BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Upaya penguatan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan terus menjadi perhatian serius Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas). Hal itu terlihat saat Direktur Pembimbingan Kemasyarakatan (PK) Ditjenpas, Ceno Hersusetiokartiko, melakukan kunjungan kerja ke Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Rabu (11/3/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai program pembinaan yang dijalankan di SAE Paswangi berjalan optimal, produktif, serta mampu memberikan bekal keterampilan nyata bagi warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat.
BACA JUGA :
Sekolah Rakyat Jember Capai 90 Persen, Siap Layani Anak dari Keluarga Miskin Ekstrem
Dalam kunjungannya, Ceno didampingi langsung oleh Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, bersama jajaran pejabat struktural. Mereka meninjau sejumlah unit produktif yang dikelola di lahan SAE yang berada di Kelurahan Pakis, Banyuwangi.
Berbagai sektor pembinaan terlihat aktif berjalan, mulai dari pertanian, perikanan, hingga peternakan, yang dikelola sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
“Produktivitas di SAE Paswangi ini berjalan dengan sangat baik. Kami melihat berbagai kegiatan pembinaan berlangsung aktif dan terintegrasi. Ini menunjukkan pengelolaan lahan asimilasi yang berjalan efektif,” ujar Ceno saat meninjau lokasi.
Menurutnya, model pembinaan berbasis produksi seperti yang dikembangkan di SAE Paswangi memiliki peran penting dalam membentuk keterampilan kerja dan kemandirian ekonomi warga binaan.
Tidak hanya itu, Ceno juga menekankan pentingnya keberlanjutan program ini bagi klien pemasyarakatan yang berada di bawah pembinaan Balai Pemasyarakatan (Bapas).
Ia berharap, ke depan SAE Paswangi dapat dimanfaatkan sebagai sarana lanjutan bagi klien pemasyarakatan untuk mengasah keterampilan kerja sebelum benar-benar kembali berintegrasi dengan masyarakat.
“Ke depan kami berharap klien dari Bapas dapat memanfaatkan tempat ini untuk melanjutkan pembinaan dan meningkatkan skill mereka, sehingga saat kembali ke masyarakat mereka sudah memiliki bekal kemampuan yang kuat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Banyuwangi I Wayan Nurasta Wibawa menjelaskan bahwa pengembangan SAE Paswangi tidak hanya berfokus pada pembinaan warga binaan, tetapi juga dirancang memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, program ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program nasional ketahanan pangan, melalui pengelolaan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan yang produktif.
“SAE Paswangi tidak hanya menjadi tempat pembinaan bagi warga binaan, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan. Kami ingin program ini memberikan manfaat nyata bagi banyak pihak,” jelas Wayan.
Lebih lanjut, pihak Lapas Banyuwangi berkomitmen untuk terus melakukan diversifikasi program pembinaan agar SAE Paswangi semakin berkembang dan memiliki nilai manfaat yang lebih besar.
Ke depan, SAE Paswangi ditargetkan tidak hanya menjadi pusat pembinaan internal bagi warga binaan, tetapi juga berkembang menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan.
“Kami ingin SAE Paswangi menjadi pusat edukasi publik. Masyarakat dapat melihat langsung proses pembinaan di sini sekaligus belajar mengenai teknik pertanian dan peternakan yang kami kembangkan,” pungkasnya. (rag/bp-bwi)
Prev Article
Diduga Check-In Hotel di Malang, Dua Karyawan PT Pindad Turen Jadi Sorotan Publik
Next Article
Sidak Pasar dan Penggilingan Beras, Wabup Banyuwangi Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil Jelang Lebaran