Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Pemuda Banyuwangi Raup Omzet Ratusan Juta dari Budidaya Lele Sistem Air Jernih

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Inovasi di sektor perikanan kembali datang dari generasi muda. Seorang pemuda asal Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Yogi Deri Hendrawan, berhasil membuktikan bahwa budidaya lele dapat menjadi bisnis bernilai tinggi jika dikelola secara modern dan disiplin.

Dengan menerapkan teknik sistem air jernih, Yogi mampu menghasilkan lele berkualitas premium yang diminati pasar, sekaligus maraup omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang dan konsistensi dalam menjaga kualitas.

BACA JUGA : Dokumen Teknis dan LSD Tuntas, DPMPTSP Bojonegoro Diduga Melampaui Wewenang

“Saya memulai dari nol, hanya dengan tiga kolam kecil. Kuncinya konsisten menjaga kualitas air dan disiplin dalam pemberian pakan. Sistem ini memang butuh perhatian ekstra, tapi hasilnya sebanding,” ungkap Yogi dihadapan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat menjalani program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo, Rabu (29/4/2026).

Lulusan Universitas Brawijaya ini memulai usahanya pada 2018, dengan hanya tiga kolam sederhana berukuran 2 x 5 meter. Berbekal ilmu dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta dukungan keluarga dan pemerintah daerah, usahanya kini berkembang pesat.

Saat ini, Yogi mengelola sekitar 50 kolam yang tersebar di tiga lokasi berbeda. Dukungan juga datang dari Dinas Perikanan setempat yang memberikan bantuan fasilitas di tahap awal usaha.

Berbeda dari metode konvensional, Yogi menerapkan sistem air jernih dengan penggantian air dua kali sehari. Langkah ini terbukti efektif menjaga kualitas air, menekan risiko penyakit, dan meningkatkan kualitas hasil panen.

Selain itu, ia juga sangat ketat dalam manajemen pakan. Lele hanya diberi pakan khusus dengan takaran terukur tanpa campuran bahan lain. Menurutnya, faktor pakan dan kebersihan air menjadi penentu utama kualitas produk.

Hasilnya, lele yang diproduksi memiliki keunggulan signifikan: tidak berbau lumpur, tekstur daging lebih bersih dan padat, serta rasa lebih disukai konsumen.

“Kualitas adalah kunci. Kalau kualitas bagus, pasar akan datang sendiri,” ujar Yogi.

Dengan sistem yang terkelola baik, Yogi mampu panen setiap hari dengan volume mencapai 6 kuintal hingga 1 ton. Ia juga menambahkan, bahwa ke depan dirinya ingin memperluas usaha sekaligus membuka peluang bagi generasi muda lain.

“Saya ingin mengembangkan usaha ini lebih besar lagi, dan mengajak anak muda supaya tidak ragu terjun ke sektor perikanan. Peluangnya masih sangat luas,” tambahnya.

Saat ini, produksinya baru mencukupi kebutuhan wilayah Banyuwangi bagian selatan, namun ekspansi sudah direncanakan dalam waktu dekat.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, memberikan apresiasi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, kisah Yogi menjadi bukti nyata bahwa sektor perikanan dan pertanian memiliki potensi besar jika digarap serius oleh generasi muda.

Melalui program seperti Jagoan Tani, pemerintah daerah terus mendorong anak muda untuk terjun ke sektor produktif dengan menyediakan pelatihan, mentoring, hingga akses modal usaha.

“Ini contoh nyata, bahwa pertanian dan perikanan bukan sektor kuno. Justru di sinilah peluang besar terbuka,” ujar Ipuk. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Kepala Sekolah TK Tunas Bangsa Senggigi Raih Juara 1 Penganugerahan Pendidikan BPMP NTB 2026
Next Article
Bunga Desa Menyasar Purwoharjo, Bupati Ipuk Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Pemberdayaan Ekonomi

Related to this topic:

Be the first to write a comment.