MALANG, BRATAPOS.com — Dugaan penipuan dalam pengurusan rehabilitasi pasien mencuat di Malang. Sejumlah keluarga pasien mengaku dimintai uang hingga puluhan juta rupiah dengan janji adanya bantuan pengurusan dan kepulangan pasien dari tempat rehabilitasi.
Persoalan tersebut kini menyisakan sejumlah pertanyaan. Mulai dari dasar permintaan uang, siapa yang menerima dan mengelola dana, untuk keperluan apa uang tersebut digunakan, hingga sejauh mana pihak-pihak yang disebut dalam proses tersebut terlibat.
BACA JUGA :
Dugaan Perzinahan di Pringgarata Berakhir Restorative Justice, Pimpinan Yayasan Sepakati Perdamaian
Kasus ini disebut bermula dari proses penjemputan pasien dari BNNK Malang menuju tempat rehabilitasi Ashefa pada Jumat (18/9/2026) malam. Sejumlah pasien disebut berkaitan dengan persoalan tersebut, di antaranya berinisial MT, HT, dan TT.
Salah seorang pasien berinisial HT mempertanyakan keberadaan uang yang menurut keterangan keluarga disebut telah diserahkan kepada seseorang berinisial RH atau Reagan Herlambang.
HT mengaku, selama menjalani proses rehabilitasi tidak merasakan adanya pendampingan maupun pengurusan sebagaimana yang sebelumnya dijanjikan.
Keluarga kemudian berupaya meminta penjelasan mengenai penggunaan dana tersebut. Dalam komunikasi melalui WhatsApp, Reagan disebut memberikan jawaban bahwa uang tersebut telah digunakan untuk keperluan hajatan.
Jawaban tersebut, kemudian memunculkan pertanyaan dari keluarga pasien. Mereka mempertanyakan dasar permintaan uang, jumlah dana yang diserahkan, penggunaan uang, serta pihak yang bertanggung jawab atas pengurusan rehabilitasi pasien.
Menurut keterangan pihak keluarga, sejak awal terdapat komunikasi mengenai bantuan pengurusan pasien. Dalam komunikasi tersebut, disebut ada janji bahwa persoalan pasien dapat diselesaikan apabila sejumlah uang disiapkan. Bahkan, pihak keluarga mengaku pernah mendapat pernyataan bahwa peluang pasien untuk dibawa pulang sangat besar apabila uang tersebut tersedia.
“Wes dari awal begitu. Dia memberikan janji, kalau saya bawa duit, 99 persen HT saya bawa pulang,” ungkap pihak keluarga.
Komunikasi tersebut kemudian berlanjut hingga keluarga dapat bertemu dengan pihak yang menawarkan bantuan. Namun, rencana membawa pasien pulang sebagaimana yang sebelumnya dijanjikan pada akhirnya tidak terlaksana. Kondisi itulah yang membuat keluarga mempertanyakan alur pengurusan pasien, sekaligus aliran uang yang telah mereka keluarkan.
Dalam perkembangan informasi tersebut, muncul pula sosok yang disebut dengan panggilan “Abah” berinisial BD. Berdasarkan keterangan salah satu sumber, BD disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan anggota Ditresnarkoba Polda Jatim Unit 3 Subdit 3.
Namun, informasi mengenai identitas, jabatan maupun dugaan keterkaitan BD tersebut belum terverifikasi secara independen. Karena itu, informasi tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai fakta tanpa adanya keterangan resmi dari pihak yang bersangkutan maupun institusi terkait.
Saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut, BD membantah menerima uang maupun terlibat dalam pengurusan dana pasien. BD mengaku, hanya dimintai bantuan oleh Reagan untuk mengantarkan obat dan membantu pasien berkomunikasi dengan keluarganya.
“Lho Mas, saya itu cuma dimintai tolong sama Reagan, ngantar obat sama pasien telepon keluarganya. Cuma itu saja, sekadar nolong saya selaku teman. Sepeserpun saya gak menerima uang,” ujar BD.
BD juga menyatakan keberatan, apabila namanya dikaitkan dengan persoalan tersebut.
“Lakok nyatut-nyatut nama saya, dan terkesan saya diperalat. Bangsat Regan jika seperti itu,” tegasnya.
Pihak keluarga berharap persoalan tersebut dapat diperjelas secara terbuka. Mereka mempertanyakan siapa saja yang terlibat dalam pengurusan pasien, kepada siapa uang diserahkan, serta untuk kepentingan apa dana tersebut digunakan.
Keluarga juga meminta, persoalan tersebut penting diusut serta diperiksa berdasarkan bukti dan keterangan resmi, agar tidak muncul korban lain apabila memang terdapat pihak yang menggunakan nama lembaga atau pejabat tertentu untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Sementara itu, pihak Ashefa ketika dikonfirmasi mengenai nama pasien yang disebut serta informasi mengenai biaya rehabilitasi yang mencapai puluhan juta rupiah mengatakan masih akan melakukan pengecekan.
Pihak Ashefa menyampaikan dirinya sedang berada di Jakarta, sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih jauh mengenai data pasien maupun rincian biaya rehabilitasi.
“Akan saya cek dulu ya, soalnya saat ini saya sedang berada di Jakarta,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (24/9/2026).
Selanjutnya, terkait keterangan resmi mengenai status pasien, rincian biaya, serta mekanisme pembayaran masih menunggu hasil pengecekan dari pihak Ashefa.
BRATAPOS.com telah berupaya meminta konfirmasi kepada RH maupun pihak lain yang disebut melalui WhatsApp. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh tanggapan dan pesan yang dikirim masih menunjukkan status centang satu.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang disebut dalam pemberitaan ini untuk memberikan klarifikasi maupun penjelasan sesuai fakta dan bukti yang dimiliki. (lor)
Pewarta: SHELOR
Publisher: Kepala Cabang Bratapos Media Wilayah Semeru