Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Ngopi Sepuluh Ewu 2025, Panitia Siapkan Satu Kuintal Kopi Robusta untuk Ribuan Pengunjung

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Persiapan menuju Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, semakin matang. Tradisi tahunan yang menjadi ikon Banyuwangi Festival (B-Fest) ini akan kembali digelar pada Sabtu malam, 8 November 2025, dengan suguhan ngopi massal dan kemeriahan budaya Osing yang selalu memikat ribuan pengunjung.

Ketua Panitia Festival, Moh Edy Saputro, mengungkapkan bahwa panitia telah menyiapkan 1 kuintal kopi robusta hasil perkebunan lokal Banyuwangi. Kopi tersebut akan dibagikan kepada warga yang tinggal di sepanjang jalur acara sebagai bentuk pelibatan aktif masyarakat.

BACA JUGA : Sekolah Rakyat Jember Capai 90 Persen, Siap Layani Anak dari Keluarga Miskin Ekstrem

“Kopi itu nanti akan kami sebar ke warga yang tinggal di kanan-kiri jalan sebelum festival,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

Tak sekadar memenuhi kebutuhan acara, pembelian kopi juga dilakukan dari pelaku UMKM kopi Banyuwangi sebagai upaya memberdayakan ekonomi lokal. Kopi tersebut dikemas dalam ukuran 100–200 gram untuk disajikan para warga kepada tamu dan pengunjung.

“Kopi dan gula akan dibagikan ke setiap meja dengan dua kali suplai, pertama sebelum acara dimulai dan kedua sekitar 30 menit setelah acara berlangsung,” jelas Edy.

Untuk menciptakan suasana ngopi massal yang meriah, panitia akan menutup total jalan utama Desa Kemiren. Sepanjang jalur tersebut, disiapkan 300 meja dan kursi yang siap menampung ribuan warga serta wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tradisi Kopi yang Menyalakan Identitas Osing

Meski Desa Kemiren bukan daerah penghasil kopi, masyarakat Osing di desa adat ini memiliki hubungan erat dengan budaya menyuguhkan kopi. Tradisi tersebut tidak hanya hidup, tetapi juga diwariskan lintas generasi.

Setiap keluarga memiliki cangkir keramik warisan yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Ketika seorang perempuan menikah, dia akan mendapat warisan berupa cangkir dan perlengkapan pecah belah dari orang tuanya,” tutur Edy.

Dengan jumlah sekitar 1.100 kepala keluarga, diperkirakan terdapat lebih dari 10 ribu cangkir yang tersimpan dan digunakan untuk menjamu tamu. Tradisi ini mencerminkan falsafah hidup masyarakat Osing: suguh, gupuh, lungguh — sebuah nilai luhur bahwa tamu harus disambut dengan suguhan, ramah, dan penuh penghormatan.

“Kebiasaan menyuguhkan kopi ini adalah wujud dari jati diri warga Kemiren yang menjunjung tinggi nilai keramahan dan kebersamaan,” ungkap Edy.

Ikon Wisata Budaya yang Selalu Dinanti

Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar acara minum kopi, tetapi sebuah ruang perjumpaan budaya, tradisi, dan kebersamaan. Setiap tahun, suasana Desa Kemiren berubah menjadi hamparan kehangatan masyarakat Osing yang memanjakan tamu dengan kopi, musik tradisional, hingga ritual-ritual khas yang menjadi daya tarik utama.

Dengan persiapan matang dan pelibatan UMKM lokal, Festival Ngopi Sepuluh Ewu 2025 diprediksi kembali menjadi magnet wisata budaya yang memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah yang kaya tradisi dan inovatif dalam mengemas kearifan lokal menjadi agenda wisata kelas nasional. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Sindikat Perampok Sadis Dibekuk: Modus Pura-Pura Tanya Alamat, Culik dan Aniaya Nenek di Magetan
Next Article
TPS 3R Banyuwangi Ubah Sampah Jadi Energi, 60 Ton RDF Diserap Industri Semen Nasional

Related to this topic:

Be the first to write a comment.