Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

1 Muharram: Saatnya Hijrah dari Seremoni Menuju Solusi Umat

BANYUWANGI || Bratapos.com — Menyambut Tahun Baru Islam dengan lantunan dzikir dan munajat sepanjang malam telah menjadi tradisi yang mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim Nusantara. Di berbagai daerah, termasuk di Banyuwangi, kegiatan ini rutin digelar oleh PCNU sebagai bentuk ekspresi spiritualitas kolektif umat. Dzikir massal seolah menjadi penanda dimulainya lembaran baru dalam kalender hijriah, yang diharapkan menghadirkan keberkahan dan harapan baru.

Muhammad Iqbal Alfanani, sebagai seorang akademisi dan Pengkaji Islam Sosial, berupaya memadukan kepekaan ruhani dengan rasionalitas ilmiah.

BACA JUGA : Santunan Perkuat Pembangunan Di KP Cibogo Kulon RW 02 Kelapa Dua

"Saya merasa perlu, mengajak umat Islam untuk merenung lebih jauh. Apakah tradisi dzikir malam 1 Muharram masih relevan dan berdampak dalam konteks dakwah kontemporer?. Ataukah kita telah terjebak dalam siklus seremoni yang kian menjauh dari ruh transformasi, yang sejatinya menjadi inti ajaran Islam?," ungkapnya, kepada Bratapos.com pada Rabu (11/06/2025) sore.

Dzikir: Sarana, Bukan Tujuan Akhir

Dalam perspektif konseptual, dzikir bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan kesadaran spiritual, memperbaiki diri, dan mendorong perubahan sosial. Namun, jika dzikir dilakukan hanya secara massal, sepanjang malam, tanpa muhasabah yang terstruktur, tanpa agenda hijrah yang membumi, serta tanpa tindak lanjut yang terukur, maka ia berisiko kehilangan substansi. 

"Ia bisa berubah menjadi sekadar ritual kosong, sebagaimana yang dikritik Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin: Ritual tanpa ruh hanyalah kebisingan yang disalahpahami sebagai kesalehan," tuturnya.

Patut kita tanyakan secara kritis:

● Apakah dzikir malam 1 Muharram mampu melahirkan pribadi-pribadi Muslim yang lebih jujur, adil, dan amanah?

● Apakah kegiatan ini diikuti dengan agenda muhasabah sosial, peta jalan perubahan, atau program konkret pemberdayaan umat?

● Ataukah kita hanya mengulang bentuk tanpa makna, simbol tanpa isi?

Seremoni vs Efisiensi Sosial

Dalam konteks manajemen waktu dan energi umat, dzikir yang berlangsung semalam suntuk tentu tidak inklusif bagi semua kalangan. Lansia, pelajar, pekerja, bahkan masyarakat sekitar yang tidak terlibat langsung, bisa terdampak secara fisik dan psikologis. 

"Jika kegiatan keagamaan tidak adaptif terhadap realitas sosial, maka potensi gangguan justru lebih besar dari manfaatnya," ujarnya.

Kita perlu jujur, bahwa banyak kegiatan seremonial yang meninggalkan kesan haru sesaat, namun tidak menyisakan perubahan sosial yang nyata. Dalam era digital dan krisis multidimensi, efisiensi dakwah menuntut langkah-langkah strategis dan berdampak. 

"Islam mengajarkan amal nyata, bukan sekadar tangis berjamaah," tegasnya.

Teladan Rasulullah: Dakwah sebagai Gerakan Sosial

Sejarah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa momentum hijrah bukan diperingati dengan perayaan malam dzikir saja, melainkan dijadikan titik tolak perubahan sosial-politik. Nabi membangun pasar Muslim, menyusun sistem hukum baru, mempersatukan kelompok sosial, hingga merancang Mitsaq al-Madinah sebagai konstitusi bersama masyarakat plural.

Dengan kata lain, hijrah adalah proses revolusi spiritual dan sosial, bukan sekadar peristiwa yang diperingati. "Maka dari itu, 1 Muharram seharusnya dijadikan panggung hijrah kolektif, bukan hanya ritual kolektif," kata pria yang akrab disapa Gus Iqbal itu.

NU: Dari Kebersamaan Menuju Gerakan

Sebagai organisasi Islam terbesar, NU memiliki modal sosial dan jaringan yang luas untuk menggeser fokus dari seremoni ke solusi. Kita tidak mengingkari pentingnya dzikir, tetapi kita mendesak agar dzikir dikontekstualisasikan dalam bentuk aksi nyata: edukasi Islam berbasis data umat, dakwah sosial yang menyentuh akar masalah, konsolidasi umat, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis syariah.

Bayangkan, jika malam 1 Muharram tidak hanya diisi dengan tangisan dan lantunan wirid, tetapi juga menjadi awal gerakan perubahan. Dibarengi dengan peluncuran program dakwah lintas desa, sosialisasi Islam ramah lingkungan, pendampingan keluarga dhuafa, atau pemberdayaan pemuda berbasis kewirausahaan syariah.

"Mari kita ubah narasi spiritual, dari yang semata emosional menjadi fungsional," ajaknya.

Penutup: Islam yang Bergerak, Bukan yang Menangis

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ra’d ayat 11:

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسه

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan tidak datang dari langit sebagai hadiah, melainkan harus dijemput dengan kesadaran dan kerja keras. Maka, mari kita jadikan 1 Muharram bukan hanya malam dzikir, tetapi momentum hijrah menuju Islam yang hidup dan menghidupkan.

"Kita tidak menolak dzikir, kita menolak kekosongan dalam dzikir. Kita tidak menolak kebersamaan, kita menolak kebersamaan yang tidak menghasilkan perubahan," tutupnya. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Ketua DPRD Buru Berharap Dengan Adanya Batalion Baru,Putra Daerah Menjadi Prioritas Utama  Menjadi TNI
Next Article
Aplikasi Digital : Solusi Efisien Dalam Kerjasama Pemerintah Dan Media

Related to this topic:

Be the first to write a comment.