Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Siswa SMK di Banyuwangi Ciptakan Kompor Berbahan Oli Bekas dan Minyak Jelantah

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Kreativitas pelajar di Banyuwangi kembali mencuri perhatian. Siswa-siswi SMK Gajah Mada Banyuwangi berhasil menciptakan kompor alternatif berbahan bakar limbah cair berupa oli bekas dan minyak goreng bekas pakai (jelantah), sebagai solusi hemat energi sekaligus upaya mengurangi pencemaran lingkungan.

Inovasi tersebut lahir dari kepedulian para pelajar terhadap tingginya limbah oli bengkel dan minyak jelantah rumah tangga yang selama ini banyak dibuang sembarangan. Dengan teknologi sederhana namun efektif, limbah tersebut kini dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif pengganti LPG.

BACA JUGA : BLT - DD Tahap ll Tahun 2026 Pemerintah Desa Jagir Sudah Tersalurkan Untuk 16 KPM

Guru pembimbing jurusan Otomotif SMK Gajah Mada Banyuwangi, Rusianto, mengatakan ide pembuatan kompor muncul setelah melihat potensi limbah cair yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Padahal limbah oli maupun minyak jelantah ini bisa dijadikan bahan bakar alternatif. Selain lebih hemat, pemanfaatannya juga membantu mengurangi dampak pencemaran lingkungan,” ujar Rusianto kepada Bratapos.com, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, kompor inovatif tersebut mampu menyala selama 3 hingga 4 jam hanya dengan menggunakan 1 liter oli bekas atau minyak jelantah. Efisiensi itu dinilai sangat membantu masyarakat, terutama pelaku UMKM dan rumah tangga yang selama ini bergantung pada gas LPG.

Rusianto menjelaskan, kompor dirancang menggunakan material sederhana seperti pipa besi sebagai rangka utama, blower untuk mendorong tekanan api, keran pengatur aliran bahan bakar, dan kaleng pemanas sebagai ruang pembakaran.

Meski menggunakan bahan bakar limbah, ia memastikan kompor tetap aman digunakan untuk memasak dan tidak mempengaruhi cita rasa makanan.

“Tidak ada bau menyengat dan tidak mempengaruhi rasa masakan. Ini yang sudah kami uji langsung,” katanya.

Cara pengoperasiannya pun cukup mudah. Sebelum digunakan, kompor dipanaskan secara manual selama sekitar lima menit. Setelah itu, bahan bakar dialirkan melalui keran dan blower dinyalakan untuk mengatur besar kecilnya api.

Selain menjadi proyek pembelajaran, inovasi tersebut kini mulai dilirik masyarakat. SMK Gajah Mada Banyuwangi bahkan telah menerima pesanan kompor dari rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner.

“Kami melayani pesanan sesuai kebutuhan konsumen, baik untuk rumah tangga maupun UMKM. Harganya juga cukup terjangkau,” tambahnya.

Inovasi para pelajar ini mendapat apresiasi langsung dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat menghadiri kegiatan Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa) di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, 7 Mei 2026 lalu.

Menurut Ipuk, kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa pelajar daerah mampu menghadirkan solusi nyata di tengah tantangan energi dan persoalan lingkungan.

“Ini ide kreatif agar masyarakat tidak hanya bergantung pada LPG. Ternyata ada alternatif bahan bakar yang mudah didapatkan, bahkan berasal dari limbah yang setiap hari kita hasilkan di rumah,” ujar Ipuk.

Ia berharap inovasi tersebut terus dikembangkan, agar dapat diproduksi secara massal dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Saya berharap karya ini terus disempurnakan, supaya konsumen semakin puas dan nantinya bisa diproduksi lebih besar. Kreativitas seperti ini harus menjadi motivasi bagi pelajar lain untuk terus berinovasi,” pungkasnya. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Korban Dobrak Ruang Sidang, Kuasa Hukum Ancam Lapor ke Komisi Yudisial
Next Article
Lepas 1.312 Jemaah Haji Banyuwangi, Bupati Ipuk Minta Doa untuk Daerah

Related to this topic:

Be the first to write a comment.