29 Views
oleh

Federasi Keadilan Rakyat Tuntut Keadilan Terkait Dugaan Kematian Warga Binaan Lapas

MAKASSAR | Bratapos.com– Aksi damai yang dilakukan Federasi Keadilan Rakyat menggelar demo menuntut keadilan di depan Mako Polda Sulsel terkait kematian Andi Lolo yang diduga dilakukan tindak kekerasan oleh oknum-oknum dari pihak kepolisian di Sulsel, Senin (27/12/2021).

Deklarasi Universal Hak Asasi  Manusia (DUHAM) oleh  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 10 Desember 1948 bertujuan  untuk meningkatkan kesadaran semua bangsa tentang manusia dan kemanusiannya.

Bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki kodrat sebagai makhluk mulia ciptaan Tuhan yang harus dilindungi. Manusia berhak atas hidup yang bebas, tanpa  perbudakan, intimidasi, apalagi pembunuhan, dari sekian banyaknya kasus pelanggaran HAM sampai ini belum juga terselesaikan.

Indonesia ikut meratifikasi Konvenan Internasional hak sipil dan Politik Undang-Undang No.12 Tahun 2005 untuk hak-hak sipil, politik, tetapi dalam prakteknya masih belum bisa terlepas dari tindakan-tindakan pelanggaran HAM terhadap warga negaranya.

Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang HAM Nasional, seolah olah menjadi instrument tanpa kekuatan, karena belum mampu dilaksanakan sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan Undang-Undang Peradilan HAM Kolektif yang tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak ada solusi yang benar-benar dapat  menyelesaikan  persoalan HAM Nasional secara tuntas.

Seperti halnya yang di alami oleh almarhum Andi Lolo warga binaan permasyarakatan (WBP) LapasĀ  Narkotika Bollangi, sebelum di jemput oleh penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulsel untuk melakukan pemeriksaan atau pengembangan kasus, almarhum Andi Lolo dalam keadaan sehat wal afiat, akan tetapi pada saat meninggal, almarhum diduga mengalami beberapa luka lebam di bagian kepala, dada, tangan dan leher.

Maka dari itu, kami Federasi Keadilan Rakyat menduga kuat almarhum mengalami tindakan kekerasan/penyiksaan yang mengakibatkan dirinya meninggal dunia, dan kami menduga kuat terjadinya tindakan di luar prosedur yang berimplikasi terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

Atas uraian permasalahan tersebut maka dari itu Federasi Keadilan Rakyat menuntut pecat dan adili oknum-oknum yang melakukan kekerasan sehingga menyebabkan kematian pada Andi Lolo. Mendesak Komisi III DPR RI untuk segera mengatensi atas kematian narapidana di Lapas Bollangi Kabupaten Gowa. Tegakkan Supremasi Hukum. Tuntaskan kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Sulawesi Selatan. Dan meminta Polda Sulsel untuk segera menindak lanjuti apa yang menjadi tuntutan kami, sehingga tercipta negara yang mengemban kewajiban untuk menghormati, melindungi dan memenuhi Hak Asasi Manusia.

Kemudian, Maryam istri dari almarhum Andi Lolo meminta keadilan kepada kepolisian agar pelaku dapat di hukum sesuai dengan aturan yang berlalu pada negara ini.

“Baru kali ini saya mencari informasi tentang kematian dari suami saya,” ungkapnya.

Maryam istri dari almarhum Andi Lolo, Senin (27/12/2021).

Selanjutnya Ketua  Eksekutif Pusat Generasi Keadilan Rakyat, Asrianto Irdar Jaya mempertegas, dari pihak Polda Sulsel apabila kasus kematian dari almarhum Andi Lolo tidak mendapatkan kejelasan, maka kami dari Federasi Keadilan Rakyat menyatakan sikap akan kembali melakukan aksi unjuk rasa dengan gelombang yang lebih besar.

“Kami akan bertumpah ruah di berbagai titik di Kota Makassar, sebab sejatinya bukan keadilan ituĀ  haram hukumnya untuk kita bungkam, karena suara keadilan itu adalah suara dari Tuhan yang tidak bisa untuk kita diamkan,” tegasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, kami bersama Ibu Maryam ingin melakukan pelaporan untuk bagaimana pihak oknum ini agar segera dilakukan proses hukum lebih lanjut.

Yusrifar Kepala Depertemen Advokasi Federasi Keadilan Rakyat menyatakan, kehadiran kami disini hanya untuk menuntut sebuah keadilan adanya kejadian polemik yang menerpa keluarga kita karena meninggalnya Andi Lolo.

“Keluarga menerima meninggalnya, yang menjadi polemik dan kejanggalan dari keluarga, yaitu proses kematian Andi Lolo,” katanya.

“Ada informasi dari keluarga bahwa Kalapas Bollangi sudah memberikan surat perintah untuk melakukan pengembangan kasus dan Istri korban juga menyepakati itu. Istri dari Andi Lolo pada saat itu melihat dengan mata kepala bahwa Andi Lolo sehat wal afiat, tetapi sang istri ada di daerah Pinrang dan mendapat kabar bahwa suaminya Andi Lolo telah meninggal,” terangnya.

“Maka kesimpulan dari persoalan ini, ada beberapa polemik di kalangan keluarga menduga adanya oknum-oknum kepolisian yang melakukan tindakan kekerasan kepada almarhum Andi Lolo,” pungkasnya.

Federasi Keadilan Rakyat langsung melakukan pengawalan bersama istri almarhum Andi Lolo, melaporkan oknum-oknum yang terlibat yang diduga melakukan tindak penganiayaan terhadap Andi Lolo warga binaan lapas Bollangi.

Reporter: Tim