Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Sinergi Petani dan Polresta Banyuwangi Berbuah Hasil, Budidaya Jagung di Glenmore Siap Panen

BANYUWANGI || Bratapos.com – Upaya membangun kemandirian pangan di Kabupaten Banyuwangi menunjukkan hasil menggembirakan. Lahan jagung seluas 20 hektare di kawasan PT Perkebunan Glend Falloch, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, kini memasuki masa panen tahap kedua.

Program ini merupakan bagian dari inisiatif ketahanan pangan yang diinisiasi Polresta Banyuwangi, melibatkan kolaborasi lintas sektor antara aparat kepolisian, petani lokal, serta pihak swasta. Jagung-jagung yang dibudidayakan sejak lebih dari tiga bulan, kini menunjukkan hasil yang menjanjikan.

BACA JUGA : Santai Seaplane Pilih Banyuwangi sebagai Basis Operasional Pertama di Indonesia, Buka Era Wisata Udara Premium

Dari total 30 hektare lahan yang dikelola, 20 hektare dimanfaatkan untuk produksi jagung konsumsi, sementara 10 hektare lainnya difokuskan untuk pengembangan benih lokal unggulan. Pendekatan ini tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga memperkuat fondasi keberlanjutan pertanian lokal.

“Ini bukan sekadar panen. Ini adalah bukti nyata bagaimana sinergi antara petani, aparat, dan masyarakat bisa menjawab tantangan besar seperti ketahanan pangan,” ujar Kompol Akhmad Ali Masduki, Kabag SDM Polresta Banyuwangi.

Selama proses budidaya, aparat kepolisian tidak hanya hadir sebagai inisiator, tetapi juga terlibat langsung dalam pendampingan teknis, mulai dari proses tanam hingga pemeliharaan tanaman. Tantangan seperti cuaca ekstrem dan potensi serangan hama, berhasil diatasi berkat koordinasi dan kerja sama semua pihak.

Jagung dipilih karena relatif mudah dibudidayakan, adaptif terhadap iklim, serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain menjadi komoditas pangan strategis, jagung juga memberikan peluang tambahan pendapatan bagi warga desa.

“Kami menggunakan benih lokal hasil swadaya. Ini adalah simbol kemandirian dan harapannya bisa direplikasi di daerah lain,” tutur seorang petani yang terlibat dalam program ini.

Panen tahap kedua ini bukan hanya memperkuat stok pangan lokal, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan pendekatan lintas sektor yang holistik. Dari desa, model ini berpotensi menjadi inspirasi nasional dalam membangun ketahanan pangan berbasis komunitas. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Banyuwangi Mantapkan Langkah Menuju BEC 2025: Pembekalan Teknis hingga Pemilihan Mayoret Dimulai
Next Article
Perkuat Kesiapsiagaan Teritorial, Kodim 0825/Banyuwangi Gelar Latnister Hanpangan Proglatsi Sistem Blok

Related to this topic:

Be the first to write a comment.