Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Gandrung Sewu 2025 Pecahkan Rekor.!! Tradisi Jadi Mesin Ekonomi, Perputaran Uang Capai Rp 8,5 Miliar

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Festival Gandrung Sewu 2025 kembali meneguhkan posisinya sebagai magnet ekonomi dan budaya terbesar di ujung timur Pulau Jawa. Digelar di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, pada 23–25 Oktober 2025, pesta budaya kolosal yang melibatkan ribuan penari ini tidak hanya memukau puluhan ribu penonton, tetapi juga mencatatkan rekor ekonomi baru dengan total perputaran uang mencapai Rp 8,5 miliar.

Angka tersebut dirilis resmi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Kamis (30/10/2025) yang menunjukkan peningkatan 7,6 persen dibanding tahun sebelumnya (Rp 7,9 miliar). Lonjakan ini menandai konsistensi Banyuwangi dalam menjadikan sektor budaya sebagai lokomotif ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.

BACA JUGA : Pembinaan Wahidiyah DI Hongkong : Kanjeng Romo Kyai Abdul Majid Ali Fikri RA Bangkitkan Semangat Juang Pengamal

UMKM Jadi Penggerak Utama

Denyut ekonomi terbesar berasal dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sebanyak 200 pelaku UMKM yang berpartisipasi di area festival dan sekitarnya mencatatkan transaksi hingga Rp 2,88 miliar.

Selvi, pedagang bakpao yang berjualan di sekitar Jalan Kepiting, mengaku omzetnya naik dua kali lipat selama festival berlangsung.

“Alhamdulillah, hari ini saja bisa tembus Rp 2 juta. Biasanya paling banyak Rp 1 juta. Gandrung Sewu selalu membawa berkah,” ujarnya dengan senyum lebar.

Hal senada disampaikan Ulah, penjual es teler yang juga berpartisipasi di arena festival mengungkapkan lonjakan serupa.

“Omzet kami naik berkali-kali lipat. Kami berterima kasih, Gandrung Sewu memberi panggung besar bagi UMKM lokal untuk bangkit dan berdaya,” ungkapnya.

Okupansi Hotel Sentuh 100 Persen

Sektor akomodasi pun turut menikmati limpahan manfaat. Tingkat okupansi hotel dan homestay di Banyuwangi dilaporkan mencapai 100 persen dengan nilai transaksi sekitar Rp 2,175 miliar.

Menurut Suwito, Sales Executive Illira Hotel Banyuwangi, tingkat hunian melonjak tajam selama pelaksanaan event.

“Sejak 23 Oktober, kamar sudah penuh 90 persen. Puncaknya pada hari utama, semua kamar terisi 100 persen,” ujar Suwito.

Hal serupa diungkapkan Ahmad Junaidi, Assistant Sales Manager Kokoon Hotel Banyuwangi.

“Event ini luar biasa. Gandrung Sewu bukan sekadar atraksi budaya, tapi multiplier effect-nya sangat terasa bagi sektor pariwisata dan perhotelan,” ungkap Junaidi.

Kuliner dan Oleh-Oleh Ikut Panen Berkah

Sektor kuliner dan pusat oleh-oleh juga kebanjiran pembeli. Rata-rata peningkatan omzet berkisar 80 hingga 100 persen, dengan total transaksi mencapai Rp 750 juta.

Manajer Pusat Oleh-Oleh Osing Deles, Edwin Junianto, menuturkan bahwa penjualan melonjak hingga 40 persen dibanding hari biasa.

“Banyak wisatawan membeli produk khas Banyuwangi sebagai buah tangan. Event seperti ini benar-benar menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Ari Santi Marhaeni, penanggung jawab Ajeg Resto dan Langgeng Kitchen, menyebut lonjakan pengunjung mencapai 40 persen.

“Di Langgeng Kitchen, banyak tamu luar kota datang setelah acara. Sedangkan di Ajeg Resto, peningkatan sudah terasa bahkan sebelum gladi resik,” ujarnya.

2.500 Pelaku Seni Terlibat Langsung

Festival ini juga membuka lapangan kerja dan peluang ekonomi bagi 2.500 pelaku seni serta tenaga pendukung. Anggaran produksi event mencapai Rp 870 juta, disertai swadaya peserta sebesar Rp 1,147 miliar, menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan.

Pendapatan dari sektor penunjang juga ikut mengalir. Penerimaan parkir roda dua dan empat diperkirakan mencapai Rp 50–80 juta, sedangkan tiket masuk Pantai Marina Boom menghasilkan tambahan Rp 121 juta.

Sinergi Budaya dan Ekonomi

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sebelumnya menegaskan bahwa setiap event budaya di Banyuwangi harus membawa manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.

“Kekuatan budaya seperti Gandrung Sewu bukan hanya menjaga tradisi, tapi juga menghidupkan ekonomi rakyat. Inilah wujud nyata dari pembangunan berbasis kebudayaan,” kata Bupati Ipuk.

Dengan capaian total perputaran ekonomi Rp 8,5 miliar, Gandrung Sewu 2025 tidak sekadar menjadi perayaan seni, melainkan model sukses bagaimana kearifan lokal bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Festival ini membuktikan bahwa pariwisata berbasis budaya bukan hanya atraksi, tapi juga strategi ekonomi masa depan Banyuwangi. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Diduga Mengedarkan Narkotika Jenis Sabu, Dua Orang Pria di Sumenep Ditangkap Polisi
Next Article
Membangun Desa Sadar Hukum, Desa Mentaras Gandeng YLBH FT

Related to this topic:

Be the first to write a comment.