Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Edisi ke-70 Purnama Sastra Bojonegoro: Bunda Cantika Bacakan Puisi Cinta Tanah Kelahiran

Bojonegoro – Suasana penuh kehangatan dan apresiasi seni mewarnai edisi ke-70 Purnama Sastra Bojonegoro yang digelar Sabtu malam (14/6) di Taman Rajekwesi. Ajang rutin bulanan ini kembali menjadi panggung ekspresi sastra dan budaya lokal yang memikat, dengan suguhan puisi, geguritan, macapat, musik etnik, dan monolog.

Malam itu terasa istimewa berkat kehadiran Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Hj. Cantika Wahono, yang tak hanya memberikan sambutan, tetapi juga membacakan puisi karyanya sendiri berjudul “Bojonegoro: Di Dadamu Kami Pulang.” Puisi tersebut menjadi puncak haru acara, mengungkapkan rasa cinta yang mendalam terhadap tanah kelahiran, dan mengundang tepuk tangan panjang dari para pengunjung dan seniman yang hadir.

BACA JUGA : Keluarga Ahli Waris Samoe Nurlatu Pasang Spanduk Larangan Aktivitas Di Lahan Pagar Seng Gunung Botak

“Bojonegoro bukan sekadar kota kecil di ujung mata angin,
tapi puisi panjang yang ditulis bumi dengan tinta minyak, air, dan kasih para abdi,”

kutip Cantika dari puisinya yang menyentuh dan menggugah.

Dalam sambutannya, Cantika menegaskan pentingnya ruang budaya sebagai sarana memperkuat identitas lokal dan karakter generasi muda. Menurutnya, Bojonegoro memiliki kekayaan seni yang harus terus dirawat dan diwariskan.

Tak hanya puisi, malam itu juga dimeriahkan penampilan musik oklik dari Sanggar Penta Iswara SMPN 5 Bojonegoro, yang dibina oleh Darminto. Irama perkusi dan nuansa etnik berpadu harmonis dengan atmosfer sastra, menciptakan pengalaman artistik yang menggugah.

Beberapa seniman lintas generasi juga turut memeriahkan panggung, seperti Suyanto MYK, Burhanudin Joe, Agus Sighro Budiono, Eko Peye, Yuli Sedeng, Ariyoko, dan para pegiat seni serta literasi lokal lainnya.

Mengangkat tema besar “Merawat Aksara, Menyemai Rasa,” Purnama Sastra Bojonegoro edisi ke-70 kembali membuktikan perannya sebagai ruang alternatif untuk menyuarakan cinta, kritik, dan harapan melalui seni.

Dengan semangat yang terus menyala, Purnama Sastra tak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga rumah kreativitas dan wadah silaturahmi bagi warga Bojonegoro yang mencintai akar budayanya.
(Yonek)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
KH. Ir. Achmad Wahyudi Nyalakan Obor "Nelesi Ati": Dari Tafsir Al-Qur’an Menuju Aksi Sosial
Next Article
Diduga Ilegal, Aktivitas Penambangan Tanah Urug di Bantaran Mbiting Kota Madiun Disorot

Related to this topic:

Be the first to write a comment.