oleh

Sudah Disuntik Rp. 3 M, Pabrik Air Kemasan Ternyata Belum Dibangun

DEMAK, Bratapos.com – Komisi B DPRD Demak marah. Gara-garanya, saat sidak ke lokasi sasaran di Desa Jatirogo, Kecamatan Bonang kemarin, mereka tidak menemukan bangunan pabrik air kemasan. Sebagaimana yang pernah diajukan PT Anwusa (Aneka Wira Usaha), yakni unit usaha air minum dalam kemasan.

Sebelumnya, salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di lingkungan Pemkab Demak itu mengajukan anggaran penyertaan modal sebesar Rp. 3 miliar dalam APBD Perubahan 2020. Dana pemerintah itu sedianya akan dipakai untuk membangun pabrik air kemasan Dmax. Namun, kenyataannya di lapangan belum ada bangunan pabrik sebagaimana yang diusulkan sebelumnya.

Ketua Komisi B DPRD Demak Mukti Kholil mengungkapkan, kekecewaannya saat rapat mendadak bersama jajaran PT Anwusa di ruang Komisi kemarin. Rapat itu digelar usai sidak lapangan.

“Saya kira ini sangat memalukan. Seingat saya, anggaran Rp. 3 miliar penyertaan modal itu untuk membangun pabrik dan perlengkapan mesinisasi. Tapi, ternyata tidak ada pabrik air kemasannya. Juga tidak ada mesin. Terus terang kami kecewa,” ungkap Mukti Kholil diamini anggota Komisi B lainnya.

Meski belum ada pabriknya, namun launching air kemasan yang dikerjasamakan dengan pihak lain telah dilakukan. “Hari ini, kami kunjungan dalam daerah. Kami lihat ke lokasi pabrik air kemasan dengan penyertaan modal Rp. 3 miliar. Ternyata, tidak ada pabriknya. Kami sudah dukung sepenuhnya. Tapi melihat kenyataan ini jadinya kecewa. Ya memalukan,” ujar Mukti dari Fraksi Gerindra didampingi anggota Komisi B, Saiful Hadi, Fathan, Sudarno, Mansur, Abu Said, dan anggota lainnya.

Awalnya, kata Mukti, dirinya dan anggota Komisi B lain secara umum bangga dengan terobosan PT Anwusa yang berani membuat air kemasan tersebut. Sebab, setidaknya dapat menambah pendapatan asli daerah (PAD). Namun, kenyataannya tidak demikian.

Senada disampaikan Sekretaris Komisi B, Saiful Hadi. “Secara pribadi, saya bangga. Sebab, saat pandemi Covid-19 seperti ini membuat usaha air kemasan. Bisa untuk pemasukan PAD. Tapi, saat sidak ternyata tidak ada pabriknya. Lha uang Rp. 3 miliar untuk bangun pabrik itu kemana? Harus ada output-nya,” kata Saiful dari Fraksi PDIP ini.

Anggota Komisi B, Fathan dan Sudarno juga mempertanyakan pengajuan angka Rp. 3 miliar yang kemudian dalam perjalanannya tidak bisa dijalankan untuk bangun pabrik. “Sampai berani mengajukan Rp. 3 miliar itu bagaimana. Dewan komisaris bagaimana bisa mensikapi hal ini,” tanya Fathan dalam rapat dengan jajaran Anwusa.

Menjawab berbagai pertanyaan itu, Direktur PT Anwusa, Bambang Andoko menyampaikan, meski sudah dianggarkan Rp. 3 miliar, namun dalam perjalanan belum mungkin mendirikan pabrik. “Dana tidak cukup. Perlu dana besar,” katanya.

Apa yang disampaikan Bambang tersebut langsung dibantah Ketua Komisi B, Mukti Kholil. “Sejak awal sudah kami tanyakan dana sebesar itu sudah cukup atau tidak. Jawabnya sudah cukup. Ini bagaimana,” ujar Mukti.

Bambang melanjutkan, saat berkomunikasi dengan komisaris, usaha air kemasan tersebut bisa dimulai dengan perjanjian bisnis joint venture dengan cara belajar dulu ke pabrik lain. “Kami sudah melakukan studi awal. Tapi, belum punya SDM yang cukup. Untuk bangun pabrik, komponennya banyak sekali tidak hanya mesin, tapi harus ada air. Sedangkan, air di Demak tidak layak (produk),” kilah Bambang didampingi Kabag Perekonomian Edi Suntoro dan stafnya Slamet Karyono.

Menurut Bambang, uang penyertaan modal Rp. 3 miliar baru dipakai sebesar Rp. 650 juta. “Uang itu kami gunakan untuk uang muka dalam kerjasama dengan pihak lain. Ada joint logo dan kontrak tiga tahun dengan mendapatkan produk selama tiga tahun dengan jumlah yang ditentukan,” papar Bambang.

Reporter: Safik
Editor: Arta
Publisher: Ariefin

REKOMENDASI UNTUK ANDA