oleh

Masyarakat Rowosari Melakukan Aksi Penolakan Pembangunan Tempat Ibadah di Rowosari

KENDAL || Bratapos.com – Warga Kecamatan Rowosari ramai-ramai ke kantor Kecamatan Rowosari melakukan aksi penolakan pembangunan tempat ibadah Al-Firdaus yang berada di Desa Rowosari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal, penolakan tersebut dikarenakan pembangunan tempat ibadah yang tanpa ada ijin dari masyarakat sekitar dan belum ada Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Serta disebelah tempat ibadah tersebut ada pembangunan masjid yang berjarak kurang lebih 100m dan pembangunan masjid itu masih berjalan. Jum’at (26/11/2021).

Salah satu kordinator aksi tersebut Boma (35) mengatakan bahwa masyarakat menolak dengan adanya pembangunan masjid yang tanpa ijin dari masyarakat sekitar.

“Kami dari masyarakat Rowosari menolak dengan adanya pembangunan masjid tersebut, karena disebalah masjid itu ada pembangunan masjid juga, apapun yang terjadi kami tetap menolak,” ujar Boma.

Ditambahkan Boma bahwa terkait hal tersebut warga akan melakukan demo yang lebih besar lagi apa bila tuntutan masyarakat Rowosari tidak penuhi. Dari pihak Kecamatan belum ada tanggapan sama sekali cuma kalau dulu pertama ada agenda aksi pertama memang masyarakat nembusi dari Forkompincam semua, yang dilakukan mediasi pertama itu PUPR.

“Ini hasil dari warga Rowosari semuanya tetap menolak ndak pengen tahu dari mana dari kita tetap menolak tapi hasilnya kok gak bisa atau nggak ada, kita ada gelombang yang akan lebih besar lagi. Kami tidak akan membiarkan salah satu aliran tertentu berkembang di wilayah Rowosari,” tegas Boma.

Sementara itu Kades Rowosari Luqman Zakaria mengatakan bahwa ini memang dipicu yang bersangkutan selaku pemilik proyek pembangunan tempat ibadah tersebut, tidak ada sosialisasi baik terhadap lingkungan maupun, kordinasi kepada pemerintah desa, hanya mengurus surat-surat awal saja, hanya menyampaikan surat keterangan bahwa tanah tersebut tidak bermasalah, terkait rencana pembangunan tidak terkonfirmasi ke pemerintah desa yang bersangkutan tidak ada sosialisasi, langsung saja melakukan pembangunan masjid tersebut.

“Padahal ada surat-surat yang harus dipenuhi kemudian kalau memang itu dibuat rumah ibadah itu ada aturannya masing-masing sesuai aturan menteri, serta ijin lingkungan setempat ada apa tidak. Kemudian pada perjalanan selanjutnya ada gejolak di masyarakat dulu tahun 2020 sudah ada mediasi, akhir tahun beberapa kali yang bersangkutan kami penggil untuk mediasi dan yang bersangkutan tidak datang,” kata Luqman.

Camat Rowosari Edi Cahyono mengatakan bahwa sebetulnya pemerintah sudah melakukan langkah-langkah dan melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat.

“Intinya semuanya itu bisa mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan, dengan melakukan lebih banyak toleransi kita tidak perlu menggunakan kekerasan tapi dengan kekeluargaan InshaAllah masalah ini segera bisa terselesaikan,” pungkasnya.

Reporter: Nardi

Editor: Nela

REKOMENDASI UNTUK ANDA