Hampir Sebulan Pelaku Belum Ditangkap Kasus Persetubuhan Terhadap Anak di Kabupaten Buru

Namlea || Bratapos.com – Polres Pulau Buru dinilai lambat dalam mengungkap kasus persetubuhan anak dibawah umur yang terjadi, di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, pada 19 April 2023 lalu.

Sejauh ini kasus persetubuhan terhadap gadis remaja 16 tahun yang dilakukan oleh terduga pelaku inisial AN sudah dilaporkan oleh orang tua korban ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pulau Buru pada tanggal 20 April 2023 dibuktikan dengan Surat tanda Terima Laporan Polisi Nomor: STTLP/LP/B/29/IV/SPKT/Polres Pulau Buru/Polda Maluku. Tetapi hingga saat ini laporan tersebut belum ada titik terang.

Ayah korban berinisial HE mengatakan dirinya sudah membuat laporan polisi secara resmi untuk menuntut perlindungan hukum terhadap anak dan atau keluarganya secara pribadi.

“Namun pada saat pelaporan hari itu bertepatan dengan hari besar Islam (Lebaran Idulfitri 1444 Hijriah) , jadi beliau bilang setelah lebaran baru diproses. Tapi kan lebaran itu sudah cukup lama sampai hari ini tanggal 15 Mei sudah hampir mendekati 1 bulan laporan saya dan belum ada proses pemanggilan terhadap saksi ataupun penahanan terhadap terduga pelaku. Jadi disini bagi saya, tuntutan hukum saya belum terealisasi, saya butuh keadilan dan proses hukum terduga pelaku pencabulan secepatnya, ucap orang tua korban,” Senin (15/5).

Menurutnya, kasus ini berawal dari korban dan pelaku berkenalan di media sosial, sehingga terjadi pertemuan antara korban dan pelaku.

“Kata orang tua korban terduga pelaku menjemput anaknya dari rumah tanpa sepengetahuan ke dua orang tua, Jadi sebagai orang tua kan saya merasa ini sudah sangat melanggar aturan secara hukum maupun secara etika, karena apa, anak saya berarti kan hak perlindungan saya, kalau orang lain bawa anak saya maka saya harus mengetahui itu. Ketika ini tidak, saya rasa itu pelanggaran hukum seperti apa untuk melakukan penegakan hukum,” ungkapnya.

“Ayah korban juga menjelaskan kronologis kejadian berawal pada tanggal 18 April 2023 lalu masih malam tarawih, ia pulang dari bekerja pukul 05.30 WIT sore hari. Pada saat sampai di rumah dia sangat lelah, sehingga dia menidurkan anaknya yang paling kecil, namun pada saat itu istrinya juga sedang mengaji di dalam rumah karena belum berangkat sholat tarawih. Lalu anak saya atau korban itu pamitnya keluar untuk sholat tarawih, tetapi setelah jam pulang sholat tarawih pada jam 09.00 WIT, ternyata anak saya tidak ada, disitulah saya sudah mulai curiga bahwa ini pasti ada sesuatu terjadi terhadap anak saya,” jelasnya.

“Pada saat itu saya menunggu anak saya sampai jam 1 malam tidak kunjung pulang. Maka, sebagai orang tua saya gelisah dan lain sebagainya. Akhirnya sampai pagi saya tidak tidur sambil menunggu anak saya, namun anak tidak kunjung pulang, sehingga saya koordinasi dengan Bhabinkamtibmas setempat,” tuturnya.

Lanjutnya, baginya jika sampai 24 jam anaknya belum juga pulang ke rumah, maka ia akan membuat laporan kehilangan di kepolisian, agar anaknya bisa dicari.

“Saya cari anak saya sudah hampir 24 jam tidak juga ketemu saya akan buat laporan polisi, namun karena belum 24 jam anak saya sudah ditemukan di Waekasar dan di bawah pulang oleh pak Bhabinkamtibmas ke rumah saya,” bebernya.

Kemudian kata dia, setelah anaknya pulang baru dia menanyakan anaknya pelan-pelan terkait perihal tidak pulangnya ke rumah kurang lebih 24 jam, sehingga anaknya mulai membuka apa yang sedang terjadi terhadap dirinya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, menurut korban saat buat laporan itu jelas bahwa dirinya dipaksa dan dia tidak bisa melawan karena kondisi korban perempuan dan masih kecil.

“Katanya dibawa oleh ini, terus ditaruh di sini tadinya bilang sebentar, ternyata lama terus dia dikunci dalam kamar dan dipaksa sehingga terjadilah hal tersebut. Dari situlah saya tahu bahwa tindak pidana ini saya harus laporkan secara hukum ke Polres Pulau Buru dan terjadilah laporan polisi tersebut,” bebernya.

Ia berharap kepada pihak kepolisian untuk segera melakukan penangkapan terhadap pelaku tersebut, agar bisa diproses secara hukum sesuai hukum yang berlaku di negara ini.

“Saya mau proses dan penangkapan terhadap pelaku, semua saksi juga segera dipanggil lalu proses hukum dengan jelas, karena bagi saya keadilan saya belum dapat sampai hari ini,” tutupnya.

Kapolres Pulau Buru AKBP Nur rahman yang di Konfirmasi via whatsapp terkait perihal kasus dugaan persetubuhan terhadap anak di bawah umur hanya menjawab, mohon waktu saya konfirmasi dulu dengan penyidik, namun sampai berita ini dipublikasi tidak ada balasan selanjutnya.

Reporter : SK