nusantara dan atraksi seni yang menggambarkan keberagaman budaya masyarakat.
Para peserta juga membawakan sejumlah tarian yang lazim ditampilkan dalam pertunjukan sound horeg. Atraksi tersebut menjadi bagian dari pertunjukan sepanjang perjalanan dan membuat suasana kirab semakin meriah.
Sejumlah penari tampil menggunakan kostum adat Nusantara. Bahkan, terdapat peserta yang mengadopsi konsep busana dan visual yang terinspirasi dari Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Perpaduan antara seni tradisional, kreativitas pemuda, musik, tata cahaya, dan kostum menjadikan kirab tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga ruang ekspresi bagi generasi muda Desa Tapanrejo.
Di balik kemeriahan yang tersaji di sepanjang jalur kirab, terdapat proses panjang yang dilakukan para pemuda. Salah satu ketua peserta kirab budaya, Kojin, mengatakan persiapan untuk mengikuti kegiatan tersebut telah dilakukan kurang lebih selama satu tahun.
“Ini tidak instan. Kurang lebih satu tahun kami konsep dan persiapkan, sampai akhirnya hari ini bisa terlaksana,” ujar Kojin.
Menurutnya, proses tersebut mencakup pembahasan konsep, persiapan peserta, penyusunan ornamen, kostum, hingga kesiapan teknis kendaraan dan sound system.
Hal senada disampaikan Ketua Pemuda perwakilan Dusun Krajan, RT 05/RW 02, Desa Tapanrejo, Ricky. Ia mengatakan konsep kirab budaya dengan kemasan sound system tersebut dibangun melalui proses bersama para pemuda yang tergabung dalam YMJ.
“Kami mempersiapkan sejak satu tahun lalu. Konsep kirab budaya dengan kemasan sound horeg ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui proses pembahasan dan persiapan bersama,” kata Ricky.
Menurut Ricky, kegiatan tersebut tidak semata-mata tentang menghadirkan dentuman musik. Di balik pertunjukan tersebut terdapat keinginan para pemuda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengambil bagian dalam perayaan Hari Jadi Desa Tapanrejo.
Para pemuda bergotong royong mempersiapkan berbagai kebutuhan, agar penampilannya dapat maksimal saat berada di sepanjang jalur kirab. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sound system dan perlengkapan lainnya, mereka mengandalkan swadaya melalui iuran para pemuda.
“Iringan musik dan penampilan ini menjadi ruang bagi kami untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempererat kekompakan pemuda. Kami bersepakat, semua biaya dengan swadaya melalui iuran bersama,” ungkapnya.
Ricky berharap keterlibatan pemuda dalam Tapanrejo Wonder Carnival 2026, dapat menjadi pengalaman positif sekaligus memperkuat kebersamaan di lingkungan Dusun Krajan.
Dengan melibatkan 16 kendaraan sound system, berbagai kostum, lighting, serta atraksi seni, Tapanrejo Wonder Carnival 2026 menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian perayaan Harjades dan Bersih Desa Tapanrejo. Meski menghadirkan banyak peserta dan perangkat sound system, rangkaian kirab berlangsung dengan tertib sesuai ketentuan yang disampaikan panitia.
Di balik kemeriahan musik dan sorotan lighting, terselip cerita tentang proses panjang, gotong royong, swadaya, dan kreativitas para pemuda dalam mempersiapkan penampilan mereka selama berbulan-bulan.
Tapanrejo Wonder Carnival 2026 bukan sekadar kirab budaya, tetapi juga menjadi panggung kreativitas pemuda dalam merayakan identitas, keberagaman, dan kebersamaan masyarakat Desa Tapanrejo. (rag/bp-bwi)