456 Views
oleh

Aliansi Kemanusiaan Demo Kejaksaan Buru Terkait Kasus Penembakan di Gunung Botak, Ini Tuntutannya

NAMLEA | Bratapos.com– Aliansi kemanusiaan masyarakat adat bersama lembaga swadaya masyarakat (LSM), parlemen jalanan dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan demonstrasi terkait penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Polri dari satuan Brimob Kompi 3 Yon A Pelopor Namlea, Bripka Andre Batuwael, pada areal tambang emas ilegal Gunung Botak, Desa Persiapan Wansait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku.

Masa aksi kurang lebih 30 orang itu, melakukan orasi secara bergantian yang berlangsung di depan kantor Kejaksaan Negeri Buru Jalan mesjid Alburuj, Kota Namlea, Senin (25/7/2022).

Pada kesempatan itu anak dari kakak tertua almarhum Mede Nurlatu, Luvri Nurlatu menyampaikan orasinya di depan kantor Kejaksaan Buru; “Kami pihak keluarga meminta keadilan yang sebenar-benarnya dari pihak Kejaksaan, karena bapak kami (Alm.) Mede Nurlatu tidak berbuat salah kepada oknum anggota Polri, Andre Batuwael. Tetapi kenapa dia harus di tembak berulang kali sampai meninggal dunia di tempat,” tegasnya.

Lanjut Luvri, yang kita ketahui Polri itu pengayom, pelindung masyarakat, tetapi kenapa terjadi sebaliknya, malah rakyat yang tidak bersalah harus ditembak mati di tempat. Olehnya itu saya selaku perwakilan dari keluarga meminta pihak Kejaksaan agar Andre di hukum dan diberikan pasal yang seberat-beratnya.

Kepada Bratapos di sela-sela demo, koordinator aksi Ruslan Arif Suamole meminta keadilan hukum kepada jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Buru.

“Jangan hanya pasal pembunuhan saja yang diberikan, tetapi harus dikenakan juga undang-undang darurat terkait dengan penyalahgunaan senjata api yang digunakan oleh oknum Brimob, sehingga keadilan hukum itu bisa berjalan secara arif dan bijaksana,” tegas Ruslan pada saat audiens dengan kepala seksi pidana umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Namlea, Dwi Kustono dan JPU.

Ruslan Arif Suamole atau biasa disapa Ucok meminta kepada Kasi Pidum dan JPU untuk dievaluasi lagi dengan pasal-pasal yang disangkakan kepada Andreas Batuwael. Karena ada beberapa pasal tidak dimasukkan, salah satunya pasal penyalahgunaan senjata api.

“Ini yang menjadi satu pertanyaan kami dari pihak lembaga maupun masyarakat adat Soar Pito Soar Pa, bahwa harus ditetapkan pasal pengunaan senjata api dan pembunuhan berencana sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ungkapnya.

Penyerahan pernyataan sikap kepada Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Buru Dwi Kustono oleh koordinator aksi Ruslan Arif Suamole yang berlangsung di kantor Kejaksaan Negeri Buru.

“Maka dari itu harapan kami, kepada Kasi Pidum dan JPU untuk mengevaluasi terkait pasal yang ditetapkan kepada tersangka, karena kami akan mengawal persoalan tersebut. Kalau tidak dimasukan pasal penyalagunaan senjata api, maka kami berjanji, akan menyurati kepada Kapolri atau kami berangkat ketemu Kapolri langsung untuk melaporkan terkait persoalan penembakan saudara kami (Alm.) Mede Nurlatu,” tegas Ruslan Suamole.

Reporter: SPK