oleh

Diduga Pangkalan LPG Di Kecamatan Cibitung Jual Tabung Bersubsidi Tak Sesuai Kontrak

Last updated: Rabu, 13 Januari 2021, 21:22 WIB

PANDEGLANG, Bratapos.com- Tampaknya Program Subsidi untuk Tabung Melon atau Tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) ukuran 3 Kilogram di Kecamatan Cibitung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten tidak bisa dirasakan oleh masyarakat seutuhnya. Pemicunya diduga diakibatkan oleh pihak yang menandatangani kontrak, yakni pihak Pangkalan. Akibatnya menyebabkan kelangkaan dan harga jualnya pun melebihi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tertuang di dalam surat Keputusan Bupati Pandeglang Nomor. 542/Kep.798-HUK/2014.

Menurut, Jajang selaku warga setempat menjelaskan kepada awak media, bahwa langkanya tabung LPG bersubsidi di wilayah Kecamatan Cibitung diduga kuat ditenggarai oleh Sub Agen (Pangkalan) yang telah menunjuk anak pangkalan sebagai penjual di masing-masing Desa.

Ironisnya pendistribusian yang dilakukan oleh anak Pangkalan di Kecamatan Cibitung tidak sesuai dengan kontrak yang sudah disepakati oleh antar pihak pengusaha yakni Agen dan Pangkalan sehingga terjadi kelangkaan dan mahalnya harga jual tabung.

Menurut salah seorang anak pangkalan menjelaskan, bahwa pihaknya hanya sebatas penjual yang tidak dibarengi dengan SK Bupati Pandeglang. Sebab atas nama dari pemilik pangkalan di kecamatan Cibitung di Tiga desa tersebut bukan merupakan warga di sini.

Sambungnya, Pangkalan elpiji bersubsidi di Kecamatan Cibitung di Tiga desa di antaranya, Desa Malangnengah, Desa Manglid, dan Desa Sindangkerta Kecamatan Cibitung telah memiliki Kouta sebanyak 3.360 Tabung dalam setiap bulannya.

Namun kata Dia, tabung yang dikirim oleh Pangkalan ketiga Desa ini hanya 400 tabung, oleh sebab itu satu yang menyebabkan kelangkaan di Kecamatan Cibitung.

“Saya sebagai anak Pangkalan jelas tidak memiliki kebijakan secara penuh mengenai Harga, sebab harga yang Saya terima dari Pangkalan seharga Rp. 20.000,- dengan Kouta yang sedikit, yakni 400 tabung selama sebulan, padahal Kouta di Tiga Desa sebanyak 3.360 tabung.” Jelasnya.

Sementara itu, menurut Katmi selaku Pemilik Pangkalan Elpiji di Tiga Desa yang berada di bawah naungan Agen PT. Yasri Citra Prameswari saat dikonfirmasi mengamini bahwa Pangkalan di tiga desa tersebut merupakan miliknya.

Katmi menjelaskan bahwa pihaknya berdalih sudah sesuai dengan kontrak yang ada, sebab menurutnya bahwa pendistribusian itu diatur dalam persentase.

“Tiga Pangkalan itu merupakan milik Saya, yaitu Desa Sindangkerta, Desa Manglid dan Desa Malangnengah sebanyak 1.120 per desa dalam setiap bulannya. Jadi setiap minggunya Saya mengirimkan kepada Pak Tedi hanya 60 persen dari Kouta Kontrak Saya dengan PT, sesuai KTP di Desa tersebut atau sebanyak 500 – 560 tabung per bulan untuk tiga desa. Dan sisanya Saya kampas sendiri.” Terangnya.

Selain itu, Katmi mengamini bahwa penjualan yang dikirim kepada Tedi selaku salah seorang anak Pangkalan yang di rumahnya di pampang oleh plang pangkalan seharga Rp. 19 ribu sampai Rp. 20 ribu per tabung sesuai dengan foto kopi KTP yang diserahkan kepada dirinya. Alasan dirinya menjual harga ke Tedi melebihi Harga Eceran Tertinggi diakibatkan mobilisasi.

“Mobilisasi ke wilayah kecamatan Cibitung itu lumayan cukup besar transportasinya, lantaran jalannya rusak. Saya itu menerima Harga dari PT. YCP Rp. 15.200 jadi saya harus jual Rp. 19. 000- Rp. 20.000 per tabung baru memiliki keuntungan, supir sama kondek sudah Rp. 260.000 dan biaya kerusakan Mobil Saya Rp. 150.000, atau dalam satu pengiriman menghabiskan dana Rp. 600.000, sehingga saya menyisakan 80 tabung untuk hal itu,” terang panjang lebar melalui pesan chat voice note kepada awak media Rabu. (13/1/21).

Sambung Katmi, bahwa dirinya mendapatkan Tabung Subsidi dari PT. Yasri Citra Prameswari dengan harga Rp. 15.200, padahal lokasi Kecamatan Cibitung itu jauh akan tetapi saya tetap menjual murah kepada Pak Tedi dengan harga Rp. 20.000 per tabung.

Ketika ada permasalahan seperti ini, sebetulnya disebabkan oleh waktu dulu pada saat tsunami, karena pada saat tsunami itu tabung elpiji bersubsidi mengalami banjir, akan tetapi Tedi enggan mengampaskan tabung milik Saya, yang padahal tabung tersebut untuk Kouta Kecamatan Cibitung.

“Pada saat tsunami Tedi malah menganpaskan Tabung dari PT. Mahkota, bukan Tabung dari Saya. Padahal Tabung Saya itu koutanya alamat Cibitung, di telepon gak dijawab sehingga Saya mencari seseorang di wilayah kecamatan lain yaitu kecamatan Cibaliung bernama Armanah, hingga sekarang dia tersebut masih menjual Tabung dari Pangkalan Saya sebanyak 40 Tabung per minggu,” akunya.

Lanjut, ketika ditanya mengenai Armada dari pihak Agen atau PT. YCP, Katmi belum memberikan tanggapan. Untuk diketahui bahwa Tabung elpiji bersubsidi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk konsumen di wilayah tersebut adalah Rp. 16.700,- per tabung.

Penulis: Hd.

Publish : SL

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

REKOMENDASI UNTUK ANDA