BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Peran generasi muda di Kelurahan Kertosari, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, dinilai belum mendapatkan ruang partisipasi yang memadai dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun pembangunan di tingkat kelurahan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah warga. Di tengah besarnya potensi generasi muda Kertosari, keberadaan dan peran pemuda dinilai justru semakin kurang terlihat dalam berbagai agenda strategis di wilayah tersebut.
BACA JUGA :
Rw 08 Kalideres, Terima Bantuan Gerobak
Padahal, pemuda memiliki posisi penting sebagai kekuatan sosial yang dapat menjadi penggerak perubahan. Energi, kreativitas, keberanian, idealisme, serta gagasan segar generasi muda merupakan modal sosial yang semestinya dapat diarahkan untuk memperkuat pembangunan lingkungan.
Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang sangat populer mengenai besarnya kekuatan generasi muda. “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Pesan tersebut menggambarkan bagaimana pemuda memiliki posisi strategis dalam menciptakan perubahan. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia pun menunjukkan bahwa generasi muda berulang kali mengambil peran penting, mulai dari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda 1928 hingga perjuangan menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Namun, semangat dan peran strategis tersebut dinilai masih menghadapi tantangan ketika berada di tingkat lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah keberadaan organisasi Karang Taruna di Kelurahan Kertosari. Organisasi kepemudaan tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian dan penguatan agar tidak sekadar hadir secara administratif atau menjadi nama dalam struktur organisasi, tetapi benar-benar berfungsi sebagai wadah bagi pemuda untuk berkegiatan, menyampaikan gagasan, mengembangkan potensi, serta ikut mengambil bagian dalam pembangunan lingkungan.
Minimnya ruang komunikasi antara pemuda dengan pemangku wilayah, juga dinilai dapat memperlebar jarak antara generasi muda dan pemerintah kelurahan. Padahal, komunikasi yang terbuka menjadi salah satu kunci untuk membangun kepercayaan sekaligus mencegah munculnya sikap apatis di kalangan pemuda.
Kondisi tersebut dinilai semakin penting untuk diperhatikan, mengingat adanya kekhawatiran masyarakat terhadap persoalan sosial yang berpotensi menyasar generasi muda, termasuk penyalahgunaan narkotika.
Sejumlah warga menilai, pemuda justru harus digandeng dan diberikan kegiatan positif secara berkelanjutan. Penguatan organisasi kepemudaan, olahraga, kegiatan sosial, seni budaya, pendidikan, hingga ekonomi kreatif dinilai dapat menjadi ruang produktif bagi generasi muda.
Salah seorang warga Kertosari yang dikenal aktif menyuarakan persoalan masyarakat, Ruslan Abdul Gani, menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah kelurahan dan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Ruslan, pemuda jangan hanya diposisikan sebagai pelengkap dalam kegiatan tertentu. Mereka harus diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat sejak proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan pembangunan.
“Saat ini, khususnya di Kelurahan Kertosari, saya melihat peran pemuda seolah-olah sudah tidak digunakan lagi. Bahkan, keberadaan mereka seperti tidak mendapatkan perhatian yang semestinya. Padahal pemuda adalah aset dan kekuatan besar yang seharusnya bisa dilibatkan dalam pembangunan,” ujar Ruslan, Sabtu (29/8/2026) malam.
Ia menilai, apabila potensi generasi muda tidak diberi ruang, dampaknya bukan hanya terhadap perkembangan pemuda itu sendiri, tetapi juga terhadap keberlangsungan pembangunan sosial di lingkungan.
“Jangan sampai pemuda hanya dicari ketika ada kegiatan seremonial atau membutuhkan tenaga. Setelah itu, gagasan dan keberadaan mereka justru tidak dianggap penting. Kalau memang kita ingin membangun Kertosari, pemuda harus dilibatkan sejak awal, bukan hanya dijadikan pelengkap,” tegasnya.
Ruslan mengatakan, ruang partisipasi pemuda sebenarnya dapat dibangun melalui berbagai sektor. Mulai dari kegiatan sosial kemasyarakatan, olahraga, kebudayaan, pendidikan, kepedulian lingkungan, pengembangan ekonomi kreatif, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, pemerintah Kelurahan Kertosari perlu membangun pola komunikasi yang lebih terbuka dengan generasi muda. Forum dialog maupun kegiatan bersama dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan gagasan pemuda dengan kebutuhan pembangunan di wilayah.
“Pemuda jangan dikerdilkan perannya. Berikan mereka ruang, dengarkan gagasannya, dan libatkan mereka. Kalau ada kesalahan, dibina. Kalau ada potensi, dikembangkan. Jangan justru dibiarkan sehingga mereka kehilangan semangat untuk ikut membangun daerahnya sendiri,” ungkapnya.
Ia menegaskan, membangun ruang partisipasi pemuda bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas. Sebaliknya, keterlibatan pemuda harus dibarengi dengan pembinaan, pendampingan, tanggung jawab, serta arah kegiatan yang jelas.
Ruslan berharap persoalan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi pemerintah kelurahan, Karang Taruna, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat Kertosari.
Menurutnya, pembangunan wilayah tidak cukup hanya mengandalkan program dan anggaran pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting, termasuk peran generasi muda sebagai salah satu motor perubahan.
“Kertosari membutuhkan pemuda yang aktif, kritis, kreatif dan berani menyampaikan gagasan. Pemerintah harus hadir untuk membuka ruang itu. Jangan sampai potensi besar pemuda justru mati karena tidak pernah diberi kesempatan,” pungkas Ruslan.
Persoalan minimnya ruang partisipasi pemuda di Kelurahan Kertosari kini menjadi isu yang layak mendapat perhatian lebih serius. Pemerintah kelurahan dan pemangku kepentingan terkait diharapkan tidak hanya melihat pemuda sebagai kelompok usia produktif, tetapi sebagai mitra strategis dalam pembangunan.
Sebab, memberikan ruang kepada pemuda bukan semata-mata persoalan menggelar kegiatan kepemudaan. Lebih dari itu, ruang partisipasi merupakan bentuk investasi sosial untuk membangun generasi yang aktif, produktif, kritis, bertanggung jawab, sekaligus memiliki kepedulian terhadap masa depan lingkungannya.
Kini, pertanyaannya bukan sekadar apakah pemuda Kertosari memiliki potensi, tetapi apakah ruang yang cukup telah benar-benar diberikan kepada mereka untuk menunjukkan potensi tersebut. (rag/bp-bwi)