Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Mengenal Apa Itu Gowok, Wanita Pelatih S3ksual Pria Jawa Zaman Dulu

KOMENTAR 4051

bratapos.com - Indonesia terdiri memiliki beragam suku yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Setiap suku di Indonesia memiliki tradisi, budaya, dan adat istiadat masing-masing.

Dari beragam tradisi tersebut ada yang masih dilakukan oleh masyarakat, namun banyak juga yang sudah ditinggalkan.

BACA JUGA : Polresta Banyuwangi Sosialisasikan UU Nomor 14 Tahun 2025 tentang Haji dan Umrah, Perkuat Pengawasan PPIU dan PIHK

Salah satunya yakni tradisi Gowok dari Jawa. Tradisi ini sudah lama tidak dipraktikkan lagi oleh masyarakat karena dianggap tabu.

Gowok adalah sebutan untuk perempuan dalam kebudayaan Jawa yang disewa untuk mengajarkan perihal rumah tangga dan seksualitas kepada laki-laki berusia remaja atau sebelum menikah. 

Keluarga mempelai laki-laki menyewakan gowok untuk anak mereka sebelum menikah. 

Gowok akan mengajarkan salah satunya tentang memuaskan istri dan memperkenalkan tubuh perempuan. 

Calon mempelai laki-laki akan tinggal di rumah gowok selama beberapa hari untuk kemudian menerapkan ilmu yang sudah diperoleh kepada istrinya ketika sudah menikah.

Tugas inti dari seorang gowok pada intinya memang mempersiapkan perjaka yang berkualitas pada malam pengantin. 

Akan tetapi ini bukan hanya soal seks saja, termasuk juga untuk urusan rumah tangga. Diketahui, lamanya masa pergowokan ini biasanya berlangsung hanya beberapa hari saja dan maksimal selesai dalam satu minggu.

 Sejarah Gowok

Dilansir dari koropak.co.id, berdasarkan sejarahnya, tradisi pergowokan di daratan Jawa pada awalnya diperkenalkan oleh wanita asal Tiongkok bernama Goo Wok Niang yang datang ke Jawa bersama dengan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415-an.

Dalam waktu yang tak lama itu, praktik tersebut pada akhirnya dikenal banyak masyarakat Jawa hingga menjadi tradisi di kemudian harinya.

Istilah Gowok diambil untuk mengenang Goo Wok Niang, namun karena orang Jawa sulit melafalkan dialek Cina maka lama kelamaan nama Goo Wok Niang hanya disebut Gowok saja.

Disebutkan bahwa praktik Gowok ini terakhir marak di daerah Purworejo dan Banyumas, namun mulai hilang di era 1960-an, lantaran memang tradisinya melanggar norma dan agama.

Sumber : harianmuba.com

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Pimpin Apel di Polres Lombok Utara Kombes Pol Dedy Darmawansyah Dorong Etika dan Disiplin
Next Article
Tim Opsnal Satuan Resnarkoba Polres Lombok Tengah Ringkus 2 Terduga Pemilik Narkotik Golongan 1

Related to this topic:

Be the first to write a comment.