Analisis Pilkada Kota Madiun 2024, Strategi Petahana dan Dinamika Politik

foto : Pengamat Politik Kota Madiun Nanang Suprapto.

KOTA MADIUN || Bratapos.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kota Madiun tahun 2024 menunjukkan dinamika politik yang kompleks dan strategis. Di tengah persaingan yang ketat pasca-Pemilihan Presiden dan Legislatif, strategi politik dan logistik menjadi kunci dalam memenangkan hati pemilih.

Nanang Suprapto, salah satu pengamat  politik Kota Madiun menyampaikan bahwa Pemilu kali ini diwarnai oleh fenomena anomali pemilih, di mana perilaku dan pandangan pemilih mengalami perubahan signifikan, dimana era sekarang ini.

“Seratus kebaikan dan prestasi serta program sebagus apapun yang ditawarkan dapat dikalahkan  dengan ratusan ribu rupiah. Serta terdapat kecenderungan bahwa dukungan finansial dapat mengalahkan prestasi dan program yang ditawarkan oleh calon. Prediksi hasil polling yang awalnya maksimal pun dapat dengan mudah berubah seiring waktu,” ungkapnya pada bratapos.com, Kamis (23/5/2024).

Menurutnya, di Kota Madiun, terjadi situasi unik di mana Walikota Petahana belum menentukan calon wakilnya, berbeda dengan daerah lain di mana calon kepala daerah dan wakilnya biasanya sudah berpasangan dan berkomitmen.

“Ini mungkin merupakan bagian dari strategi petahana untuk menentukan calon wakil yang memenuhi syarat dan komitmen yang diinginkan, sekaligus memantau kemunculan kompetitor,” imbuh Nanang Suprapto.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika hingga akhir Juni petahana belum juga menentukan calon wakilnya, hal ini bisa berarti dua kemungkinan, pertama belum ada calon wakil yang memenuhi kriteria dan komitmen yang diinginkan petahana, kedua, calon wakil berkeberatan dengan syarat dan komitmen yang diminta.

Ia juga menambahkan, bahwa Deklarasi dukungan dari 11 partai politik parlemen dan non-parlemen menunjukkan kekuatan awal, namun rekomendasi partai tidak gratis dan seringkali membutuhkan komitmen finansial.

“Biaya kampanye, alat peraga, dan upaya untuk memenangkan hati lebih dari 160 ribu pemilih tidaklah murah dan tidak mungkin ditanggung sendirian oleh calon walikota,” ucapnya.

Nanang juga menjelaskan, bahwa peran wakil walikota mungkin terlihat tidak penting, namun dalam Pilkada Kota Madiun kali ini, peran tersebut sangat strategis dan bisa menjadi blunder jika tidak dipilih dengan tepat.

“Dinamika politik akan semakin memanas setelah ditentukan siapa wakil yang akan mendampingi petahana secara resmi, dan kemunculan calon kompetitor atau lawan yang akan maju dalam Pilkada,” pungkas Nanang Suprapto.

Pewarta : Jhon Mongaz

Editor/Publisher : Yatno Widodo