oleh

Keberhasilan Bumdesma Pati Jadi Percontohan Nasional

PATI, Bratapos.com – Sebagai badan usaha yang dimiliki oleh desa, tentu saja BUMDes diharapkan bisa ikut mengambil peran dalam kegiatan ekonomi di sebuah desa. Demikian juga yang dilakukan oleh BUMDes di Kabupaten Pati. Walaupun belum semua BUMDes berjalan secara optimal, tetapi ada 159 BUMDes yang bersedia bekerja sama menjadi BUMDesma dan membentuk sebuah perusahaan.

Menurut Sukamad, ketua PERBUMI (Persatuan BUMDes Pati), BUMDes-BUMDes ini kemudian bergabung menjadi BUMDesma (Badan Usaha Milik Desa Bersama) yang diberi nama BUMDesma Mandiri Sejahtera Pati dan mendirikan sebuah PT untuk melegalkan badan usaha mereka sehingga lebih fleksibel untuk bergerak di bidang bisnis karena biasanya orang atau perusahaan lebih percaya dan memilih untuk bekerja sama dengan lembaga atau badan usaha yang legal (memiliki badan hukum). “Walaupun kami dari tingkat desa, tapi kami juga ingin bisa bersaing dengan pihak swasta di bidang bisnis, “jelas Sukamad di Kantornya.

Memiliki Empat Sektor Usaha
Dengan bendera PT MBSP (Maju Berdikari Sejahtera Pati) BUMDes mengembangkan beberapa usaha diantaranya BUMDes Co-working Space yang saat ini sudah berjalan dan BUMDes Box yang akan diperkenalkan kepada masyarakat pada awal September ini. Belum banyak yang tahu bahwa BUMDesma Pati sebenarnya sudah memiliki empat sektor usaha yaitu kesehatan, bahan baku pangan, infrastruktur dan pertanian.

Di sektor kesehatan BUMDesma memiliki 5 Klinik Pratama yang berada di Kecamatan Pati, Kecamatan Tlogowungu, Kecamatan Trangkil, Kecamatan Wedarijaksa dan Kecamatan Margoyoso. Dan dalam waktu dekat akan segera ada pula di Kecamatan Dukuhseti. Setiap klinik dilayani oleh 1 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 3 orang perawat, 2 orang bidan dan 1 orang tenaga administrasi. Sugeng Raharjo selaku Manager Pemasaran Klinik menjelaskan lebih lanjut, “Sebenarnya Klinik Pratama ini sudah berjalan hampir satu setengah tahun. Sampai saat ini kami sudah mempunyai 14 orang dokter dan 20an perawat serta bidan untuk melayani pasien.”

Pada sektor bahan baku pangan BUMDesma ingin mengangkat produk asli Pati agar lebih dikenal masyarakat. Karena Kabupaten Pati adalah penghasil ikan bandeng terbesar, BUMDesma berinovasi dengan membuat bandeng kaleng. Selain untuk mempopulerkan ikan bandeng yang notabene adalah mina unggulan kota Pati, BUMDesma juga bertujuan membantu perekonomian para petani tambak.

Seluruh bahan utama bandeng kaleng ini 100% dari Pati, tetapi pengemasannya dilakukan oleh PT Risquna Dewaksara, sebuah pabrik pengalengan di Yogyakarta yang sudah bekerja sama dan menandatangani MoU dengan BUMDesma karena di Pati sendiri belum ada pabrik khusus untuk pengalengan. Bandeng kaleng dengan merk ‘Oenak’ ini juga sudah mengantongi izin dari BPOM dan Sertifikat Halal MUI.

Untuk bidang infrastruktur, BUMDesma bekerjasama dan mempunyai kontrak dengan sebuah perusahaan BUMN pusat yaitu PT MBN (Mitra BUMDes Nusantara) untuk pekerjaan cor beton (perbaikan) jalan-jalan yang rusak. Hal ini sudah berjalan kurang lebih 1 tahun dan bahkan sudah memberikan keuntungan bagi BUMDesma.

Dalam sektor pertanian BUMDesma dipercaya oleh Paguyuban BUMDes Jawa Tengah untuk penanaman ubi jalar di daerah yang berada di ketinggian 300mdpl (meter dari permukaan laut) dengan target seluas total 6000 hektar yang berlokasi di 22 kabupaten yang tersebar hampir di seluruh Jawa Tengah. Pertanian ini adalah bidang usaha terbaru yang digeluti oleh BUMDesma dan baru berjalan 1 bulan. Dalam waktu 4 hingga 5 bulan ke depan akan panen. Dan dengan kerja sama BUMDes di 22 kabupaten, hasil panen dari para petani tersebut akan dibawa ke pabrik di Cirebon yang sudah memiliki MoU dengan BUMDesma, dengan fixed cost Rp.2000,00/kilogram untuk kemudian diekspor ke Jepang dan Korea.

Sebagai Pemasok BSNT
Menjalankan sebuah usaha tentu saja bukanlah hal yang mudah, pasti akan ada cobaan untuk menguji ketangguhan produk maupun orang-orang yang ada di belakangnya. Demikian juga yang dialami BUMDesma dalam sektor bahan baku pangan, dalam hal ini inovasi bandeng kaleng. Saat ini BUMDesma dipercaya untuk menjadi pemasok kebutuhan BSNT (Bantuan Sosial Non Tunai), yang diberikan kepada penerima manfaat yang tersebar di seluruh desa di Kabupaten Pati.

Dalam wawancara dengan tim Bratapos, Reza Adiswasono selaku Direktur PT MBSP memaparkan, “Sebenarnya pada saat awal kami merujuk pada sarden kaleng, lalu muncul ide untuk menggunakan ikan bandeng karena ikan bandeng adalah produk andalan Pati. Kami ingin menggunakan bahan lokal untuk memenuhi pasokan BSNT. Disamping itu secara kualitas bandeng berada di atas sarden, harganya juga lebih mahal dan bahkan nilai gizinya pun berada jauh di atas sarden. Setelah melakukan diskusi dengan berbagai pihak termasuk teman-teman bumdes dan juga pengusaha, kami memberanikan diri untuk membuat bandeng kaleng ‘Oenak’ ini.”

Badai Di Awal Perjalanan
Dalam penyaluran pertama, ada 17.000 bandeng kaleng yang didistribusikan kepada 17 BUMDes di Pati. Tetapi ternyata ada beberapa yang rusak. “Kami mendapatkan laporan bahwa di Kecamatan Batangan ada kaleng yang rusak. Kami langsung turun ke lapangan untuk mengecek, dan memang kami temukan beberapa yang sudah terbuka, kalau istilah masyarakat di sana ‘meledak’. Kami langsung menggantinya dengan yang baru dan juga meninggalkan beberapa bandeng kaleng untuk berjaga-jaga jika nanti ada ditemukan yang rusak, dan waktu itu kami juga didampingi oleh Kepala Desa, Bapak Camat juga pihak kepolisian. Kemudian saat itu juga kami langsung berkeliling untuk melihat apakah ada yang rusak lagi, dan ternyata tidak ada.” Jelas Reza.

Sebenarnya jika kemasan rusak, pabrik pengemasan lah yang harus bertanggung jawab. Dan hal itu juga sudah dilakukan oleh pihak pabrik yang setelah mendapat laporan tentang kaleng yang rusak, keesokan paginya langsung datang ke Pati untuk meminta maaf, melakukan jumpa pers dan mengganti dengan produk yang baru. Reza sendiri juga meminta maaf atas kejadian tersebut, dia menambahkan bahwa karena bandeng kaleng ini masih termasuk produk yang benar-benar baru jadi memang masih belum maksimal dan belum sempurna.

Memang ada 6 kaleng yang rusak dan ada beberapa kaleng yang tanggal produksi dan kadaluarsanya ditulis tangan, tetapi pihak pabrik sudah mengakui bahwa hal itu sepenuhnya kesalahan mereka karena harus memenuhi permintaan dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. Pihak pabrik juga telah menjelaskan, meskipun kode hanya ditulis tangan tetapi isinya tetap sama dengan kaleng yang kode produksi dan kadaluarsanya tercetak dan isinya tetap layak konsumsi.

“Walaupun dari 17.000 kaleng hanya ada 6 yang rusak, tetap saja peristiwa ini menjadi evaluasi bagi kami untuk melakukan riset lebih mendalam lagi agar bisa menjadikan produk bandeng kaleng ini bisa lebih baik lagi ke depannya. Dan tentu saja saya dan teman-teman BUMDesma tidak akan menyerah karena mimpi idealis kami adalah mendorong produk lokal untuk ikut berperan dalam kegiatan perekonomian Indonesia bahkan global yang pada akhirnya berarti kami bisa mengangkat perekonomian para petani, petambak maupun penggiat ekonomi kecil lainnya yang ada di desa.” pungkas Reza.

Satu-satunya BUMDes Berbadan Hukum Yang Menjadi Percontohan
BUMDesma Pati adalah satu-satunya BUMDes di Indonesia yang berbadan hukum dan mampu menyatukan 159 BUMDes untuk membentuk sebuah PT yang bahkan memiliki beberapa sektor usaha. Hal ini merupakan pencapaian tersendiri bagi BUMDesma karena selama ini kebanyakan BUMDes berjalan sendiri-sendiri, bahkan sering kita dengar kalimat yang mengatakan bahwa ‘sebuah BUMDes bisa berjalan saja itu sudah bagus. Masyarakat skeptis bahwa BUMDes bisa menjalankan sebuah usaha yang bisa menghasilkan keuntungan untuk desa. Dengan berbagai sektor usaha dan dilandasi badan hukum, BUMDesma menjadi BUMDes percontohan. Banyak BUMDes maupun pengusaha dan instansi pemerintah dari kabupaten atau kota lain yang datang ke Pati untuk sekedar berdiskusi ataupun belajar tentang BUMDesma. BUMDesma saat ini sudah melakukan merger dengan PT MBN dan membentuk sebuah perusahaan baru yaitu PT MDP (Mitra Desa Pati). Banyak pihak yang mendukung dan menyambut baik usaha BUMDesma Pati dalam mengembangkan sayap usahanya, salah satunya Dwi Totok Hadi Prasetyo Kepala Desa Mintorahayu Kecamatan Winong, Pati yang sekaligus ketua PASOPATI (Paguyuban Solidaritas Kepala Desa Pati), “Semoga PT MBSP dan PT MDP ini bisa menjadi embrio pertumbuhan ekonomi di desa sekaligus menjadi induk perekonomian BUMDes-BUMDes yang ada di Pati agar menjadi lebih maju.” harapnya.

Untuk bisa menjalin kerja sama dengan sebuah BUMN dari pusat serta dipercaya oleh Paguyuban BUMDes Jawa Tengah untuk pengelolaan lahan dan penanaman ubi jalar bukanlah perkara gampang. Banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus dilalui, dan para rekanan BUMDesma tersebut mampu melihat perjuangan dan rekam jejak yang baik dari BUMDesma Pati. Walaupun ‘hanya’ Badan Usaha Milik Desa, BUMDesma mampu menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi pesaing bagi pebisnis lain baik dari kalangan pemerintah maupun swasta. Sebuah hal yang patut diapresiasi.

Reporter: Wi/Si
Editor/Publisher: Lut Arta

REKOMENDASI UNTUK ANDA