Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Pawai Endhog-Endhogan Maulid Nabi di Banyuwangi Meriah, Ribuan Telur Jadi Simbol Berbagi

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Tradisi Endhog-Endhogan kembali menghidupkan suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Banyuwangi. Ribuan kembang endhog diarak dan dibagikan kepada masyarakat dalam pawai yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Kamis (10/9/2026) sore.

Pawai menempuh rute sekitar tiga kilometer, dari Pendopo Sabha Swagata Blambangan menuju Kantor Bupati Banyuwangi. Sepanjang perjalanan, iring-iringan pawai menjadi perhatian masyarakat yang telah memenuhi sejumlah ruas jalan.

BACA JUGA : 10 September 1945, Tonggak Lahir TNI AL: Dari BKR Laut hingga Penjaga Kedaulatan Nusantara

Kembang endhog berupa telur rebus yang telah dihias ditata pada batang pohon pisang berhias atau jodhang. Beragam bentuk hiasan tersebut kemudian diarak menggunakan becak hingga sepeda hias.

Dentuman rebana, musik Islami, dan lantunan sholawat membuat suasana semakin semarak. Tradisi yang memadukan nuansa religius dan budaya lokal itu sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai unsur keagamaan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama jajaran pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, serta masyarakat turut mengikuti pawai.

Di sepanjang rute, ribuan warga antusias menyaksikan iring-iringan. Ketika kembang endhog mulai dibagikan, warga pun berebut mendapatkan telur yang menjadi bagian khas dari tradisi Maulid Nabi di Banyuwangi tersebut.

Tidak hanya masyarakat lokal, kemeriahan pawai Endhog-Endhogan Banyuwangi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Roman, wisatawan asal Prancis, mengaku terkesan melihat tradisi yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri tersebut.

"Tradisi ini sangat menarik. Sangat indah," ujar Roman.

Ia bersama rombongannya menghabiskan waktu tiga hari di Banyuwangi untuk menikmati sejumlah destinasi wisata dan keindahan alam.

Bagi wisatawan, momentum seperti ini memberikan pengalaman berbeda. Mereka tidak hanya menikmati lanskap wisata Banyuwangi, tetapi juga dapat menyaksikan langsung tradisi masyarakat yang tumbuh dan dipertahankan secara turun-temurun.

Bupati Ipuk Fiestiandani menegaskan, Endhog-Endhogan bukan sekadar bagian dari kemeriahan peringatan Maulid Nabi. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat Banyuwangi.

"Endog-endogan sudah menjadi tradisi Maulid di Banyuwangi. Kegiatan ini bagian dari menjaga tradisi tersebut," kata Ipuk.

Menurutnya, nilai penting lain yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah semangat berbagi dan memperkuat kebersamaan.

"Ini bagian dari konsep berbagi. Serta ruang untuk mempererat kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai unsur yang terlibat dalam perayaan," tuturnya.

Pesan tersebut tercermin dari kembang endhog yang dibagikan kepada masyarakat. Telur yang secara sederhana menjadi bagian dari tradisi justru menghadirkan makna sosial: berbagi kebahagiaan dalam momentum keagamaan.

Sebelum pawai digelar, rangkaian peringatan Maulid Nabi juga diisi dengan pengajian dan sholawatan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan.

Pawai Endhog-Endhogan bukan hanya menjadi tontonan yang meriah. Lebih dari itu, tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan, budaya lokal, kebersamaan, dan semangat berbagi dapat berjalan beriringan di tengah masyarakat Banyuwangi. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Isu Skandal Uang Pengondisian senilai Rp 40 jt Terkait Dugaan Kasus Ilegal logging Kini Ramai jadi Sorotan Publik
Next Article

Related to this topic:

Be the first to write a comment.