Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

SPPG Saronggi Sumenep Klaim Sesuai SOP, Wali Murid: Kenapa Menu MBG Ada Buah Busuk dan Nugget Berbau

SUMENEP// Bratapos.com – Klaim pelaksanaan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Saronggi yang disebut berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) kian dipertanyakan. Pasalnya, di lapangan ditemukan berbagai persoalan serius, mulai dari buah nanas dalam kondisi busuk, nugget berbau tidak sedap, hingga menu makanan yang secara langsung ditolak oleh siswa penerima manfaat.

SPPG Saronggi yang berada di bawah naungan Yayasan Alif Batu Putih juga disebut belum mengantongi sertifikat kelayakan secara lengkap, sebagaimana diwajibkan bagi penyelenggara layanan pemenuhan gizi anak sekolah. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah layanan tersebut benar-benar dijalankan sesuai SOP, atau hanya sebatas klaim administratif?
Sejumlah wali murid dan pihak sekolah mengeluhkan kualitas menu yang dibagikan kepada siswa. Mereka menilai makanan yang disajikan tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi dan berpotensi membahayakan kesehatan anak.

BACA JUGA : Komunikasi Sosial Anggota Satgas TMMD, Bersama Guru dan Murid Bantu Bersihkan Halaman Sekolah Minggu Vihara Vimalakirti

"Kalau memang sesuai SOP, tidak mungkin buah dalam kondisi busuk masih dibagikan. Nugget berbau itu nyata kami temukan," ujar salah satu wali murid, Syamsul Arifin,  Jumat (23/1/2026).

Penolakan menu oleh siswa juga menjadi indikator kuat bahwa makanan yang disajikan tidak memenuhi standar mutu, kebersihan, dan keamanan pangan. Dalam SOP layanan pemenuhan gizi, kualitas bahan baku, kesegaran makanan, aroma, serta keamanan konsumsi merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Ironisnya, saat awak media berupaya melakukan konfirmasi langsung, Kepala SPPG Saronggi tidak menggubris dan memilih tidak memberikan keterangan. Sikap tersebut dinilai bertolak belakang dengan pernyataan yang justru disampaikan kepada media lain, yang menyebut bahwa SPPG Saronggi beroperasi sesuai SOP dan telah memberikan layanan optimal kepada penerima manfaat.
Pernyataan sepihak tersebut kemudian dimuat oleh Media Jatim, yang menyebut program SPPG Saronggi mendapat respons positif dari penerima manfaat. Namun klaim itu dinilai tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan, karena mengabaikan fakta temuan makanan bermasalah serta keluhan dari siswa dan wali murid.

Publik pun mempertanyakan dasar penilaian “respons positif” tersebut. Apakah bersumber dari evaluasi menyeluruh, atau hanya berdasarkan keterangan pengelola tanpa verifikasi lapangan yang memadai.

Hingga kini, pihak pengelola SPPG Saronggi belum memaparkan secara terbuka dokumen pendukung terkait kelengkapan sertifikasi, standar higiene, serta mekanisme pengawasan mutu menu harian. Padahal, transparansi menjadi kunci utama dalam program yang menyasar anak-anak sebagai kelompok rentan.
Jika makanan busuk, berbau, dan ditolak siswa masih disebut sebagai “sesuai SOP”, maka yang patut dipertanyakan bukan kritik publik, melainkan validitas SOP yang diklaim serta keseriusan pengawasannya.

Sikap tertutup pengelola dan ketidaksediaan memberikan klarifikasi justru memperkuat dugaan adanya persoalan serius dalam pelaksanaan program SPPG Saronggi yang seharusnya menjadi jaminan pemenuhan gizi sehat bagi anak sekolah, bukan sumber polemik dan kekhawatiran.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
SPPG Yayasan Rumah Juang Garuda Emas Rubaru Sertifikasi Belum Lengkap, Holik Anggota DPRD Sumenep, Saya Tidak Tahu Apa-Apa
Next Article
Kepala SPPG Legung Sumenep Klaim Sudah Sesuai SOP, Fakta Lapangan Justru Bertentangan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.