Jhon Qudsi: Selamat Hari Raya Waisak buat saudaraku yang beragama Buddha

PROBOLINGGO // Bratapos.com – Hari Raya Waisak, juga di kenal sebagai Vesak atau Buddha Purnima, merupakan perayaan penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Pada tanggal 23 Mei 2024, umat Buddha akan merayakan Hari Raya Waisak 2568, memperingati tiga peristiwa utama dalam kehidupan Buddha Gautama: kelahiran, pencerahan, dan wafatnya (Parinirvana).

Kegiatan tersebut sebagai perayaan bagi para penganut Buddha untuk merenungkan nilai-nilai ajarannya dan memperdalam praktik spiritual, juga merupakan kesempatan untuk memperkuat rasa kebersamaan sekaligus memperlihatkan kepedulian terhadap sesama.

Hal ini memiliki makna yang sangat dalam untuk menghormati dan mengenang perjalanan spiritual Sang Buddha yang penuh dengan kebijaksanaan, belas kasih, dan pencerahan.

Pangeran Siddhartha Gautama lahir pada hari purnama di bulan Waisak di Lumbini, yang sekarang terletak di Nepal. Kelahirannya diyakini membawa cahaya dan harapan bagi dunia yang tengah diliputi kegelapan.

Setelah melalui perjalanan panjang pencarian spiritual dan berbagai latihan keras, Siddhartha mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, India. Pada saat inilah ia menjadi Buddha, yang berarti ‘Yang Tercerahkan’. Pencerahan ini memberikan ajaran-ajaran yang menjadi dasar dari Buddhisme.

Buddha Gautama wafat pada usia 80 tahun di Kushinagar, India. Wafatnya dikenal sebagai Parinirvana, yang menandakan pencapaian akhir dari kebebasan total dari siklus kelahiran dan kematian (samsara).

Perayaan Waisak di seluruh dunia mungkin memiliki variasi dalam pelaksanaan, tetapi ada beberapa ritual umum yang biasanya dilakukan:

1. Pindapata: Tradisi memberikan dana makanan kepada para bhikkhu (biksu) yang berjalan berkeliling. Ini adalah bentuk ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk ajaran Buddha.

2. Meditasi dan Doa: Umat Buddha akan menghabiskan waktu untuk bermeditasi dan berdoa di vihara (kuil Buddha). Ini adalah saat untuk merenungkan ajaran Sang Buddha dan memurnikan pikiran serta hati.

3. Penerangan Lampion: Lampion-lampion dinyalakan dan diterbangkan ke langit atau diletakkan di sekitar vihara sebagai simbol pencerahan dan harapan.

4. Ritual Air Suci: Air suci biasanya dipercikkan atau digunakan dalam upacara pemurnian. Ini melambangkan pembersihan diri dari dosa dan karma buruk.

Perayaan Hari Raya Waisak menjadi hari libur Nasional di Indonesia, biasanya di adakan acara yang bertempat di Candi Borobudur, salah satu situs warisan dunia UNESCO dan monumen Buddha terbesar di dunia. Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah dan negara berkumpul di sana untuk merayakan Waisak dengan berbagai upacara dan ritual.

Salah satu puncak acara adalah prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, di mana umat Buddha berjalan kaki sambil membawa bunga, lilin, dan dupa. Prosesi ini melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan.

Hari Raya Waisak membawa pesan damai dan toleransi. Dalam dunia yang sering kali dilanda konflik dan perpecahan, ajaran Buddha tentang cinta kasih, kedamaian, dan keharmonisan antar umat manusia. Waisak adalah pengingat akan pentingnya hidup dalam harmoni, saling menghormati, dan membantu sesama. Semoga perayaan di tahun ini membawa berkah dan kedamaian bagi semua kalangan semua umat beragama.