Demak | bratapos.com - 24 Juni 2026 Di bawah langit bulan Muharram yang senantiasa dipenuhi keberkahan, suasana di Dusun Bakalan Ngelowetan, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak sore ini terasa begitu istimewa. Udara sejuk senja seolah berpadu dengan kehangatan hati ratusan warga dan peziarah yang berkumpul bukan sekadar menghadiri acara, melainkan “pulang” menghampiri jejak langkah leluhur tercinta — Buyut Ruyung Kusumo, sosok agung yang menjadi cikal bakal sekaligus pendiri dusun ini dari tanah belantara yang sunyi, hingga tumbuh menjadi pemukiman yang rukun, makmur, dan penuh kasih seperti sekarang.
BACA JUGA :
Petik Laut Pantai Lampon Banyuwangi Kembali Digelar, Tradisi Sakral Nelayan yang Bertahan Hampir Seabad
Dahulu puluhan tahun silam, di tempat yang masih tertutup rimbun semak belukar dan pepohonan lebat, beliaulah yang berani melangkah paling depan. Dengan ketekunan luar biasa, kekuatan iman yang tak tergoyahkan, serta keikhlasan yang tulus demi beribadah dan mengabdi, Buyut Ruyung Kusumo membabat jalan, mengolah tanah, dan meletakkan batu pertama berdirinya kehidupan di sini. Beliau tidak hanya membangun tempat berteduh, tetapi lebih dari itu — beliau menanam pondasi agama yang kuat, benih persaudaraan yang erat, serta nilai kejujuran dan gotong royong yang hingga kini masih hidup dan menjadi ciri khas masyarakat Dusun Bakalan.
Sejak matahari mulai condong ke barat, jalan menuju lokasi makam sudah ramai dilalui warga dari berbagai usia — mulai dari anak-anak yang digandeng orang tua, para pemuda yang membantu persiapan, hingga para sesepuh yang berjalan perlahan penuh penghormatan. Tak hanya warga setempat, banyak pula peziarah datang dari desa tetangga, wilayah Kecamatan Mijen, hingga penjuru lain di Kabupaten Demak, karena nama dan keteladanan Buyut Ruyung Kusumo selalu dirindukan dan dihormati luas.
Rangkaian acara sore berjalan sangat khidmat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan penyampaian riwayat hidup serta jasa-jasa besar beliau. Kemudian berlangsung doa bersama yang dipimpin para tokoh agama, memohon rahmat dan ampunan bagi almarhum pendiri dusun, serta keselamatan, keberkahan, dan persatuan bagi seluruh warga dan anak cucunya. Doa yang menggema itu terasa menyatu dengan penghormatan mendalam: segala kenyamanan dan kedamaian yang dirasakan hari ini adalah buah dari keringat, pengabdian, dan doa-doa beliau terdahulu.
Setelah doa bersama selesai dan senja berganti malam, rangkaian kegiatan dilanjutkan menuju Masjid Al Mashur. Di tempat yang penuh berkah ini diadakan acara penyerahan santunan bagi anak-anak yatim dan piatu dari lingkungan dusun serta sekitarnya. Langkah mulia ini bukan sekadar tambahan kegiatan, melainkan wujud nyata mengamalkan ajaran dan semangat kasih sayang yang selalu ditanamkan oleh Buyut Ruyung Kusumo — bahwa menjadi warga yang baik berarti selalu peduli kepada mereka yang kurang beruntung, menjaga yang lemah, dan menjadi pelindung bagi anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya.
Di bawah cahaya lampu yang hangat di lingkungan Masjid Al Mashur, wajah-wajah polos anak-anak tampak berseri menerima bantuan dan perhatian penuh kasih. Para warga merasa bahagia dapat berbagi, seolah-olah di momen itu mereka sedang melanjutkan langsung apa yang pasti akan dilakukan oleh pendiri dusun tercinta jika beliau masih hadir secara fisik di tengah kita. Semangat berbagi ini menjadi penutup yang paling indah dan bermakna bagi seluruh rangkaian haul tahunan ini.
Gotong royong yang terlihat nyata sejak awal persiapan, pelaksanaan doa bersama, hingga berakhirnya penyaluran santunan membuktikan satu hal: semangat Buyut Ruyung Kusumo belum pernah hilang. Ia masih hidup di setiap senyum saling bantu, di setiap tegur sapa yang ramah, dan di setiap kebaikan yang mengalir di tanah ini.
Saat malam semakin larut dan acara berakhir, setiap orang pulang membawa hati yang tenang, penuh rasa syukur, serta tekad baru: akan terus menjaga warisan indah ini, menjaga persatuan, dan tetap berjalan di jalan yang telah ditunjukkan pendiri dusun tercinta. Semoga segala pengabdian dan jasa besar Buyut Ruyung Kusumo senantiasa dicatat Allah SWT sebagai amal jariyah yang tak terputus pahalanya, abadi selamanya bersama kasih sayang generasi demi generasi yang lahir dan tumbuh di tanah pemberkahan ini. Edi Purwanto
Prev Article
Polsek Tempursari Wujudkan Kepedulian, Hadiri Khitan Massal BAZNAS Lumajang untuk Masyarakat
Next Article
Bencongan Rayakan 10 Muharam dengan Santuni Yatim dan Dhuafa, Wujudkan Ukhuwah dalam Aksi Nyata