oleh

Dianggap Menohok Soal Siswi Tak Lulus Karena TikTok, Kemenag Menanggapi Santai

SAMPANG Bratapos.com. Dampak dari keputusan sekolah Madrasah Aliyah Tarbiyatul Aulad, Desa Tebanah, kecamatan Banyuates, kabupaten Sampang untuk tidak meluluskan tiga siswi yakni Elvisa Helena Dasilva,
Ernawati dan Sofiyanti gegara tiktok, menjadikan salah satu dari tiga siswi tersebut depresi dan tidak mau lagi masuk sekolah.

Pastinya kedua orang tua kecewa minimal sekolah memberikan toleransi. Karena masa anak berakhir sekolah bukanlah pesimis, akan tetapi harus optimis bahwa segala perilaku itu bisa diubah, dan penganggapan rumor yang beredar kurang pemahaman kepada siswa/siswinya.

Dalam pemberitaan sebelumnya Sri Wahyuni wali murid dari Helena mengatakan, jika bicara keaktifan, sekarang masa dimana Covid 19 lagi genting gentingnya. Dalam peraturan kita juga menjaga adanya penyebaran Covid tersebut, hanya sekolah ini yang tidak meluluskan muridnya, katanya.

Dirasa kejadian ini masih belum bisa diterima oleh wali murid dari tiga siswi tersebut. Awak media mencoba untuk konfirmasi kemenag Sampang.

Kementerian Agama (Kemenag) Sampang memberikan tanggapan terkait dengan 3 siswi kelas XII Madrasah Aliyah Tuhfatul Aulad yang tidak lulus setelah membuat video joget TikTok. Kemenag menyebut kebijakan yang diambil sekolah bertujuan untuk membina siswa tersebut.

Kasi Pendma Kemenag Sampang Mawardi mengaku, pihaknya sudah mendengar informasi tersebut. Dan pihak sekolah juga sudah berkoordinasi dengan Kemenag.

“Pihak sekolah sudah konfirmasi terkait masalah itu, katanya itu untuk pembinaan, terpenting mereka tidak sampai dikeluarkan dari sekolah,” ucap Mawardi, Selasa (08/06/2021).

“Dalam hal ini kita hanya bisa memberikan pandangan saja kenapa sekolah mengambil kebijakan seperti itu. Keputusan penundaan kelulusan adalah untuk pembinaan terhadap tiga siswi itu,” katanya.

Sebelumnya sekolah sudah beberapa kali memberikan teguran dan pembinaan kepada ketiga siswi tersebut. Pemanggilan orang tua juga sudah dilakukan. Namun mereka tetap tidak perubahan.

Mawardi menjelaskan, sistem penilaian pembelajaran dalam Kurikulum K13 itu ada tiga. Pertama yaitu penilaian kognitif, akademik dan afektif. Penilaian kognitif untuk mengukur penguasa dan pengetahuan peserta didik.

Penilaian akademik untuk menilai prestasi akademik siswa. Sedangkan penilaian afektif adalah penilaian yang berkaitan dengan sikap yang mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap dan emosi siswa atau peserta didik.

“Penilaian yang paling ditekankan dalam Kurikulum 13 (K3) adalah penilaian afeksi. Nilai kognitifnya bagus, akademiknya juga bagus. Tapi nilai afeksinya tidak bagus, itu sangat berpengaruh terhadap kelulusan siswa,” pungkasnya.

Pewarta: Riyan
Publish: Jamal

REKOMENDASI UNTUK ANDA