Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Keberangkatan Bupati Gresik ke Tanah Suci, Momentum Ibadah atau Cerminan Sensitivitas Publik?

Oleh : Witnyo

Keberangkatan Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, ke Makkah sebagai Petugas Haji Daerah (PHD) bukanlah sebuah pelanggaran prosedural. Ia mengikuti seleksi resmi dari Kementerian Agama dan telah mengantongi cuti sesuai aturan. Namun, yang menjadi sorotan bukan sekadar keabsahan administratif, melainkan persoalan etika publik dan sensitivitas sosial.

BACA JUGA : A Moment of Togetherness Ahead of Eid al-Adha 1447 H at Mr.ABBAS Senggigi's Residence

Di tengah situasi sosial yang belum sepenuhnya stabil, dengan berbagai masalah daerah yang masih memerlukan perhatian, keputusan seorang kepala daerah untuk berangkat haji sebagai petugas, meskipun sah, tetap mengundang pertanyaan. Apakah timing-nya tepat? Apakah masyarakat merasa ditinggalkan?

Respons publik yang muncul di media sosial mencerminkan adanya jarak antara ekspektasi masyarakat dan tindakan pemimpinnya. Beberapa warganet mengungkapkan kekecewaan karena merasa kepentingan daerah belum tertangani maksimal. Komentar seperti “Gresik ben diatasi cah cah” dan “pemimpinnya lalai” bukan sekadar kritik emosional, tapi cerminan keresahan nyata.

Ini menjadi pelajaran penting bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memenuhi prosedur, tapi juga tentang kepekaan membaca situasi dan empati terhadap rakyat. Kepercayaan publik dibangun bukan hanya lewat kinerja, tetapi juga lewat simbol dan tindakan yang dinilai "hadir" bersama rakyat, terutama di saat sulit.

Keberangkatan Gus Yani bisa saja menjadi ladang pahala ibadah pribadi dan misi pelayanan kepada jemaah haji. Namun, jangan sampai kesempatan itu justru mengikis kepercayaan masyarakat jika tidak disertai komunikasi terbuka dan empati terhadap persoalan di rumah sendiri.

Karena pada akhirnya, seorang pemimpin bukan hanya dipertanggungjawabkan secara administratif—tetapi juga secara moral, di mata rakyat, dan kelak di hadapan Tuhan.

Keberangkatan Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani ke tanah suci Makkah sebagai Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) mendapatkan tanggapan beragam dari warganet antara lain :

@chamelia.molding : wes karuan mboten balek ten gresik mboten nopo gos.... kersane gresik ben di rusi cah cah

@Capcut Sport Templates alasannya petugas, biar bisa haji express. dinas nya ke makkah digaji rakyat lo pa...

@Mega Lemon : baru taubahwa jadi petugas haji adalah jobdesc bupati

@du9412 : gresik wes beres kabeh taa pak.... gak ada keluhan rakyat laguu pagg ??

 

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
164 Orang PNS Sidoarjo Pensiun di Tahun 2025
Next Article
Pengajian dan Bakti Sosial di Lapas Sidoarjo Berjalan Lancar, Kalapas: Wujud Kepedulian dan Kebersamaan

Related to this topic:

Be the first to write a comment.