Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Sapa Santri RMI Banyuwangi: Bangun Generasi Pesantren Berakhlak, Sehat Mental dan Bebas Narkoba

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Pesantren kini dituntut tidak hanya mencetak generasi yang unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga mampu membentuk pribadi yang sehat secara fisik dan mental, tangguh menghadapi tantangan zaman, serta memiliki karakter sosial yang kuat. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Cabang Banyuwangi menggelar program Sapa Santri di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan pesantren yang lebih komprehensif melalui penguatan kesehatan mental, kesehatan reproduksi, ketahanan keluarga, literasi digital, pencegahan perundungan (bullying), hingga edukasi bahaya penyalahgunaan narkoba.

BACA JUGA : Sasaran TMMD Ke-129 Kodim 0208/Ponorogo Paving Jalan Poros Desa Sepanjang 1 KM

Program tersebut terlaksana berkat kolaborasi lintas lembaga, yakni Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, RSNU Banyuwangi, Klinik Didik Sulasmono (KDS), serta Universitas Islam KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung.

Melalui sinergi tersebut, para santri memperoleh pembekalan yang tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa, membentuk relasi sosial yang sehat, serta menciptakan lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan mencerminkan nilai-nilai rahmatan lil 'alamin.

Dewan Pakar LKKNU Cabang Banyuwangi, H. Syafaat, S.H., M.H.I., menegaskan bahwa madrasah dan pesantren merupakan model pendidikan yang mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan pembentukan karakter dan akhlak.

Menurutnya, lulusan pesantren diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga integritas moral, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.

"Pesantren harus mampu melahirkan generasi yang cerdas, berilmu, kompeten, sekaligus berakhlakul karimah dengan fondasi nilai-nilai Islam," ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digelar LKKNU Banyuwangi bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Program ini dirancang sebagai ruang edukasi bagi santri untuk memahami pembentukan karakter, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, ketahanan keluarga, hingga literasi digital agar mampu menghadapi dinamika kehidupan di era modern tanpa kehilangan jati diri sebagai santri.

Materi disampaikan oleh para akademisi, psikolog, penghulu, penyuluh agama Islam, serta praktisi kesehatan melalui pendekatan ilmiah yang tetap berpijak pada ajaran Islam.

Narasumber yang hadir antara lain Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., Coach Ahmad Syamsul Muarif, S.Sos., M.A., CH., CMH., CHt., CPS., CT.KLTC., CN.NLP., CI., Nurin Baroroh, M.Psi., Psikolog, serta Halimatus Sa'diah, S.Psi., M.A.

Mereka menekankan bahwa kesehatan mental, kematangan berpikir, kemampuan mengelola emosi, dan kesiapan membangun keluarga merupakan bagian penting dalam proses pendewasaan seorang muslim.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menegaskan bahwa pembinaan remaja merupakan investasi jangka panjang dalam membangun keluarga yang berkualitas.

Ia memperkenalkan konsep keluarga maslahat, yakni keluarga yang dibangun atas dasar keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, serta semangat menghadirkan kemanfaatan bagi lingkungan. Menurutnya, kualitas keluarga akan sangat menentukan kualitas masyarakat dan peradaban di masa mendatang.

Aspek kesehatan menjadi salah satu fokus utama dalam kegiatan tersebut melalui keterlibatan LKNU Banyuwangi yang dipimpin dr. Sabik bersama Sekretaris Bd. Diah Fitrianiingsih, dengan dukungan tenaga medis dari RSNU Banyuwangi dan Klinik Didik Sulasmono (KDS).

Para santri memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebagai implementasi nilai hifzh an-nafs atau menjaga jiwa, yang merupakan salah satu tujuan utama syariat Islam (maqashid syariah). Selain itu, peserta juga diajak membangun budaya pesantren yang bebas dari perundungan, kekerasan, diskriminasi, maupun penyalahgunaan narkoba.

Dari unsur Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir H. Lukman Hakim, Kepala KUA Tegaldlimo sekaligus pengurus LFNU Banyuwangi, bersama Fawaid Saiful Rachman dan Anang Ma'ruf Masyhuri dari KUA Muncar.

Mereka memberikan penguatan mengenai pentingnya membangun kehidupan berkeluarga yang harmonis, tanggung jawab moral, serta relasi sosial yang berlandaskan ajaran Islam yang moderat dan penuh toleransi.

Pimpinan Pondok Pesantren Minhajut Thullab menyatakan komitmennya, menjadikan program tersebut sebagai agenda pembinaan berkelanjutan.

Ke depan, pelaksanaan BRUS akan diperluas melalui sinergi bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi serta diperkuat dengan pengembangan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) bersama LKNU.

Salah seorang pimpinan pesantren, Ahmad Ahmali, mengatakan program pembinaan akan menjangkau seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Minhajut Thullab, yakni SMA Al Hikmah, SMK Minhajut Thullab, MA Minhajut Thullab, MTs Miftahul Mubtadiin, dan SMP Al-Qur'an.

Melalui program Sapa Santri, RMI Banyuwangi menegaskan komitmennya menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi muslim yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga wawasan keilmuan modern, kesehatan jasmani dan rohani, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Dengan penguatan karakter yang terintegrasi, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, tangguh menghadapi perubahan zaman, bebas dari perilaku perundungan, serta memiliki komitmen kuat menjauhi penyalahgunaan narkoba demi menjaga diri, sesama, dan kemaslahatan umat. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Sidang Gugatan Lahan Parkir JPC Berlanjut, Mantan Komisaris Beberkan Tidak Ada Kontrak Langsung dengan Pemilik Lahan
Next Article
Ditetapkan Tersangka, Seorang ASN di Gresik Gugat Pejabat Teras

Related to this topic:

Be the first to write a comment.