215 Views
oleh

Lesatarikan Tradisi Budaya, Puluhan Warga Desa Sumbercangkring Kediri Gelar Tradisi Barikan

Kabupaten Kediri || bratapos.com – Warga Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, menggelar Tradisi Barikan, Sabtu (30/07/2022). Selain menyambut tahun baru Islam 1 Muharram 1444 Hijriah, tradisi itu juga untuk melestarikan yang sudah ada sejak 1 Muharam 1325 hijriah atau 1907 masehi.

Tradisi Barikan sendiri adalah tradisi Nusantara yang biasa dilakukan masyarakat Jawa dengan tujuan untuk melakukan tolak bala (mara bahaya) agar hidup terhindar dari bencana alam atau berbagai penyakit, baik yang menyangkut tanaman, hewan dan manusia.

Tradisi Barikan diawali dengan arak-arakan tumpeng lengkap oleh warga dan puluhan santri Pondok Pesantren Pari Ulu di Desa Sumbercangkring. Mereka mengelilingi desa. Sementara warga lain menyaksikan tradisi yang pertama kali digelar sejak berdirinya desa pada 1 Muharam 1325 Hijriah.

Tradisi Barikan di Kediri kembali dilestarikan oleh warga Desa Sumbercangkring

Usai mengarak 70 tumpeng keliling desa, tumpeng yang terdiri dari buah dan ayam ingkung milik warga ini dikirab di sepanjang jalan desa. Warga lantas mengikuti doa bersama di tanah yang konon dipercaya jadi cikal bakal Desa Sumbercangkring lalu menyantapnya bersama-sama.

Tokoh masyarakat Desa Sumber Cangkring dan Pengasuh Ponpes Pari Ulu Sumber Cangkring Gurah, KH Mustain Ansori menjelaskan tentang tradisi itu. Apa yang dilakukan warga dan santri adalah tradisi dan sarana warga untuk melestarikan kebudayaan.

“Jadi (tradisi) tumpeng ini hanya sebagai sarana saja, mempermudah melakukan pemanfaatan doa di situs ini, orang nyebut Situs Sentono Cangkring. Untuk mengenang awal mula babat tanah (desa) Sumbercangkring, dan ini tempatnya. Sekaligus ini kan tradisi yang sudah lama sekali tidak dilakukan, kami hidupkan kembali,” kata salah satu tokoh masyarakat KH Mustain Anshori.

Dia menjelaskan acara tradisi kirab tumpeng setiap tanggal 1 Suro ini dilakukan untuk mendapatkan keberkahan. Terutama di era sekarang di mana Pandemi COVID-19 atau pun penyakit lainnya masih menyebar luas di masyarakat.

Berdasarkan cerita masyarakat, tradisi ini pernah dilakukan sebelumnya, yakni sejak abad 19 silam. Namun minimnya pelestarian adat budaya membuat tradisi itu sempat hilang dan tidak lagi dilanjutkan. Karena itu masyarakat setempat bersama-sama membangun kembali tradisi yang sudah ada.

“Ini (tradisi) dibangun kembali untuk mengenang kembali sejarah dan salah satunya disini, situs ini (Sentono) sudah ada, sebelum desa ini didirikan,” tambah KH Mustain.

Sedangkan makna dari kirab tumpeng ini sendiri, kata KH Mustain, sebagai keseimbangan alam flora dan fauna di dalam kehidupan bermasyarakat. Supaya bangsa Indonesia, khususnya Desa Sumbercangkring, selalu mendapatkan berkah dari alam.

“Maka selamatan ada buah, ayam ingkung dan makanan, sebagai perumpamaan. Agar desa ini, khususnya Indonesia benar-benar menjadi negeri yang kaya akan segalanya. Harapannya begitu,” pungkas KH Mustain.

Wartawan : Susilowati
Editor : ryanti