Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Aliansi Setia Nawaksara Indonesia Kecewa.!! Hearing DPRD Banyuwangi Dinilai Tak Serius Bahas Tambang Tupang Pitu

BANYUWANGI, BRATAPOS.com — Aliansi Setia Nawaksara Indonesia menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap pelaksanaan Hearing di DPRD Banyuwangi, Kamis (30/10/2025). Ketua Umum Aliansi, Raden Teguh Firmansyah, menilai forum yang seharusnya menjadi ruang serius membedah persoalan tambang emas Tumpang Pitu justru kehilangan arah dan substansi.

Pasalnya, Hearing tersebut digabungkan dengan dua lembaga lain tanpa kejelasan tema maupun fokus bahasan. Bagi Raden Teguh, langkah itu justru mengaburkan esensi perjuangan rakyat Pesanggaran dan Siliragung yang selama ini terdampak langsung aktivitas pertambangan.

BACA JUGA : Pembinaan Wahidiyah DI Hongkong : Kanjeng Romo Kyai Abdul Majid Ali Fikri RA Bangkitkan Semangat Juang Pengamal

“Ini bukan reuni, bukan pesta ria. Kami datang bukan untuk makan sate bersama, tapi untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat,” tegas Raden dengan nada kecewa.

Menurutnya, penggabungan agenda tersebut mengubah wajah Hearing menjadi ajang seremonial semata, jauh dari semangat awal untuk mencari solusi konkret atas dampak sosial dan ekologis tambang emas di selatan Banyuwangi.

Raden menegaskan bahwa perjuangan yang dibawa Aliansi Setia Nawaksara Indonesia murni untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan politik atau kelompok tertentu. Ia menilai, perjuangan mereka bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal moral, keadilan, dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

“Kami menghormati perbedaan pendapat, tapi kami tidak akan tunduk pada kompromi yang menutup mata terhadap penderitaan rakyat. Kami berbeda, karena kami berpihak pada rakyat,” ujar aktivis yang juga dikenal sebagai pemerhati Filsafat Logika Berpikir itu.

Lebih lanjut, Raden menilai DPRD sebagai lembaga representatif rakyat telah kehilangan marwahnya jika forum seperti Hearing hanya menjadi formalitas tanpa keberanian menyentuh akar persoalan. Ia menegaskan, bila ruang dialog tidak lagi berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik, maka langkah nyata di lapangan menjadi pilihan logis.

“Ketika ruang dialog hanya dijadikan panggung formalitas, maka logika berpikir kita harus beralih pada aksi nyata. Lebih baik kami turun ke jalan bersama rakyat, dari pada duduk manis di ruang rapat yang menutup mata terhadap kebenaran,” tandasnya.

Aliansi Setia Nawaksara Indonesia mendesak DPRD Banyuwangi menggelar Hearing khusus dan independen, yang secara tegas memfokuskan pembahasan pada isu tambang Tumpang Pitu tanpa dicampur agenda lembaga lain.

“Banyuwangi tidak butuh seremoni. Banyuwangi butuh keberanian moral dan logika keadilan,” pungkas Raden Teguh Firmansyah. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Proyek Sumur Bor Pokir di Magetan Gagal Mengalirkan Air, Janji Tinggal Janji
Next Article
Ketua Fraksi Gerindra Banyuwangi SIDAK Penyaluran BPNT di Gumirih, Bongkar Dugaan Manipulasi Dana Bantuan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.