Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Politik Desa yang Menikam dari Belakang

Oleh: Witnyo, S.Psi

Di sebuah desa di Kabupaten X, politik bukan lagi sekadar memilih siapa yang memimpin. Ia telah berubah menjadi seni memeluk satu sisi, sambil diam-diam menyiapkan pisau untuk sisi lain.

BACA JUGA : Haedar Nashir dan Martabat Pers Indonesia

Arga (bukan nama sebenarnya) dulunya adalah pemuda yang selalu siap membantu warga—menggotong kursi saat hajatan, memikul karung saat panen, hingga memperbaiki genteng mushola tanpa diminta. Semua mengenalnya, semua tersenyum saat menyapanya.

Semua berubah setelah pemilihan kepala desa tahun 2024. Keluarga Arga dianggap berada di “kubu yang salah”. Awalnya hanya tatapan miring di warung kopi. Lalu, sapa yang biasanya ramah berubah menjadi diam kaku. Undangan hajatan pun tak lagi mampir ke rumah mereka.

Yang lebih pahit, bahkan saudara sedarah mulai menjaga jarak. Mereka takut ikut terseret, takut kehilangan tempat di lingkaran kekuasaan desa. Di jalan, tatapan keluarga yang dulu akrab kini terasa asing—seperti menatap orang yang sudah tak diakui lagi.

Puncaknya, ayah Arga terseret dalam sengketa tanah warisan. Perkara yang mestinya selesai di balai desa justru dilempar ke meja hukum. Satu pagi yang dingin, truk aparat berhenti di depan rumah. Ayahnya dibawa pergi. Tak ada satu pun perangkat desa, atau bahkan saudara, yang datang menengahi.

Malapetaka tak berhenti di sana. Warkop kecil yang menjadi sumber nafkah keluarga digusur tanpa ampun. Tanahnya dipagar oleh perangkat desa, membuat keluarga Arga kehilangan satu-satunya mata pencaharian. Sejak itu, rumah mereka kian sunyi—bukan hanya karena hilangnya pengunjung, tapi karena hilangnya harapan.

“Desa ini kecil, tapi dendamnya besar,” ujar Arga, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin sawah.

Beginilah wajah politik di pelosok—lebih sunyi, tapi lebih mematikan. Bukan sekadar pertempuran visi dan misi, melainkan duel harga diri dan perasaan berkuasa atas hidup orang lain.

Jika politik terus dipakai untuk memisahkan, jangan heran jika suatu hari desa ini punya jalan yang mulus, tapi hati warganya penuh retak.

 

Penulis adalah pengamat sosial dan jurnalis media warga. Aktif mengedukasi masyarakat soal literasi hukum dan digital di tingkat akar rumput.
(Tulisan ini dibantu penyusunannya oleh teknologi AI untuk mempercepat kerja penulisan.)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Merajut Toleransi di Siliragung, Satgas TMMD ke-125 dan Warga Bersatu Percantik Pura
Next Article
Peringati 80 Tahun HUT RI, KAI Daop 7 Madiun Gelar Kampanye Keselamatan di Jalur Kereta

Related to this topic:

Be the first to write a comment.