oleh

Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus Masa Pandemi Covid-19

KUDUS, Bratapos.com – Buka Luwur merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa untuk mengganti luwur atau kain putih penutup makam leluhur sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.

Setiap tanggal 10 Muharram atau biasa orang menyebut 10 Syuro, masyarakat khususnya Umat Islam di Kabupaten Kudus Jawa Tengah, memperingatinya dengan doa bersama pergantian kain penutup makam atau biasa disebut “Buka Luwur” Kanjeng Sunan Kudus yang mempunyai nama asli Sayyid Ja’far Shodiq.

Dalam kondisi normal sebelum adanya wabah Covid-19, pelaksanaan buka luwur biasanya akan dihadiri ratusan ribu orang dari berbagai pelosok penjuru bahkan dari luar Jawa. Disamping untuk berziarah dan doa bersama juga ngalap berkah buka luwur sampai rela mengantri berdesak-desakan menunggu pembagian kain luwur dan nasi bungkus yang dibungkus dengan daun jati atau biasa disebut nasi jangkrik.

Namun, suasana tersebut berubah total di masa pandemi ini, Panitia Buka Luwur Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) memperingati Buka Luwur dengan protokol kesehatan ketat, diantaranya pembagian nasi bungkus atau nasi jangkrik yang biasanya dibagikan dengan mengantri dilingkungan Masjid dan Makam Sunan Kudus tidak diadakan, namun diberikan dengan cara dibagikan secara langsung untuk menghindari kerumunan masa.

Menurut Himma (19 tahun) salah satu peziarah asal Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo Kudus menuturkan bahwa pelaksanaan Buka Luwur tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya pada pelaksanaan Buka Luwur banyak orang-orang peziarah datang, namun kali ini karena adanya Covid-19 suasananya berkurang agak sepi”, ujar Himma.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nor Said (50 tahun) salah satu penjual kaki lima wedang ronde yang sudah berjualan selama 10 tahun dilokasi Makam dan Masjid Menara Kudus. Ia mengeluhkan pendapatan yang menurun drastis semenjak adanya pandemi Corona.

“Kalau dulu sebelum adanya Corona biasanya saya bisa berjualan mendapatkan hasil 200 sampai 300 ribu, namun disaat pandemi ini saya hanya bisa mendapat uang sekitar 50 ribuan saja, tapi bagiamana ya tetap saya bersyukur Al-hamdulillah,” kata Nor Said.

Ia berharap “semoga dengan keberkahan malam Buka Luwur kanjeng Sunan Kudus, pandemi Covid-19 ini akan segera berakhir dan peziarah akan kembali ramai seperti semula sehingga nasib penjual yang menggantungkan hidup dilingkungan Kanjeng Sunan Kudus dapat seperti sedia kala”, pungkasnya.

Reporter: Sugiyanto-Faizin

Editor: Arta Publisher: Ariefin

REKOMENDASI UNTUK ANDA