oleh

Brigjen Burlian, Cerdas Dan Merakyat

Sumsel, Bratapos.com – DALAM protokol kemiliteran, belum ada seorang jenderal berbincang akrab dengan prajurit berpangkat rendah. Namun kerendahan hati jenderal ini sangat dikagumi masyarakat. Siapa dia?

Meski sibuk dengan tugas-tugas kemiliteran sebagai prajurit di Jakarta, namun Brigjen TNI Drs Burlian Syafei Matjan selalu menyempatkan diri datang ke desa leluhurnya, Desa Sungai Sodong Kecamatan Mesuji, Sumatera Selatan.

Ada apa kehadiran jenderal berbintang satu yang mernjabat Direktur Pusat Informasi Teritorial Pusterad itu?

Menurut tokoh pemuda Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Chichan S MSi, Brigjen Drs Burlian Syafei Matjan, setiap tahun selalu melakukan ziarah kubur ke makam leluhurnya.

“Sesibuk apa pun tugas Pak Berlian, beliau selalu datang ke Desa Sungai Sodong untuk melakukan ziarah kubur ke makam leluhurnya. Ini sikap rendah hati yang sangat kami kagumi,” ujar Chichan kepada wartawan media ini, Jumat (22/1/2021).

Sebagai “Guru Besar” di Tentara Nasional Indonesia (TNI), kata Chichan, sikap rendah hatinya menarik perhatian masyarakat Sumsel. “Dia tidak segan-segan berbincang dengan rakyat jelata yang ia temui di lapangan. Pokoknya, sebagai seorang jenderal, beliau tidak eksklusif,” ujar Chichan.

Sementara itu, terkait kehadiarannya setiap tahun ke Desa Sungai Sodong, pada Sabtu lalu (16/1/2021), Brigjen Burlian selalu menyempatkan diri untuk ziarah ke makam Puyang Bathin Guru. “Puyang Bathin Guru merupakan hulu balang Sultan Mahmud Badaruddin II,” ujar Burlian.

Menurut Burlian kepada kedia ini, selain ziarah ke makam leluhur, ia juga ingin mengenang masa kelahirannya yang penuh suka dan duka.

Dari nilai terbawah itulah Burlian menyadari asal-muasal kehidupannya. Menurut Burlian, apa yang sudah diraihnya saat ini, berkat doa restu keluarga dan warga Desa Sungai Sodong.

Brigjen Burlian berpesan kepada masyarakat agar tetap menjalin kebersamaan. “Hindari pertikaian antarkita. Sebab perbedaan di antara kita adalah kekayaan tradisi yang patut kita syukuri,” katanya.

Sesungguhnya, kata Burlian, tiap warga tidak ada perbedaan. Yang membedakan hanya busana atau baju seragam. “Coba, jika saya buka seragam ini, maka kita adalah satu jiwa dan sepenanggungan,” ujarnya.

Kedekatan emosi antara warga dengan Brigjen Burlian begitu padu. Sebagai Dosen Madya di sekolah staf dan komando TNI AD, uraian visi misi kehidupan yang ia sampaikan, menyentuh nilai kemanusiaan.

Visi kehidupan manusia, katanya, selamat dunia dan akhirat. Sedangkan visi kehidupan adalah melaksanakan tugas yang amanah, jujur dan benar. Semua itu meliputi kebenaran bagi diri sendiri, orangtua, keluarga, pekerjaan, serta hubungan antarmanusia dan alam sekitar kita.

“Apabila semua itu dilakukan sesuai misi, Insya Allah kita akan selamat dunia akhirat,” ujar Brigjen Burlian yang berdomisili di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Selama berada di Desa Pematang Panggang Kecamatan Mesuji OKI tersebut, Brigjen Burlian disambut Komandan Daerah Militer (Dandim) OKI dan Ogan Ilir, Letkol Zamroni SSos dan Komadan Resimen Milier (Danramil), Lettu Muslihin.

Brigjen Burlian yang lahir pada 9 November 1966 itu singgah ke rumah keluarganya, rumah Ali Hanafiah yang akrab dipanggil Tutul.

Herman (42), warga Desa Sungai Sodong, mengatakan bahwa Brigjen Burlian memiliki jiwa kerakyatan yang sangat tinggi. “Perhatiannya kepada warga sangat saya hargai. Pemimpin seperti ini sangat kita harapkan. Beliau tidak segan-segan mengajak bicara tentang aktivitas kami sehari-hari. Padahal beliau adalah seorang jenderal,” kata Herman.

Reporter : Karman

Publisher : dimas

REKOMENDASI UNTUK ANDA