BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Setiap 10 September menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah pertahanan maritim Indonesia. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahir TNI Angkatan Laut (TNI AL), yang berakar dari perjuangan para bahariawan bumiputra dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejarah TNI AL tidak dapat dilepaskan dari gelora kemerdekaan yang menguat di kalangan pemuda bahari setelah Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik. Para bahariawan turut mengambil bagian dalam persiapan kemerdekaan sekaligus mengawal momentum bersejarah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
BACA JUGA :
GRIB Jaya Ponorogo Sayangkan Unggahan Akun TikTok @Lensa Ponorogo Terkait Papan APBDes Desa Serag, Pemdes Tegaskan Murni Salah Ketik (Human Error)
Setelah proklamasi dikumandangkan, para pemuda bahari dari berbagai latar belakang mulai mengorganisasikan diri dalam sejumlah barisan dan badan perjuangan. Mereka bergerak mengambil alih berbagai aset maritim serta persenjataan peninggalan Jepang untuk mendukung kepentingan maritim Republik Indonesia yang baru berdiri.
Sejumlah tokoh bahari nasional, di antaranya Mas Pardi, Adam, dan Raden Eddy Martadinata, kemudian menggagas penyatuan berbagai kekuatan perjuangan maritim tersebut ke dalam satu wadah.
Momentum itu semakin menguat setelah pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945. Para bahariawan secara bertahap melakukan konsolidasi dengan menghimpun kekuatan dari berbagai unsur, mulai dari guru dan siswa sekolah pelayaran, anggota Jawa Unko Kaisha, Kaigun Heiho, hingga mantan pelaut Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) dan Gouvernement Marine (GM).
10 September 1945, BKR Laut Dibentuk
Puncak konsolidasi terjadi dalam rapat yang digelar di Gedung Kesatuan Sekolah Pelayaran Tinggi Jakarta, Jalan Budi Utomo, pada 10 September 1945.
Dalam pertemuan tersebut disepakati pembentukan Badan Keamanan Rakyat Bagian Laut (BKR Laut) di tingkat pusat maupun daerah. Pemerintah kemudian mengangkat Mas Pardi sebagai Ketua BKR Laut Pusat.
Secara de facto, BKR Laut telah menunjukkan karakter sebuah organisasi angkatan laut. Organisasi ini memiliki struktur militer, kapal-kapal bersenjata, pangkalan beserta fasilitas pelabuhan, serta personel yang menjalankan kaidah-kaidah keprajuritan matra laut.
Atas dasar perjalanan sejarah tersebut, 10 September 1945 ditetapkan sebagai hari kelahiran TNI Angkatan Laut.
Perjalanan organisasi tersebut kemudian terus berkembang. Setelah pemerintah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai organisasi militer reguler pada 5 Oktober 1945, BKR Laut bertransformasi menjadi TKR Laut.
Sejak 1946, organisasi tersebut menggunakan nama Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sebelum kemudian berubah menjadi TNI Angkatan Laut pada 1971.
Dari Kapal Kayu hingga Kekuatan Maritim Modern
Sejarah panjang TNI AL merupakan bagian dari perjalanan bangsa dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada masa perang kemerdekaan, para prajurit bahari berjuang dengan keterbatasan, termasuk menggunakan kapal-kapal kayu dan menjalankan strategi perjuangan yang melahirkan istilah “Angkatan Laut Gunung.”
Memasuki masa konsolidasi, TNI AL turut berada di garis depan dalam menghadapi berbagai ancaman disintegrasi. Pada masa konfrontasi, kekuatan laut kembali memainkan peran strategis dalam menjaga kepentingan dan kedaulatan negara.
Sementara pada masa pembangunan, pengabdian TNI AL semakin erat dengan rakyat melalui berbagai bentuk kegiatan kemasyarakatan dan pembangunan.
Kini, tantangan pertahanan maritim berkembang seiring perubahan zaman. Wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan menempatkan laut sebagai ruang strategis yang tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan keamanan, tetapi juga konektivitas, ekonomi, sumber daya, serta masa depan bangsa.
Karena itu, semangat perjuangan para bahariawan pendahulu tetap menjadi pijakan bagi TNI AL dalam menjalankan tugas pengabdian.
Dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga menghadapi tantangan keamanan maritim modern, TNI Angkatan Laut terus meneguhkan komitmennya untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.
Semangat itu terangkum dalam semboyan yang menjadi jati diri prajurit matra laut: “Jalesveva Jayamahe”, Di Laut Kita Jaya. (rag/bp-bwi)
(Sumber: Komando Daerah TNI Angkatan Laut V, Pangkalan TNI AL Banyuwangi)
Prev Article
Dugaan Bansos Salah Sasaran di Desa Beber Berujung Pengaduan Tipikor