Kepincut Uang 1 Milyar Dan Mobil Toyota Calya, Mantan Kades Manyarsidomukti Plokoto Seorang Bisnis Jual Beli Tanah Terbitkan Surat Riwayat Tanah Diduga Palsu

GRESIK || Bratapos.com. Pengadilan Negeri (PN) Gresik kembali gelar sidang perkara terbitkan surat riwayat tanah dan petok d diduga palsu, yang dilakukan oleh terdakwa Ahmad Fauzi (58), mantan Kades Manyarsidomukti bersama terdakwa Rochmat (63), keduanya warga Desa Manyarsidomukti, Kecamatan Manyar-Gresik.

Dalam sidang yang dipimpin oleh ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gresik Fitra Dewi Nasution menghadirkan saksi korban yakni Enggar Sumijaya Lailatul Maftukhah suami istri atau selaku pembeli. Kami mengenal dengan terdakwa Ahmad Fauzi pada tahun 2019 silam. Ketika itu terdakwa Fauzi masih menjabat Kepala Desa.

“Saya tidak begitu tahu tentang jual beli objek yang sekarang sedang perkara ini. Atau bukan milik terdakwa Rochmat. Istri saya yang ngurusin semua. Sebab istri yang bisnis jual beli tanah. Saya hanya mengantarkan istri,” kata Enggar Sumijaya saat ditanya Hakim. Senin 29 April 2024.

Kemudian saksi korban Lailatul Maftukhah saat ditanya oleh Hakim dirinya menceritakan, awalnya berniat membeli tanah yang ada di Desa Manyarsidomukti. Sebab dirinya memang bisnis jual beli tanah. Akhirnya saya menemui Kades Manyarsidomukti yakni terdakwa Achmad Fauzi.

“Saya menyampaikan maksud saya. Kemudian terdakwa menyampaikan kepada saya memang ada tanah yang dijual milik terdakwa Rohmat. Obyek tanah itu terletak di Desa Manyarsidomukti Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik seluas 8.188M2,” ujarnya.

Kemudian untuk meyakinkan saya selaku calon pembeli, kata saksi korban. Terdakwa Achmad Fauzi menunjukkan Surat Keterangan Riwayat tanah No. 594/194/437.103.11/2018 yang ditandatangani oleh terdakwa Achmad Fauzi selaku Kepala Desa Manyarsidomukti waktu itu.

“Pada bulan April 2019 oleh terdakwa Achmad Fauzi mempertemukan saya dengan terdakwaRochmat untuk meyakinkan kalau tanah tersebut adalah milik terdakwa Rochmat. Kemudian terdakwa Achmad Fauzi bersama terdakwa Rochmat menunjukkkan beberapa dokumen terkait obyek tanah tersebut yakni Surat Keterangan Riwayat tanah petok D nomor 617, persil 3 kelas d II kutipan register Letter C Desa Manyasidomukti No 617,” jelasnya.

Tak lama kemudian, saksi korban melakukan jual beli obyek tanah tersebut dengan harga Rp. 3,7 Milyar. Pada saat itu transaksinya di Kantor Notaris Amanda dengan cara pembayaran diangsur sebanyak 8 kali ke terdakwa Rochmat.

“Setelah deal harga, saya mulai melakukan pembayaran pada 16 Mei 2019 Rp.500 juta. Kemudian tanggal 21 Mei 2019 Rp.250 juta. Lalu tanggal 31 Mei 2019 Rp.500 juta. Lalu tanggal 20 Juni 2019 Rp.500 juta. Tanggal 30 Juni 2019 saya melakukan pembayaran Rp.500 juta dan tanggal 20 Juli 2019 Rp.500 juta. Setelah itu, tanggal 30 Juli 2019 pembayaran Rp.500 juta namun tak lama diambil kembali oleh saksi Enggar Sumijaya. Lalu tanggal 20 Agustus 2019 Rp.500 juta juga ditarik,” ujarnya.

Menurut saksi korban, terdakwa Achmad Fauzi meminta fee kepada saya sebesar 1 Milyar dan 1 unit Mobil Toyota Calya. Tak lama kemudian kami dapat undangan dari Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Gresik berkaitan dengan tanah itu, pada saat itu yang hadir di Kantor BPN Gresik yaitu saya, Pak enggar (suami saya), Amanda Puspita, kepala desa
Manyarsidomukti yang baru terpilih.

“Pada saat itulah saya baru mengetahui bahwa obyek tanah itu bukan milik terdakwa Rochmat melainkan milik Nur Khoiriyah. Setelah mengetahui bahwa tanah tersebut milik Nur Khoiriyah, saya berdiskusi dengan Amanda Puspita untuk mencari jalan keluarnya. Kemudian pada tanggal 3 Desember 2019, Amanda Puspita membuatkan Akta Pembatalan Jual Beli antara terdakwan Rochmat selaku penjual dengan saya selaku Pembeli. Sebab pemilik tanah yang sebenarnya itu Nur Khoiriyah,” jelasnya.

“Beberapa kali kami melakukan penagihan uang kami yang telah diterima oleh terdakwa Rochmat dan terdakwa Achmad Fauzi, namun mereka berdua tetap pada pendiriannya menolak untuk mengembalikan uang itu dan mereka tetap tidak mau mengembalikan uangnya dengan alasan uang yang sudah terlanjur diterima tersebut tidak dapat ditarik kembali. Atas ulahnya para terdakwa saya rugi Miliyar Rupiah,” pungkasnya.

Pewarta Jamal Sintaru