Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Kisah Lisdyarita Plt. Bupati Ponorogo : Menyusutnya Harta Bukti Pengabdian Yang Tulus

PONOROGO II bratapos.com - Seorang pejabat publik seringkali di pandang hanya untuk memperkaya diri sendiri, dengan semakin bertambahnya harta kekayaannya selama berkuasa. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi Lisdyarita, Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Ponorogo. Wanita yang akrab disapa Bunda ini justru mengalami penurunan drastis, mulai dari nilai aset dan kekayaannya selama menjabat sebagai Wakil Bupati Ponorogo selama 2 (dua) periode.

Berdasarkan riwayat catatan dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), total harta kekayaan bersih di tahun 2021 tercatat sebesar Rp 12,9 miliar. Angka itu menyusut tipis pada tahun 2022 menjadi Rp 12,5miliar. Penurunan yang signifikan terjadi pada pada tahun 2023, di mana total kekayaan bersihnya turun drastis menjadi Rp 3,2 miliar.

BACA JUGA : Disensus BPS, Bupati Ipuk Ajak Warga Banyuwangi Jujur Sampaikan Data Ekonomi

Bukan tanpa sebab, Kondisi Lisdyarita kian memburuk ia harus menjual sejumlah aset pribadinya saat awal terjun di dunia dan aktivitas politiknya. Aset tanah dan bangunan dari nilai Rp 12,5 miliar menyusut menjadi Rp. 5,2 miliar, ditambah masih munculnya hutang sebesar Rp 2 miliar. 

"Harta benda hanya titipan Allah, dan semoga menjadi maslahat dan bukannya musibah," Ucap Lisdyarita. Rabu, (24/06/2026).

Tidak hanya tanah dan bangunan, mobil kesayangan Lisdyarita juga terpaksa dijual. Saat itu, hanya 2 ( dua ) unit motor yang digunakan untuk menunjang aktivitas kedua anaknya.

"Banyak orang mengira saya ini masih orang kaya. Alhamdulillah, itu saya anggap do'a yang baik," ungkap Lisdyarita.

Berawal di Tahun 2023 menjadi titik ujian berat bagi Lisdyarita. Suaminya, almarhum Cholik Agus Diyanto, jatuh sakit stroke. Sosok yang menjadi guru politiknya itu tak lagi bisa mendampingi dalam menjalankan aktifitas dan kiprahnya di politik. Di saat yang bersamaan, mesin politik sudah harus dijalankan kembali.

Atas izin suami tercinta, Lisdyarita menjual aset tanah dan bangunan hingga harus menanggung hutang perbankan. Kondisi yang semakin menjadi beban yang harus ia pikul sendiri.

Menurutnya, politik bukanlah strategi berjanji dan berkelit, melainkan bagaimana cara untuk menepatinya. Kekuasaan dan wewenang bukanlah cek kosong, melainkan kekuatan komitmen untuk memenuhi janji politik. Meski berat, ia meyakini bahwa semua pengorbanan itu sepadan dengan terwujudnya kemajuan Ponorogo. 

"Politik itu kemewahan yang mahal, namun bagi saya itu semua sepadan," tegasnya.

Baru pada tahun 2025, ia bisa menyisihkan tabungan untuk membeli mobil bekas tahun 2017 senilai Rp. 291 juta,untuk kendaraan pribadi.

Kini, LHKPN 2025 mencatat sedikit perbaikan. Total harta bersihnya naik menjadi Rp 3,5 miliar, dengan aset tanah dan bangunan tetap Rp. 5,2 miliar, dan beban hutang yang masih sama sebesar Rp. 2 miliar.

Kisah Lisdyarita menjadi bukti bahwa menjadi pejabat publik tidak selalu hidup bergelimang harta. Justru, ia rela mengorbankan harta dan kekayaannya demi mengabdi kepada masyarakat Ponorogo. (Jaya).

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Awali Musim Umrah 2026: PT Zain Haramain Berangkatkan 49 Jamaah, IDAWATI Pastikan Pendampingan Total
Next Article
‎Aksi Heroik Bocah 12 Tahun Berujung Duka di Sungai Kalikening Tuban

Related to this topic:

Be the first to write a comment.