Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Satu Dekade Paguyuban Bidan Purna Tugas SEROJA, Silaturahmi dan Kebersamaan yang Tak Lekang Waktu

BANYUWANGI || Bratapos.com – Kebersamaan para bidan purna tugas di Banyuwangi yang tergabung dalam Paguyuban SEROJA (Sehat Rohani dan Jasmani) terus terjalin erat hingga kini. Memasuki usia satu dekade, organisasi yang beranggotakan para mantan bidan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) tersebut menggelar acara Temu Kangen dan Tasyakuran 10 Tahun pada Rabu (10/9/2025), bertempat di Resto Kopi Bukit Osing Wonderland, Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri sekitar 50 anggota, termasuk bidan yang baru memasuki masa purna tugas. Hadir pula para sesepuh sekaligus penggerak awal paguyuban, di antaranya Bu Sukartini Gatot, Mudawamah, Amd.Keb., Wagirah, Rahayu Wahyu Diati, dan Endang Tulus. Mereka selama ini dikenal sebagai figur panutan yang menjaga kekompakan komunitas mulia ini.

BACA JUGA : Izin Kedaluwarsa Sejak 2024, Pemkot Madiun Belum Ambil Langkah Tegas terhadap Operasional Parkir PT JPC

Paguyuban Seroja pertama kali terbentuk pada 24 Mei 2015 di rumah Bu Sukartini Gatot, dengan jumlah anggota awal hanya 16 orang. Meski tanpa AD/ART maupun visi yang muluk-muluk, niat sederhana untuk saling bertemu, bersilaturahmi, dan melepas rindu menjadi fondasi utama keberadaan paguyuban. Pertemuan pun digelar tanpa jadwal kaku, kadang dua bulan sekali, kadang tiga hingga empat bulan sekali, semua bergantung pada rasa rindu antar anggota.

“Sejak awal kami hanya ingin menjaga silaturahmi. Tidak ada tujuan lain, cukup menjadi wadah kebersamaan setelah masa pengabdian sebagai bidan usai,” kata salah satu sesepuh, Wiwik Subagio, yang juga bertugas sebagai MC acara.

Ketua Panitia, Mudawamah, dalam sambutannya menegaskan bahwa masa purna bukanlah akhir dari pengabdian. Justru menjadi momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus mempererat tali persaudaraan. Ia juga mengingatkan perjuangan para bidan senior di masa lalu.

“Kami pernah bekerja dengan penerangan lampu oncor, tanpa listrik, tanpa teknologi. Alat medis serba terbatas, tapi tugas mulia tetap dijalankan dengan ikhlas dan penuh dedikasi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, lanjutnya, mereka bersyukur melihat generasi penerus yang telah menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang S3. Semua itu menjadi bukti bahwa pengabdian masa lalu memberi arti besar bagi perjalanan generasi saat ini.

Ketua IBI Banyuwangi periode 2023–2028, Bd. Yulianingsih, SST., MM.Kes., turut hadir dan memberi apresiasi. Ia menyebut kekompakan Paguyuban Seroja sebagai teladan bagi para bidan aktif.

“Kami bangga melihat ibu-ibu Seroja tetap solid dan penuh inspirasi. Kekompakan ini adalah warisan berharga bagi generasi kami. InsyaAllah sinergi antara senior dan junior akan terus kami jaga,” ungkap Yulianingsih.

Ia juga memaparkan, bahwa saat ini IBI Banyuwangi memiliki sekitar 1.800 anggota aktif yang tersebar di 25 kecamatan. Sebagian sudah menduduki posisi strategis, mulai dari kepala puskesmas, anggota DPRD, hingga Wakil Bupati. Meski begitu, tantangan besar tetap ada, terutama dalam menghadapi transformasi digital dan regulasi baru.

Selama 10 tahun perjalanan, Seroja tak hanya dipenuhi tawa, tapi juga duka. Enam anggota tercatat telah berpulang mendahului. Nama mereka selalu disebut dalam doa bersama, menjadi bagian dari sejarah yang tak terlupakan.

“Meski beberapa sahabat telah mendahului, semangat kebersamaan ini tidak boleh pudar. Seroja adalah rumah bagi kita semua, baik senior maupun yang baru pensiun,” ujar Rahayu Wahyu Diati, salah satu penggerak awal paguyuban Seroja.

Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bu Sukartini Gatot sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan 10 tahun Paguyuban Seroja. Potongan tumpeng pertama diberikan kepada anggota tertua dan termuda, melambangkan estafet semangat silaturahmi lintas generasi.

Suasana hangat semakin meriah dengan digelarnya berbagai lomba. Salah satunya Lomba Lansia Ceria, di mana peserta dibagi kelompok untuk menyanyikan lagu-lagu nasional secara sambung. Gelak tawa dan sorak riang mewarnai jalannya perlombaan.

Ada pula Lomba Aku Bisa yang menguji ketangkasan peserta menebak nama Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Kedua lomba tersebut menghadirkan keceriaan sekaligus nostalgia, menambah erat persaudaraan antar anggota.

Paguyuban Seroja diharapkan tak hanya menjadi wadah temu kangen, tetapi juga ruang saling mendukung, berbagi pengalaman, serta memperkuat ikatan batin di usia senja.

“Semoga Paguyuban Seroja senantiasa menjadi sumber semangat, cinta, dan doa bagi kita semua. Tidak hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menapaki masa depan dengan persaudaraan yang tulus,” tutur Mudawamah, dalam doa penutup yang mengakhiri seluruh rangkaian acara. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Rakornas, Gresik Terapkan Jam Operasional Truk, Pelanggar Terancam Sanksi Berat
Next Article
Rekrutmen Perangkat Desa Banget Berjalan Lancar, Hendra Kurniawan Terpilih sebagai Kaur Tata Usaha dan Umum

Related to this topic:

Be the first to write a comment.