Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Ditolak Masuk BukBer Polresta Banyuwangi, Wartawan Berbuka Puasa dengan Air Hujan

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Kekecewaan mendalam dirasakan salah satu jurnalis senior Banyuwangi, Bang Amin, setelah dirinya tidak diperbolehkan masuk dalam acara buka bersama (bukber) yang diselenggarakan oleh Polresta Banyuwangi di Ballroom Hotel Kokoon Banyuwangi, Selasa (3/3/2026) petang.

Sebagai bentuk protes atas perlakuan tersebut, Bang Amin memilih tetap berbuka puasa di luar gedung acara. Di tengah rintik hujan yang turun, ia menengadahkan wajah dan meminum air hujan untuk membatalkan puasanya. Aksi itu bukan sekadar spontanitas, melainkan simbol kekecewaan dan keprihatinan atas sikap yang ia nilai tidak mencerminkan kebersamaan.

BACA JUGA : Dokumen Teknis dan LSD Tuntas, DPMPTSP Bojonegoro Diduga Melampaui Wewenang

Dengan nada lirih namun tegas, Bang Amin mengungkapkan bahwa dirinya hanya ingin diperlakukan sama seperti rekan-rekan media lainnya. Menurutnya, kegiatan yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antara kepolisian dan insan pers justru meninggalkan luka bagi sebagian jurnalis yang merasa tersisih.

“Kalau memang ada daftar undangan, setidaknya kami diberi tahu sejak awal. Jangan sampai ada kesan dipilih-pilih. Kami ini hadir untuk menjalin kebersamaan, bukan untuk mencari perpecahan,” ujarnya.

Bang Amin juga menambahkan, bahwa dirinya datang bukan untuk mencari sensasi, melainkan sebagai bentuk komitmen terhadap profesi.

“Saya datang dengan niat baik, ingin bersilaturahmi. Tapi ketika tidak diperbolehkan masuk tanpa penjelasan yang jelas, tentu kami merasa tidak dihargai. Kami ini wartawan, mitra kerja, bukan tamu yang bisa dipilih-pilih seenaknya,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut, aksi meminum air hujan itu sebagai bentuk keprihatinan yang mendalam.

“Biar masyarakat tahu, ini bukan soal makanannya. Ini soal rasa kebersamaan. Kalau memang tidak diundang, sampaikan sejak awal. Jangan sampai kami sudah datang, lalu seperti ini. Jujur, ini memalukan bagi kami,” ucapnya.

Ia menegaskan, aksi tersebut adalah bentuk sindiran sekaligus pesan moral. Bahwa jurnalis bukan sekadar pelengkap dalam sebuah seremoni, melainkan mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada publik.

“Ke depan saya berharap tidak ada lagi sekat-sekat seperti ini. Kalau mau merangkul media, rangkul semuanya. Jangan hanya yang tertentu saja. Kita ini satu profesi, satu tujuan, menyampaikan informasi untuk masyarakat,” pungkasnya.

Meski demikian, Bang Amin tetap menyampaikan bahwa dirinya tidak berniat memperkeruh suasana. Ia berharap ke depan tidak ada lagi peristiwa serupa, dan seluruh insan pers dapat dirangkul tanpa terkecuali dalam setiap kegiatan yang bersifat silaturahmi maupun kemitraan.

Aksi berbuka puasa dengan air hujan di luar gedung itu menjadi simbol sunyi dari sebuah kekecewaan, bahwa kebersamaan sejatinya bukan soal tempat atau hidangan, melainkan tentang rasa dihargai dan diakui. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Antisipasi Longsor Susulan, Warga dan Polisi Pasang Ratusan Bronjong
Next Article
CV Lisa Kecam Pemberitaan Yang Tidak Berimbang serta Abaikan KEJ.

Related to this topic:

Be the first to write a comment.