Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Ketika Laba dan Skandal Bertemu: Bank Jatim, Kepemimpinan, dan Diam yang Mencemaskan

Oleh: [Witnyo S.Psi]

Bank Jatim mencatatkan prestasi besar: laba bersih mencapai Rp1,28 triliun dan pembagian dividen Rp821,49 miliar. Capaian ini menempatkan bank milik daerah tersebut di puncak daftar Bank Pembangunan Daerah (BPD) se-Indonesia.

BACA JUGA : A Moment of Togetherness Ahead of Eid al-Adha 1447 H at Mr.ABBAS Senggigi's Residence

Namun, publik juga dikejutkan oleh laporan dugaan pembobolan dana hingga Rp569,4 miliar. Hingga kini, belum tampak respons terbuka atau penjelasan resmi dari para pemegang kepemimpinan tertinggi provinsi.

Kasus ini membuka ruang refleksi: bahwa pertumbuhan angka keuangan saja tidak cukup. Di balik grafik dan laporan tahunan, publik juga butuh jaminan integritas dan akuntabilitas.

Sikap diam dari para pemimpin daerah bukan hanya soal komunikasi yang kurang. Dalam konteks demokrasi, hal itu bisa dibaca sebagai ketidaksiapan menghadapi krisis kepercayaan. Rakyat bukan hanya menanti kinerja keuangan, tapi juga kepemimpinan yang terbuka dan berani menjawab persoalan.

Gubernur Khofifah memang menyatakan niat menguatkan tata kelola dengan menggandeng lima provinsi dalam skema Kelompok Usaha Bank (KUB). Itu langkah strategis. Namun, keberanian mengoreksi diri dan memberi penjelasan kepada publik juga bagian dari prinsip Good Corporate Governance.

Bank Jatim telah berkontribusi besar bagi pendapatan daerah. Tapi ketika isu dugaan penyimpangan muncul tanpa respons, publik bisa menilai bahwa kepercayaan tidak mendapat tempat yang layak.

Kita tidak sedang kekurangan prestasi, tapi mungkin sedang kekurangan keteladanan. Keteladanan lahir dari keberanian menyampaikan kebenaran, bukan hanya saat semuanya tampak baik-baik saja, tapi juga saat badai datang mengetuk.


---

Penulis adalah jurnalis media online di Jawa Timur. Tulisan ini disusun secara independen dan sebagian dibantu dengan teknologi AI.

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Kado Istimewa, Pemkab Ponorogo Terima Sertifikat Penghargaan Dari UNESCO Dalam Upacara Pembukaan Perayaan Grebeg Suro 2025
Next Article
Akibat Langgar Keterbukaan Informasi Publik, Mantan Kades Wedoroanom Diadili di PN Gresik

Related to this topic:

Be the first to write a comment.