Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Ajang Merdeka Run 2026 Jadi Sorotan Publik, Ortu Peserta Duga Ada Main Belakang

PONOROGO II bratapos.com - Ajang Merdeka RUN Ponorogo 2026 jadi sorotan publik. Terkait adanya insiden diskualifikasi peserta pelari cilik kategori 10K yang disebut panitia tidak memenuhi sejumlah persyaratan yang sudah ditentukan, yaitu tidak membawa Handphone/GPS dan Personal Aid Kit.

Kali ini, ditambah persoalan baru muncul setelah hasil klasifikasi peserta menunjukkan adanya peserta yang sama-sama mendapat penalty time namun tetap menempati posisi podium, sementara peserta lain dengan jenis pelanggaran yang disebut serupa justru tidak masuk dalam daftar juara.

BACA JUGA : Ribuan Warga Padati Jalan Sehat HUT RI ke-81 di Desa Curug Sangereng

Ini berdasarkan informasi yang disampaikan panitia Merdeka RUN Ponorogo melalui pesan WhatsApp, penentuan podium 1, 2, dan 3 mengacu pada hasil verifikasi dari Gelar in. Peserta wajib memenuhi sejumlah ketentuan, di antaranya menggunakan nomor peserta yang dilengkapi GPS, membawa perangkat Handphone/GPS, serta Personal Aid Kit (P3K).

1. Mita, potensial juara 1, mendapat penalty time +25 menit karena disebut tidak menggunakan GPS dan tidak membawa P3K.

2. Alifia Ratu Askha — potensial juara 2, mendapat penalty time +25 menit dengan keterangan yang sama, yakni tidak menggunakan GPS dan tidak membawa P3K.

3. Lily — potensial juara 3, mendapat penalty time +15 menit karena tidak membawa P3K.

4. Syifa — potensial juara 4, dinyatakan lengkap sehingga tidak mendapat penalty time.

Dalam hasil akhir yang disampaikan oleh Panitia, Mita tetap ditetapkan sebagai juara 1, Syifa sebagai juara 2, dan Lily sebagai juara 3. Sementara Alifia Ratu Askha tidak masuk podium atau tetap kena Diskualifikasi, meskipun sebelumnya juga sudah disebutkan panitia sebagai juara 2.

Kondisi ini yang juga sebagai pemicu timbulnya pertanyaan dari salah satu keluarga peserta. Mereka mempertanyakan bagaimana dasar perhitungan akhir dilakukan apabila penalty time diberlakukan kepada beberapa peserta dengan konsekuensi berbeda, dan menilai panitia perlu memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak muncul kesan tebang pilih.

“Apa bedanya? Yang juara satu juga sama-sama kena penalty time +25 menit, tetapi tetap menjadi juara satu. Sementara Alifia Ratu Aska yang juga mendapat penalty time +25 menit justru tidak masuk podium. Ini jelas ada dugaan ada main belakang, ” tegas Anang Sastro.

Menurutnya, persoalan utama bukan sekedar hasil perlombaan, melainkan konsistensi penerapan aturan dan transparansi mekanisme penilaian yang jelas berdasarkan aturan.

Jika memang pelanggaran tertentu harus berujung pada diskualifikasi, peserta mempertanyakan apakah ketentuan tersebut berlaku sama kepada seluruh peserta. Sebaliknya, apabila penalty time hanya mengurangi catatan waktu dan peserta tetap berhak masuk podium, dasar penerapannya juga perlu dijelaskan secara terbuka.(Jaya).

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Hartono S. Kom Aktif Dorong Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Sebagai Upaya Memutus Rantai Kemiskinan
Next Article
Ribuan Warga Pakulonan Barat Tumpah Ruah di Karnaval Budaya HUT RI Ke-81

Related to this topic:

Be the first to write a comment.