419 Views
oleh

Merajalelanya Renternir Berkedok BPR

Tuban || bratapos.com – Saat ini di duga sedang marak Renternir Berkedok Koperasi dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat).  Karena Pengawasan dari pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan pemangku kebijakan sendiri terkesan kurang, hal ini mengakibatkan pihak peminjam mematok bunga yang terlalu tinggi.

Dengan adanya desas desus ini tentunya membuat masyarakat semakin sulit, apalagi dalam kondisi perekonomian yang baru saja  terlepas dari dasyatnya pandemi covid-19.

Akhir-akhir ini masyarakat di hebohkan dengan adanya oknum pegawai BPR (Bank Perkreditan Rakyat), yang di duga mengintimidasi dan mengancam akan menyegel rumah yang sertifikatnya di jadikan jaminan di BPR tersebut apabila penghutang tidak segera melunasi tunggakan hutangnya.

Kejadian tersebut salah satunya di alami oleh U, warga Desa Parang Batu, Kecamatan Parengan, kabupaten Tuban. Kamis (22/09/2022), menurut pengakuannya, U di datangi beberapa orang dari BPR Lestari Nusantara Indonesia yang bermaksud untuk menagih tunggakan angsuran yang belum terbayar. Saat penagihan inilah di duga orang BPR melontarkan dengan kata-kata arogan, serta mengancam akan menyita rumah U jika kalau segera melunasi hutang.

Saat ditemui awak media bratapos pun, U mengatakan,
“Iya mas kemaren rumah saya di Gruduk beberapa orang yang mengaku pegawai dari BPR Lestari Nusantara Indonesia pusat Surabaya, oleh RI dengan nada kasar dan arogan, saya di paksa segera melunasi tunggakan angsuran hutang saya. Saya sanggup mas membayar asal sesuai dengan tunggakan angsuran senilai Rp 13.000.000, tetapi saya di paksa membayar Rp.50.000.000 ya saya tidak mampu mas, dulu mereka malah meminta Rp 90.000.000,” Tutur U.

U juga mengatakan bahwa sempat terjadi perdebatan, dan di tengah perdebatan U di paksa menandatangani surat pernyataan bermatrai bernilai Rp 50.000.000.

U tentu merasa keberatan dengan nominal tersebut, namun disaat posisi tersebut dia sedang sendirian, dalam keadaan tertekan, serta Gruduk 6 orang dari pihak BPR, U pun terpaksa saya tanda tangani surat tersebut. Setelah menandatangani surat pernyataan, petugas (RI) mengancam dengan nada kasar sekali lagi akan rumah menyita rumah U.

“Kalau untuk melunasi tunggakan angsuran senilai Rp 13.000.000 uang sudah saya siapkan mas, berhubung pihak BPR lestari Nusantara Indonesia meminta Rp 50.000.000 ya saya tidak sanggup mas, uang dari mana sebanyak itu, wong buat makan sehari hari aja susah mas,” pungkas U kepada awak media dengan sedih.

Di tempat terpisah, mantan nasabah BPR Lestari yang juga tinggal tak jauh dari rumah U, MI mengatakan,
“Iya mas saya dulu juga pernah jadi nasabah BPR tersebut, dan memang benar dalam setiap melakukan penagihan selalu mengintimidasi dengan kata kata cenderung kasar, saya juga pernah di geruduk dengan 4 orang mas, dari BPR dan selalu mau mengancam mau menyita rumah saya apabila tidak segera membayar angsuran, alhamdulilah sebelum Jatuh tempo pelunasan saya lunasi rasanya kapok mas dengan bunga yang terlalu besar dan bunga berjalan melebihi renternir atau lintah darat, ” ungkap MI kepada awak media brarapos.

Masyarakat berharap kepada pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk melakukan pengawasan atau sidak ke koperasi dan BPR. Karena bukanya membantu malah menyusahkan masyarakat.

Setelah ramainya pemberitaan oleh awak media, kemudian awak media bratapos menghubungi kepala cabang BPR Lestari Nusantara Indonesia, S melalui sambungan telefon via WhatsApp, dia mengataka,
“Kenapa di beritakan, jangan macem-macem lho ya dengan saya,” Ucap S kepada awak media Bratapos sambil mematikan telefon.

Menyikapi tanggapan S, hal ini termasuk penyimpangan, karena telah tercantum dalam Undang undang bahwa awak media sebagai kontrol sosial dan di lindungi. UU no 40 tentang PERS pada pasal 4 ayat (3) mengamanatkan untuk menjamin kemerdekaan PERS nasional mempunyai hak, memperoleh, dan menyebar luaskan gagasan dan informasi ke publik

(bersambung Red)

Reporter : brend
Editor : AS