Hari Raya Waisak, Dua Warga Binaan Buddhis di Lapas Banyuwangi Peroleh Remisi

BANYUWANGI || Bratapos.com – Dua orang Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi patut bersyukur di momen perayaan Hari Raya Waisak tahun ini. Pasalnya, dua Warga Binaan yang beragama Buddha atau Buddhis itu memperoleh remisi atau pengurangan masa pidana.

Remisi tersebut merupakan remisi yang bersifat khusus, sehingga hanya diberikan kepada Warga Binaan yang beragama Buddha. Besaran remisi yang diterima oleh masing-masing Warga Binaan yaitu 1 bulan dan 1 bulan 15 hari.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Lapas Banyuwangi, Agus Wahono, pada Kamis (23/05/2024). Menurutnya, Surat Keputusan penerima remisi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan telah diterima dan diserahkan kepada Warga Binaan yang bersangkutan.

“Dalam SK Kolektif tersebut, Dua Warga Binaan Buddhis di Lapas Banyuwangi mendapatkan remisi khusus Waisak,” ujar Kalapas Banyuwangi, Agus Wahono.

Agus Wahono menyebut, besaran remisi yang diterima oleh dua Warga Binaan itu berdasarkan lama masa pidana yang telah dijalani oleh yang bersangkutan. Untuk Warga Binaan yang telah menjalani masa pidana selama 6 sampai 12 bulan mendapatkan remisi 15 hari. Sedangkan warga binaan yang telah menjalani masa pidana 12 bulan atau lebih mendapatkan remisi satu bulan pada tahun pertama hingga ketiga.

“Pada tahun keempat dan kelima, masa pidana diberikan remisi satu bulan 15 hari, sedangkan pada tahun keenam dan seterusnya diberikan remisi dua bulan setiap tahunnya,” urainya.

Selain itu, Agus Wahono menegaskan bahwa remisi yang diberikan kepada Warga Binaan bukan merupakan obral hukuman, namun merupakan bentuk penghargaan sekaligus hak yang diberikan oleh negara atas pencapaian Warga Binaan dalam berperilaku baik dan menerima pembinaan di Lapas.

“Hal itu juga merupakan salah satu sarana hukum yang penting dalam rangka mewujudkan tujuan sistem pemasyarakatan,” imbuhnya.

Untuk itu, hanya Warga Binaan yang telah memenuhi syarat administratif maupun substantif yang dapat diusulkan untuk mendapatkan remisi. Syarat tersebut antara lain telah menjalani masa pidana lebih dari enam bulan, tidak tercatat dalam buku catatan pelanggaran disiplin dan aktif dalam program pembinaan.

“Serta telah menunjukkan penurunan tingkat resiko berdasarkan asesmen yang dilakukan oleh Asesor Pemasyarakatan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan bahwa Warga Binaan yang beragama lain akan mendapatkan hak yang sama pada momen hari raya masing-masing agama.

“Mereka (Warga Binaan) yang memenuhi syarat tentu akan kami usulkan untuk mendapatkan remisi khusus pada perayaan hari raya mereka,” pungkasnya.

Pewarta : Ruslan AG
Editor/Publisher : Shelor