Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Keselamatan Wisatawan Jadi Prioritas Utama, Disbudpar Banyuwangi Kumpulkan Pengelola Wisata Tirta

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Guna memperkuat komitmen terhadap keselamatan wisatawan dan memastikan operasional destinasi berjalan sesuai standar, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Banyuwangi menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama seluruh pengelola destinasi wisata tirta, Selasa (4/11/2025).

Kegiatan bertajuk “Sosialisasi dan Himbauan SOP Destinasi Wisata Tirta” tersebut, berlangsung di Pendopo Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko dan upaya peningkatan kualitas pengelolaan destinasi air di Bumi Blambangan.

BACA JUGA : Dokumen Teknis dan LSD Tuntas, DPMPTSP Bojonegoro Diduga Melampaui Wewenang

Hadir dalam pertemuan tersebut para pengelola wisata air terkemuka, antara lain perwakilan dari Pantai Grand Watudodol, Pantai Cacalan, Pantai Mustika, Pulau Merah, Banyuwangi Park, Bangsring Underwater, hingga Taman Nasional Alas Purwo, serta sejumlah destinasi tirta lain di seluruh wilayah Banyuwangi.

Plt. Kepala Disbudpar Banyuwangi, Taufik Rahman, memimpin langsung jalannya rakor. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya penegakan disiplin terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) di setiap destinasi wisata.

“Kepatuhan terhadap SOP adalah kunci utama untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Keselamatan pengunjung harus menjadi napas dalam setiap aktivitas operasional pariwisata,” tegas Taufik.

Ia menambahkan, sektor wisata air memiliki potensi risiko tinggi, sehingga pengawasan dan kesiapsiagaan pengelola harus ditingkatkan. Pemerintah daerah, kata Taufik, tidak hanya menekankan aspek kenyamanan, tetapi juga memastikan bahwa setiap destinasi benar-benar siap secara teknis, infrastruktur, dan sumber daya manusia (SDM).

Dalam pembahasan, Disbudpar menyoroti dua fokus utama: penguatan infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM di lapangan. Pengelola diminta melakukan audit menyeluruh terhadap sarana keselamatan seperti pelampung, rambu peringatan, pagar pengaman, serta memperbanyak petugas pengawas di area rawan. 

Selain itu, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan lifeguard juga menjadi agenda penting. “Kami akan segera menggelar pelatihan lifeguard secara terpusat, untuk memastikan para penjaga destinasi memiliki kemampuan penyelamatan standar,” ujar Taufik.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah perlindungan asuransi bagi pengunjung. Disbudpar mengimbau agar setiap pengelola memberikan informasi yang jelas terkait asuransi wisata, baik untuk keselamatan, kehilangan barang, maupun fasilitas parkir. Hal ini untuk mencegah kesalahpahaman antara pengelola dan wisatawan.

Disbudpar juga menekankan perlunya pemasangan CCTV di area publik destinasi, sebagai bagian dari sistem keamanan terpadu. “Fungsi keamanan tidak boleh hanya mengandalkan petugas di lapangan, tapi juga harus ditopang teknologi,” tambahnya.

Rakor juga membahas pentingnya memperhatikan carrying capacity atau batas maksimum kapasitas pengunjung, agar tidak terjadi over kapasitas yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan keselamatan wisatawan.

Selain itu, pengelolaan sampah, perawatan area hijau, dan mitigasi risiko pohon tumbang di daerah hulu turut menjadi perhatian bersama. Disbudpar menegaskan, bahwa keberlanjutan lingkungan merupakan bagian integral dari keselamatan wisata.

Para pengelola wisata menyambut baik langkah cepat Disbudpar ini. Amin, pengelola Goa Sodong, menyebut kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai pengingat untuk selalu waspada dan disiplin di lapangan.

“Diskusi semacam ini sangat penting, agar kami tetap siaga dan terus meningkatkan standar keselamatan bagi pengunjung,” ujarnya.

Sementara itu, Dimas, pengelola Sendang Seruni, menambahkan bahwa pihaknya telah menambah petugas pengawas di kolam utama.

“Kami perketat pengawasan, terutama di area kolam dalam, karena banyak pengunjung membawa anak-anak,” kata Dimas.

Menutup pertemuan, Taufik Rahman menegaskan bahwa Disbudpar Banyuwangi akan terus melakukan evaluasi dan monitoring berkala terhadap setiap destinasi wisata tirta.

“Keselamatan pengunjung adalah prioritas non negosiasi. Kami ingin Banyuwangi dikenal bukan hanya indah, tetapi juga aman dan berstandar tinggi dalam tata kelola pariwisatanya,” tandasnya. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Polantas Menyapa di KB Samsat Sumenep
Next Article
Diduga Akibat Sambaran Petir, Kamar Tidur di Klatak Banyuwangi Hangus Terbakar

Related to this topic:

Be the first to write a comment.