oleh

LSM Gerbang Indonesia, Adukan Oknum Staf Samsat Dan Carik Ke Polres Malang

MALANG, BrataPos.com – Sungguh malang nasib yang menimpa pasangan suami istri (pasutri) yakni Nuriman dan Sumiani (52) warga Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Pasalnya, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Betapa tidak, suaminya yang berurusan dengan hukum pada tahun 2019 atas pidana penganiayaan yang menyebabkan korban Suwarsono/Paiso warga Desa Trenyang, Kecamatan Sumberpucung hingga meninggal dunia, istri malah diperes dengan dalih pengurusan suaminya.

Pada saat menjalani proses penyidikan dan pemeriksaan di Polres Malang, bahkan hingga proses di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen atas tindakan melawan hukum yang dilakukan suaminya. Tidak ada hujan dan angin, tiba-tiba didatangi oleh dua orang di rumahnya yang sudah dikenal yaitu Ribut dan Andik.

“Kedua orang tersebut mendatangi rumah saya dengan maksud dan tujuan membantu mengurus proses hukum yang dialami suami saya,” jelas Sumiani yang sempat mengeluarkan air mata.

Menurut Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerbang Indonesia yang diberi mandat untuk monitoring atas perkara dugaan penipuan dan penggelapan yang mengakibatkan kerugian matreil dan inmatreil terhadap korban, atas nama Sumiani sebagai pemberi kuasa berdasarkan penerimaan pengaduan menjelaskan kronologi kepada bratapos.com atas perkara dugaan penipuan dan penggelapan yang diduga dilakukan oleh Ribut pegawai staf samsat Talangagung warga desa Cempokomulyo, dan Andik Sekretaris Desa Trenyang.

“Ribut dan Andik mendatangi rumah Sumiani dengan maksud dan tujuan membantu mengurus proses hukum Nuriman (suami Sumiani) dengan ketentuan harus menggeluarkan biaya dengan alasan tidak jelas,” terang Muhamad Muslikh ketua umum LSM Gerbang Indonesia. Senin (10/08/2020) siang.

Berawal pada tanggal 21 Agustus 2019 Sumiani (istri Nuriman) didatangi Ribut ke rumahnya. Tiba-tiba meminta sejumlah uang Rp.10.000.000 (sepuluh juta rupiah). Ribut beralasan uang tersebut untuk biaya visum korban. Kemudian uang tersebut diserahkan dan telah diterima oleh Ribut dari Sumiani sesuai jumlah yang diminta.

Selanjutnya pada tanggal 22 Agustus 2019 sekitar jam 09.30 pagi, Ribut datang lagi ke rumah Sumiani untuk kembali meminta sejumlah Rp.40.000.000 (empat puluh juta rupiah) dengan alasan untuk biaya penggunaan jasa pembela hukum (Pengacara) dan diberikan kepada Ribut dari Sumiani di rumahnya.

“Kenyataanya selama menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Nuriman (Suami Sumiani) tidak didampingi pembela hukum (Pengacara) sesuai yang telah dijanjikan Ribut,” ujarnya.

Pada tanggal 23 Agustus 2019 Ribut kembali datang ke rumah Sumiani meminta uang sejumlah Rp.5.000.000 (Lima juta rupiah) dengan alasan untuk menjaga tahanan Nuriman di polres Kepanjen dan disaksikan oleh kedua anak Sumiani saat dana tersebut diterima oleh Ribut dari Sumiani.

Kemudian datang ke rumah Sumiani, Hendra warga desa Trenyang, Kecamatan Sumberpucung tanggal 23 Agustus 2019 menerangkan bahwa dia (Hendra) disuruh oleh Ribut untuk kembali meminta uang kepada Sumiani sejumlah Rp.4.000.000 (empat juta rupiah) dengan alasan untuk biaya operasional Polsek Sumberpucung dan disaksikan oleh kedua anak Sumiani pada saat Hendra menerima penyerahan uang tersebut dari Sumiani di rumahnya.

Untuk kesekian kalinya Ribut datang lagi ke rumah Sumiani untuk meminta uang sejumlah Rp.10.000.000 (sepuluh juta rupiah) pada tanggal 26 Agustus dan 29 Agustus 2019 sejumlah Rp.10.000.000 (sepuluh juta rupiah) total sejumlah Rp.20.000.000 (dua puluh juta rupiah) dengan alasan untuk penggantian 2 amunisi agar tidak ditembakan oleh Kepolisian Polres Kepanjen terhadap Nuriman (suaminya) dan dibayarkan kepada Ribut oleh Sumiani di rumahnya disaksikan kedua anaknya. 

Selanjutnya pada tanggal 10 September 2019 yang datang ke runah Sumiani adalah Andik selaku Carik/Sekdes Desa Trenyang atas untuk meminta uang sejumlah Rp.20.000.000 (dua puluh juta rupiah) dengan alasan untuk biaya operasional penyidik resmob Polres Malang.Dan Sumiani menyerahkan uang tersebut kepada Andik di rumahnya disaksikan oleh anak-anaknya.

Bahwa atas dugaan perbuatan modus Ribut, Andik dan Hendra terhadap Sumiani telah mengalami kerugian sekitar Rp.99.000.000 (sembilan puluh sembilan juta rupiah). Sumiani atas kejadian ini telah mengalami beban hidup lebih berat dan memprihatinkan baik materi dan non materi serta beban psikologis yang berat dimasyarakat,” terang Muhamad Muslikh ketua umum LSM Gerbang Indonesia kepada bratapos.com Senin (10/08/2020) siang.

Sulistyo Nugroho selaku anggota LSM Gerbang Indonesia pada saat klarifikasi perkara tersebut di kantor Desa Trenyang, Kecamatan Sumberpucung meminta Andik selaku Carik/sekdes Desa Trenyang untuk klarifikasi terkait dugaan penipuan dan penggelapan terhadap korban untuk dihadirkan di ruang diskusi yang difasilitasi tempat oleh Didik Santoso di kantor Desa Trenyang. Senin(10/08/2020) siang.

“Mengingat Andik selaku Carik/Sekdes Desa Trenyang termasuk pejabat pemerintahan desa sangat di sayangkan apabila terlibat dalam perkara tersebut. Maka saya mohon di hadirkan untuk klarifikasi kebenarannya,” tambahnya.

Di ruang pertemuan tersebut, bertempat di Desa Trenyang dihadiri Didik Santoso Kepala Desa Trenyang, Sokeh selaku kepala (BPD), Muhamad Muslikh ketua umum LSM Gerbang Indonesia beserta anggota dan beberapa awak media, Kepala Desa Trenyang Didik Santoso mengatakan, surat pengaduan masyarakat yang dilayangkan oleh LSM Gerbang Indonesia yang diketuai oleh Muhamad Muslikh sudah saya terima mas.

“Pihak muspika juga sudah menerima, oleh karena itu setelah saya koordinasi dengan muspika kecamatan Sumberpucung dan disarankan untuk klarifikasi terhadap yang bersangkutan,” kata Didik selaku Kades Trenyang.

Sementara Sokeh selaku kepala (BPD) mengaku terkejut mendengar kabar dugaan penipuan dan penggelapan yang mencatut Andik selaku carik/sekdes Desa trenyang. “Saya terkejut mas mendengar kabar tersebut, maka dari itu monggo klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan,” terangnya.

Sementara di ruang pertemuan Andik selaku carik/sekdes Desa Trenyang menjelaskan atas apa yang dituduhkan terkait uang 20 juta yang diterima dari Sumiani kepadanya pada tanggal 10 September 2019. Waktu itu iya benar saya terima uang 20 juta dari Sumiani, akan tetapi itu semua permintaan Sumiani agar di bayarkan kepada Ribut yang meminta uang tersebut dan langsung saya berikan kepada ribut di rumahnya daerah Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen, dan setelah itu saya pulang ke rumah.

“Setelah uang 20 juta saya serahkan Ribut di rumahnya saya bergegas pulang, terkait uang tersebut sama sekali saya tidak menggunakanya untuk kepentingan pribadi atau pun komisi sepeserpun dari Ribut,” tambahnya. Senin(10/08/2020) siang.

Sulistio Nugrogroho selaku anggota LSM Gerbang Indonesia kepada bratapos.com mengatakan, bahwa surat pengaduan terkait dugaan penipuan dan penggelapan tersebut sudah dilayangkan ke Polres Malang sesuai dengan surat Nomor 13/1170/VII/2020 pada tanggal 7 Agustus 2020. Surat tersebut sudah diterima oleh Polres Malang pada tanggal 10 Agustus 2020.

“Para dugaan pelaku ini kami menuntut supaya segera ditindak lanjuti oleh Polres Malang, agar para dugaan pelaku ini tidak melakukan dikemudian hari lagi. Ini sudah jelas persekongkolan jahat yang merugiakan korban puluhan juta rupiah,” tegasnya. Selasa (11/8/2020).

Reporter : mur/zen
Publish : jml

REKOMENDASI UNTUK ANDA