Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Kebijakan Privasi

Kami menggunakan cookies untuk memastikan Anda mendapatkan pengalaman terbaik di situs kami. Dengan melanjutkan menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookies kami. Baca, Privacy Policy, and Terms of Service.

Krisis Air Irigasi Hantam Petani Banyuwangi Selatan, Sawah Satu Hektare Terancam Gagal Panen

BANYUWANGI, BRATAPOS.com – Kemarau panjang memicu krisis air irigasi di wilayah Banyuwangi Selatan. Sejumlah lahan persawahan mulai kekurangan pasokan air, menyebabkan tanaman padi mengering dan layu. Kondisi ini meningkatkan risiko gagal panen, sekaligus mengancam pendapatan petani yang telah mengeluarkan modal untuk menyewa lahan dan menanam padi.

Salah satu petani yang terdampak adalah Tukiran, warga Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Tanaman padi di lahan seluas satu hektare yang disewanya, kini terancam tidak menghasilkan panen akibat minimnya pasokan air di tengah kemarau berkepanjangan.

BACA JUGA : Dinas Pendidikan dan kebudayaan Bersama SDK Sang Timur Menggelar acara English Camp 2026 diJedong

Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya tekanan yang dihadapi petani, ketika ketersediaan air irigasi tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian. Tanaman yang seharusnya tumbuh dan berkembang justru mengalami kekeringan, sementara biaya produksi telah telanjur dikeluarkan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Senin (12/10/2026) siang, permukaan tanah sawah tampak retak akibat kekurangan air. Tanaman padi yang ditanam Tukiran terlihat mengering dan layu. Jika kondisi ini terus berlanjut, peluang memperoleh hasil panen berpotensi semakin menipis.

“Tanaman padi saya layu dan tidak berkembang karena kemarau. Padahal, lahan sawah seluas satu hektare ini kami sewa untuk ditanami padi,” kata Tukiran.

Bagi Tukiran, persoalan ini bukan sekadar terganggunya pertumbuhan tanaman, melainkan juga ancaman kerugian ekonomi. Biaya sewa lahan telah dibayarkan, tetapi keterbatasan air membuat tanaman tidak dapat tumbuh optimal. Pengeluaran yang sudah ditanamkan terancam tidak sebanding dengan hasil yang bisa diperoleh.

“Kami pasrah saja meskipun harus merugi. Lahan yang kami sewa tidak bisa menghasilkan karena tidak ada air untuk mengairi sawah,” ujarnya.

Situasi tersebut menjadi pukulan bagi petani yang menggantungkan penghasilan pada hasil panen. Tanpa pasokan air yang memadai, risiko kerugian tidak hanya menyangkut biaya sewa lahan, tetapi juga modal pengolahan tanah, benih, pupuk, dan tenaga kerja yang telah dikeluarkan selama proses budidaya.

Keterbatasan pasokan air menjadi persoalan utama dalam pengairan lahan pertanian di wilayah tersebut. Kepala Pengairan Kecamatan Tegaldlimo, Bambang Gunawan, membenarkan bahwa kemarau panjang berdampak signifikan terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan persawahan.

Menurut Bambang, pasokan air untuk pertanian bersumber dari Setail, Kecamatan Genteng, dengan debit sekitar 300 liter per detik. Air tersebut harus didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan enam kejuron, yakni Grajagan, Ringinpitu, Kedunggebang, Kampung Sepuluh, Kalipait, dan Dambuntung.

Artinya, satu sumber air harus menopang kebutuhan pengairan di enam wilayah layanan. Dengan debit yang terbatas, pendistribusian air terpaksa dilakukan secara bergiliran sehingga tidak seluruh lahan dapat memperoleh pasokan air secara bersamaan.

“Dengan debit air yang hanya sekitar 300 liter per detik, pendistribusiannya harus dilakukan secara bergantian dan bergilir. Kondisi ini membuat petani harus bersabar untuk mendapatkan pasokan air bagi lahan persawahan mereka,” terang Bambang.

Ia mengakui, keterbatasan debit air membuat pihaknya belum dapat memastikan seluruh lahan persawahan memperoleh pengairan secara optimal. Dalam kondisi kemarau panjang, pengaturan distribusi menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air yang tersedia.

“Dalam kondisi seperti ini, kami belum berani menjanjikan seluruh lahan persawahan bisa teraliri air. Dengan keterbatasan debit yang ada, untuk sementara kami hanya bisa mengupayakan pengairan sekitar 50 persen dari kebutuhan lahan. Kemarau panjang ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk pertanian,” ucap Bambang.

Kondisi tersebut menempatkan petani pada situasi yang sulit. Ketika air irigasi terbatas dan distribusinya harus bergiliran, lahan yang tidak segera memperoleh pasokan air berisiko mengalami kekeringan lebih parah. Dampaknya, pertumbuhan tanaman terganggu dan potensi hasil panen dapat menurun.

Bagi petani penyewa lahan seperti Tukiran, risiko tersebut semakin berat karena kewajiban membayar sewa tetap berjalan meskipun hasil pertanian belum tentu diperoleh. Apabila tanaman gagal menghasilkan, modal yang telah dikeluarkan berpotensi menjadi kerugian.

Persoalan ini sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan distribusi air irigasi yang terukur, terutama saat musim kemarau berkepanjangan. Petani membutuhkan kepastian mengenai jadwal giliran pengairan, informasi ketersediaan debit air, serta langkah antisipasi agar tanaman yang masih bertahan tidak semakin rusak.

Petani berharap pihak terkait dapat mengupayakan solusi untuk mengatasi keterbatasan air irigasi. Sebab, tanpa penanganan yang memadai, dampak kemarau tidak hanya mengancam keberhasilan panen, tetapi juga keberlangsungan usaha tani dan pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

Di tengah terbatasnya pasokan air yang harus dibagi ke enam kejuron, persoalan mendesak yang dihadapi petani adalah bagaimana memastikan air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif sebelum tanaman padi semakin mengering dan potensi kerugian bertambah besar. (rag/bp-bwi)

Amir Nisi Amir Nisi Amir Nisi
Prev Article
Dinas Pendidikan dan kebudayaan Bersama SDK Sang Timur Menggelar acara English Camp 2026 diJedong
Next Article

Related to this topic:

Be the first to write a comment.