Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

“Ngosrek” Situ Cigangsa: Ketika Wisata Dimulai dari Karakter Masyarakat

KOMENTAR 1625

oleh : Ramaldi (wartawan Purwakrta)

Purwakarta | bratapos.com - Saat berbicara soal pengembangan pariwisata, kebanyakan orang langsung membayangkan infrastruktur megah, promosi gencar, atau spot-spot Instagramable. Namun, pendekatan berbeda ditunjukkan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, lewat program unik bertajuk “Ngosrek”. Bukan sekadar blusukan, “ngosrek” menjadi simbol komitmen untuk membangun pariwisata dari akar rumput: masyarakat.

BACA JUGA : Dugaan Hubungan Terlarang Pengusaha Wifi dan Pengusaha Ayam Potong Di Ngajum Malang, Berakhir Damai

Kunjungan Bupati ke Situ Cigangsa, Selasa pagi 15 April 2025, bukanlah seremoni biasa. Ia tidak datang dengan rombongan besar atau sambutan formal. Sebaliknya, ia hadir sebagai seorang pemimpin yang ingin melihat langsung dinamika sosial dan kondisi lingkungan sekitar danau. Ia menanyakan satu hal mendasar: sudah siapkah karakter masyarakat menjadi tuan rumah yang baik bagi para wisatawan?

Inilah kunci yang sering terlupakan dalam pengembangan pariwisata: kesadaran dan partisipasi warga. Banyak destinasi dibangun megah, tetapi gagal menarik wisatawan karena lingkungan sekitar tidak ramah, kotor, atau bahkan rawan konflik sosial. Padahal, keindahan alam hanya akan menjadi nilai tambah jika karakter masyarakatnya mendukung.

Bupati Saepul Bahri memahami bahwa keberhasilan Situ Cigangsa sebagai destinasi unggulan tidak bisa dipaksakan dari atas. Ia menyadari bahwa perubahan dimulai dari kesadaran warga akan pentingnya menjaga kebersihan, kenyamanan, dan ketertiban lingkungan. “Percuma saja kita jadikan tempat ini destinasi wisata unggulan kalau daya dukung karakter masyarakatnya rendah,” ucapnya dengan jujur.

Oleh karena itu, “ngosrek” bukan hanya aksi simbolik, tapi sebuah metode kepemimpinan partisipatif. Ia datang, mendengar, dan mengajak warga untuk terlibat langsung. Ini menjadi awal yang sangat baik untuk membangun destinasi wisata berkelanjutan—karena fondasinya bukan beton, melainkan karakter dan gotong royong.

Jika program ini terus konsisten dijalankan, Situ Cigangsa bukan hanya akan menjadi tempat wisata yang indah, tetapi juga contoh nyata bagaimana pariwisata bisa tumbuh dari hati masyarakat itu sendiri.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Genjot PAD, DISBUDPARPORA Ponorogo Targetkan 6,4 Miliar Di Tahun 2025
Next Article
Penasehat Hukum Hajji Masrah Alias Amaq Nas MemPraperadilankan Polres Lombok Tengah Terkait Dugaan Pemalsuan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.